59 Warga Diduga Keracunan Gas Hidrogen Sulfida, Walhi Sumut Minta Kementerian ESDM Evaluasi Izin

0
184

Kegiatan pengeboran panas bumi yang dilakukan oleh PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP) diperkirakan menyebabkan 59 warga di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumatera Utara) mengalami pusing dan muntah-muntah, pada hari Minggu. (6/3).

Puluhan orang diduga keracunan gas hidrogen sulfida dari kegiatan pengeboran oleh PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP) di well pad (tempat persiapan sumur) AAE Desa Sibanggor Julu. Kejadian yang berulang kali ini juga menuai kritik dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut.

Manajer Kajian dan Advokasi Walhi Sumut Putra Saptian mengatakan Kementerian ESDM harus segera mengevaluasi perizinan terkait kegiatan industri yang dilakukan PT SMGP.

“Apakah evaluasi itu dilakukan secara operasional atau fungsional,” katanya VOASenin (7/3) malam.

Bukan Insiden Pertama

Tragedi bocornya pipa gas hidrogen sulfida dari sumur bor yang dilakukan PT SMGP tentu harus menjadi catatan pengambil kebijakan. Pasalnya, keracunan gas hidrogen sulfida kali ini bukan yang pertama. Pada tahun 2021 kebocoran pipa gas hidrogen sulfida dari sumur pemboran PT SMGP juga memakan korban. Sayangnya, lima orang dilaporkan tewas akibat aktivitas industri PT SMGP tahun lalu.

“Itulah yang kami sampaikan bahwa pemerintah harus tanggap dengan apa yang terjadi. Apalagi kami melihat jarak antara pemukiman masyarakat dengan lokasi pengeboran panas bumi hanya 300 meter saja,” kata Putra.

Putra tetap mengatakan, pemerintah harus berani menindak PT SMGP jika nantinya terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dan mengabaikan izin prosedur operasi standar.

“Walhi Sumut juga menanyakan apakah terbukti pemerintah tidak segan-segan menutup perusahaan. Jika ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi korban di kemudian hari jika kelalaian dan kesalahan ini terus dipertahankan,” ujarnya. dikatakan.

Jumlah Insiden

Secara geografis, wilayah konsesi PT SMGP diketahui sangat dekat dengan kawasan Gunung Sorik Merapi di Kabupaten Mandailing Natal. Dari situ, PT SMGP memanfaatkan energi panas bumi di Gunung Sorik Merapi.

PT SMGP telah memperoleh izin dari Kementerian ESDM dengan wilayah kerja produksi seluas 62.900 hektar di 10 kecamatan dan berlokasi di 138 desa di Kabupaten Mandailing Natal. Perusahaan juga telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di beberapa desa.

Perusahaan yang diketahui telah berdiri sejak 2010, ini diharapkan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 240 Mega Watt.

Pada tahun 2021, Walhi Sumut sebenarnya meninjau kembali terjadinya kesalahan operasional yang menyebabkan kebocoran gas hidrogen sulfida pada sumur pemboran di PT SMGP. Peristiwa itu terjadi di Desa Sibanggor Julu dan menyebabkan sedikitnya 44 orang dirawat. Tak hanya itu, kejadian tersebut juga menyebabkan lima orang meninggal dunia akibat bocornya gas beracun tersebut.

Pada tahun 2016 masyarakat sempat menolak keberadaan PT SMGP karena dalam kegiatannya perusahaan tersebut dianggap membahayakan masyarakat sekitar. Kemudian, pada tahun 2018 juga ada dua anak yang meninggal karena masuk ke lubang bekas sumur bor PT SMGP yang tidak ditutup di Desa Sibanggor Jae.

Pekerja dari PT Pertamina Geothermal Energi (PT PGE) memutar katup saat sesi uji coba produksi di sumur panas bumi Karaha di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 19 April 2014. (Foto: Reuters/Beawiharta)

Walhi Sumut menilai kehadiran PT SMGP di Kabupaten Mandailing Natal banyak menimbulkan polemik dan juga permasalahan, terutama kecelakaan kerja, bencana ekologis, dan kesalahan operasional yang memakan banyak korban jiwa dan korban jiwa.

“Seharusnya PT SMGP mempertimbangkan dampak yang lebih besar yang akan terjadi jika perusahaan tetap mengabaikan dan melanggar izin operasional serta lalai dalam menjalankan kegiatannya,” pungkas Putra.

Wakil Bupati Mandailing Natal, Atika Azmi Utammi mengatakan 59 orang dilarikan ke rumah sakit setelah diduga keracunan gas hidrogen sulfida dari kegiatan pengeboran PT SMGP. Puluhan orang dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan dan Rumah Sakit Umum Permata Madina.

“Sampai pesan ini terkirim total 59 orang (yang dilarikan ke rumah sakit). Ada 36 yang sudah pulang. Sebanyak 23 masih dirawat dalam kondisi baik dan stabil,” kata Atika kepada VOASenin (7/3) sore.

Dugaan kebocoran terjadi pada Minggu (6/3) sekitar pukul 15.00 WIB saat PT SMGP melakukan uji sumur di well pad AAE, Desa Sibanggor Julu, Kec. Puncak Sorik Marapi. Kemudian asap dari sumur berupa hidrogen sulfida dari kegiatan ini mengarah ke pemukiman Banjar Manggis di Desa Sibanggor Julu yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi.

PT SMGP berdalih detektor tidak menunjukkan adanya gas hidrogen sulfida di sekitar lokasi kejadian. Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal masih menunggu hasil pemeriksaan dan uji laboratorium.

“Faktanya di lapangan banyak yang mengalami mual dan gangguan kesehatan. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dan laboratorium, apa sebenarnya penyebab kejadian kemarin,” kata Atika.

Atas kejadian ini, Pemkab Mandailing Natal meminta PT SMGP bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Di sini, kami berkomitmen bahwa perusahaan bersedia bertanggung jawab atas kelalaian mereka,” kata Atika.

Menyangkal Tidak Mengikuti Prosedur

Sementara itu, Juru Bicara PT SMGP, Nina Gultom, melalui keterangan tertulisnya kepada VOA mereka beralasan telah mengikuti prosedur operasi standar untuk memastikan kesehatan dan keselamatan masyarakat dan pekerja PT SMGP.

“Sebelum memulai pengujian sumur, kami melakukan sosialisasi dengan masyarakat sekitar menggunakan pengeras suara untuk mengumumkan rencana pengujian sumur. Untuk memastikan semua orang di daerah mengetahui kegiatan pengujian sumur,” katanya, Senin (7/3) malam.

Kemudian, usai sosialisasi, PT SMGP mengevakuasi seluruh personelnya. Mereka juga melakukan patroli dengan radius 300 meter sambil memantau perimeter dengan drone untuk menjamin kesehatan dan keselamatan semua. Selama kegiatan pengujian sumur, PT SMGP memantau arah angin dan level gas yang berasal dari sumur melalui multi-gas gas detector.

“Berdasarkan pengamanan dan pemantauan yang dilakukan, letak geografis Desa Sibanggor Julu dan fakta bahwa gas hidrogen sulfida lebih berat dari udara. Tidak ada indikasi atau bukti yang mendukung klaim paparan gas hidrogen sulfida dari sumur AAE-05 sebagai sudah dilaporkan,” ujarnya. [aa/em]