Dua Sarjana Perempuan Jalur Gaza Bertani Demi Mencari Nafkah

0
582

Bisan dan Fatma sama-sama lulus dan memperoleh gelar sarjana. Namun, angka pengangguran yang tinggi di Jalur Gaza merepotkan kedua sarjana tersebut mendapatkan order.

Ke dua perempuan itu, yang seorang meraih menyelenggarakan sarjana pendidikan Bahasa Arab, serta yang lainnya tamat dengan melangsungkan sarjana manajemen bisnis, menantang masyarakat di kawasan tersebut. Mereka mengambil keputusan untuk bertani, yang dianggap sebagai pekerjaan para pria dalam Gaza.

“Kami mengelola ladang pertanian untuk menambah penghasilan keluarga, ” kata Bisan, yang suaminya juga pengangguran.

Perempuan Palestina menyortir kurma yang baru dipanen di tengah pembatasan Covid-19, di Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah, 5 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Mohammed Salem)

Perempuan Palestina menyortir kurma yang baru dipanen di tengah pembatasan Covid-19, pada Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah, 5 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Mohammed Salem)

Mereka menggarap sepetak tanah di Khuza’a, sebuah tempat di bagian tenggara Jalur Gaza, dan menanam tanaman yang kerap diimpor ke Gaza melalui Israel.

Lahan seluas 3. 000 meter persegi itu, saat ini menjadi kebun brokoli yang subur, yang mulai ditanam baru-baru tersebut setelah musim tanam bit yang termasuk sukses.

“Pasca wabah virus, asosiasi mulai mencari makanan sehat dengan dapat dikonsumsi untuk membasmi virus dan penyakit. Jadi, ada permintaan untuk brokoli, ” kata Bisan.

Belum ada fakta bahwa brokoli dapat membasmi virus, namun sayuran hijau itu memiliki kadar antioksidan yang tinggi & dapat mengurangi peradangan.

Seorang perempuan Palestina sedang memetik strawberry. (Foto: Reuters)

Seorang perempuan Palestina sedang memetik strawberry. (Foto: Reuters)

Namun, perjalanan kedua lulusan universitas itu bukanlah tanpa tantangan. Lebih jauh Bisan memaparkan.

“Kesulitan pertama yang ana hadapi adalah kritik dari masyarakat sekitar kami tinggal, kritikan terhadap perempuan. Bagaimana perempuan bisa muncul dan bekerja di ladang, menjelma seorang ibu, kepala rumah tangga dan kepala keluarga? Bagaimana seorang perempuan bisa meninggalkan itu semua dan pergi bekerja di ladang? ”

Memasarkan buatan panen juga menjadi masalah kelanjutan sejumlah penutupan dan pembatasan pergerakan yang diberlakukan oleh otoritas Hamas di Gaza untuk menahan lonjakan penularan virus corona.

“Panen tidak dapat menunggu, utama atau dua hari. Tanaman itu harus dipetik. Jadi, penutupan sebesar wilayah berdampak pada kami dan merusak hasil panen, ” tambah Bisan.

Kedua hawa itu menerima pesanan dari orang-orang melalui telepon. Bisan dan Fatma memanen hasil ladang mereka untuk memenuhi pesanan itu, sekaligus mengirimnya ke beberapa pasar swalayan besar di kota Gaza. [mg/ka]