Fashion Show di AS, Hengki Kawilarang Kumpulkan Dana untuk Anak Disabilitas

0
110

Peragaan busana bertajuk “Amazing Borneo”, memukau para penonton yang melintas di kawasan Times Square New York. Apalagi dimeriahkan dengan penampilan tarian khas Kalimantan Tengah “Dadas Mas”.

Itulah salah satu upaya perancang busana Heng ki Kawilarang untuk mempromosikan Indonesia di Amerika. Hengki yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia fashion berkolaborasi dengan “Flo Natalin” menampilkan batik benang tutul khas Kalimantan Tengah.

Desain batik Hengki Kawilarang muncul di Times Square, New York (foto: courtesy).

Bawa Indonesia ke Dunia

Impian Hengki, yang pernah belajar seni aransemen (menampilkan) dan mendesain di London dan Singapura adalah untuk mempresentasikan Indonesia ke dunia luar. Sehingga ia tak segan-segan membawa desain baju batik dan gaun pengantin Sunda untuk dipamerkan di New York.

“Yang akan saya angkat, mungkin Sunda dulu, mungkin nanti Padang, mungkin Manado,… Kami membawa Indonesia ke dunia. Jadi intinya saya ingin membawa nama Indonesia ke kancah internasional,” ujarnya.

Demonstrasi koleksi Hengki Kawilarang di jalan-jalan Manhattan, New York (foto: courtesy).

Demonstrasi koleksi Hengki Kawilarang di jalan-jalan Manhattan, New York (foto: courtesy).

Upaya Hengki untuk menjangkau negara lain juga dilakukan dengan memperkenalkan kain berwarna pelangi yang menjadi pakaian batik, buatan anak-anak penyandang disabilitas Indonesia.

Ditemui VOA dalam kunjungannya di Washigton, DC, Hengki menjelaskan, “Berkat kontribusi anak-anak penyandang disabilitas, saya membuat lukisan pelangi, yang saya cetak secara digital, kemudian saya membuat pakaian dan membawanya ke sini (ke AS). . Jadi apa yang saya belanjakan, saya sumbangkan juga kepada mereka. Semoga nanti bisa berkelanjutan di acara yang lebih besar.”

Salah satu motif batik Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Salah satu motif batik Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Penggalangan Dana untuk Penyandang Disabilitas

Dalam kunjungannya ke AS kali ini, Hengki Kawilarang menjual desainnya dan 15% dari hasil penjualannya disumbangkan untuk anak-anak tunarungu dan tuna wicara di Jakarta. Selain itu, Hengki juga memberi mereka keterampilan dan pekerjaan seperti menjahit monte dan payet untuk desainnya.

“Ketika saya mengajarkan keterampilan dan ternyata apa yang saya ajarkan bermanfaat. Mereka bisa mendirikan usaha sendiri, menjahit, menjahit, dan bisa menyulam. Karya mereka saya bawa keliling dunia dan keliling Indonesia dan saya pasarkan,” ujarnya.

Salah satu koleksi musim semi/musim panas Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Salah satu koleksi musim semi/musim panas Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Usai memamerkan hasil karyanya di New York, Hengki melanjutkan perjalanannya ke North Carolina untuk memberikan penjelasan tentang batik di hadapan dosen dan mahasiswa Center of South East Asian di University of North Carolina. Diplomasi budaya tidak hanya dengan bahasa dan tarian, tetapi juga melalui busana, seperti dijelaskan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, DC, Prof. Popy Rufaidah.

“Jadi Hengki Kawilarang menyampaikan apa yang disebut: diplomasi budaya melalui fashion. Maka yang ditampilkan adalah desain batik sebagai identitas Indonesia. Jadi melalui desain-desain yang ada yang berasal dari berbagai daerah, di mana ada keragaman,” kata Popy.

Koleksi gaun pengantin Sunda karya desainer Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Koleksi gaun pengantin Sunda karya desainer Hengki Kawilarang (foto: courtesy).

Hengki yang menyukai fashion sejak kecil karena ibunya seorang penjahit mengatakan, ia memadukan seni merancang busana dengan bisnis. Desain busananya banyak digunakan oleh selebriti Indonesia, termasuk Syahrini dan Krisdayanti.

Menutup pertemuannya dengan masyarakat Indonesia di Washington DC, Hengki berharap ada wadah yang bisa menampung produknya, sehingga masyarakat Indonesia yang tinggal di AS bisa melihat dan menikmati karyanya. [ps/em]