Ibu Diaspora Indonesia di AS Kembali Sekolah, Ingin ‘Up to Date’ dan Menjadi Panutan Anak

0
107

Tahun 2021 akan menjadi tahun yang spesial bagi Marhaennia English, diaspora Indonesia di Gaithersburg, Maryland.

Ibu rumah tangga yang akrab disapa Nia pada Mei ini meraih gelar Bachelor of Arts dari Hood College, Frederick, negara bagian Maryland. Wanita berusia 43 tahun ini bahkan lulus dengan predikat cum laude.

Nia English bersama suami dan ketiga anaknya di rumahnya di Gaithersburg, Maryland. (Foto: Courtesy Nia English)

“Saya sangat suka belajar ya, itu yang nomor satu, jadi walaupun sudah tua saya selalu suka belajar,” kata Nia saat ditemui VOA di rumahnya di Gaithersburg. “Kedua mengasah (otak) dengan baik, dan tetap up to date,” ujar wanita yang mengambil jurusan Global Studies ini.

Siswa Nontradisional

Kursus tatap muka dan online dilakukan di kampus-kampus di mana sebagian besar siswa berusia 20 tahun lebih muda. Kehadiran Nia sebagai mahasiswa nontradisional justru memberi warna berbeda di kelas.

“Rekan-rekan saya dan saya berpikir bahwa siswa non-tradisional memiliki motivasi yang besar,” Scott Pincikowski, seorang profesor di Hood College, mengatakan kepada BBC. VOA. “Nia tahu betul apa yang dia inginkan,” tambahnya.

Sebelum lulus, perempuan yang mempelajari studi gender ini mendapatkan hibah sebesar $10.000 atau lebih dari Rp140 juta yang digunakannya untuk mendirikan kios cuci kilogram di Depok yang dikelola oleh komunitas transgender.

Dukungan dari keluarga

Prestasi gemilangnya tak lepas dari dukungan keluarga, terutama ketiga anaknya yang sudah mandiri sejak kecil, sehingga bisa fokus belajar.

Nia English memakai toga saat wisuda di Hood College pada Mei 2021. (Foto: Courtesy Nia English)

Nia English memakai toga saat wisuda di Hood College pada Mei 2021. (Foto: Courtesy Nia English)

“Yang terpenting niat yang kuat dan manajemen waktu. Tentu juga mendelegasikan tugas ke anak, jadi kita juga mengajari anak-anak, sepulang sekolah ini dan itu harus dilakukan. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk saya saja,” kata Nia.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam perjalanan akademis Dya Halma, diaspora Indonesia di Bethesda, negara bagian Maryland. Ibu satu anak ini saat ini sedang menjalani program Master of Business Administration di American University, Washington DC.

“Untuk saat ini, selama kuliah, saya membagi tugas saya (dengan suami) hampir sama,” kata Dya . VOA. “Yang membersihkan suami, saya lebih merawat anak-anak.”

Dya Halma menghadiri kuliah online dari rumahnya di Bethesda, Maryland.  (Foto: Istimewa Dya Halma)

Dya Halma menghadiri kuliah online dari rumahnya di Bethesda, Maryland. (Foto: Istimewa Dya Halma)

Anak Menjadi Motivator Terbesar

Mantan manajer program di museum ini berhenti dari pekerjaannya untuk fokus belajar dan merawat anak-anaknya. Dia mengatakan anak balitanya adalah kekuatan pendorongnya untuk belajar.

“Bagi saya, motivasi terbesar adalah ingin menjadi panutan bagi anak-anak saya, saya ingin menunjukkan bahwa ‘hei mama bisa seperti ini’ dan saya ingin menjadi wanita mandiri,” kata wanita berusia 33 tahun itu.

Dya mengatakan, setelah program berakhir pada September tahun depan, pihaknya berencana kembali bekerja. Sementara itu, Nia mengatakan akan melanjutkan ke jenjang pasca sarjana.

Dya Halma bersama suami dan putranya di halaman rumahnya di Bethesda, Maryland.  (Foto: Istimewa Dya Halma)

Dya Halma bersama suami dan putranya di halaman rumahnya di Bethesda, Maryland. (Foto: Istimewa Dya Halma)

Pengembangan diri

Kedua wanita ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang ibu bukanlah halangan untuk terus meningkatkan potensinya.

“Meski bukan kampus pilihan, saya rasa setiap perempuan dalam fase kehidupan apapun perlu dirangsang dan dikembangkan sendiri,” kata Dya.

Baik itu kuliah atau kursus, yang paling penting adalah “kemauan yang kuat dan manajemen waktu,” kata Nia. Usia bukanlah penghalang, karena “tidak ada kata terlambat untuk belajar”, ​​tutupnya. [vm/nr]