Inggris dan Uni Eropa bentrok lagi atas Irlandia Utara

0
12

Pada akhir Malam Natal lalu, Uni Eropa dan Inggris akhirnya mencapai kesepakatan perdagangan Brexit. Kesepakatan tercapai setelah keduanya cekcok, saling mengancam, dan gagal memenuhi tenggat waktu penyelesaian perceraian kedua entitas tersebut.

Pada awalnya, ada harapan bahwa hubungan Inggris yang sekarang terpisah dari blok 27 negara akan mengarah pada situasi yang lebih tenang.

Tetapi menjelang Natal tahun ini, satu hal menjadi jelas – harapan seperti itu tidak akan terpenuhi.

Menteri Brexit Inggris, Selasa (12/10), menuduh Uni Eropa (UE) mengharapkan mantan anggotanya gagal dan menjelek-jelekkan Inggris sebagai negara yang tidak dapat dipercaya. David Frost dalam pidatonya di Lisbon mengatakan Uni Eropa “tampaknya tidak selalu ingin kita berhasil” atau “kembali ke kerja sama yang konstruktif.”

Dia mengatakan penulisan ulang mendasar dari kesepakatan Brexit yang disepakati bersama adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki “hubungan yang retak” ini. Dia memperingatkan Inggris dapat menekan tombol darurat pada kesepakatan itu jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Kami terus-menerus dihadapkan dengan tuduhan bahwa kami tidak dapat dipercaya dan bahwa kami bukan aktor internasional yang masuk akal,” tambah Frost dalam menanggapi klaim UE bahwa Inggris berusaha untuk mengingkari perjanjian yang mengikat secara hukum yang telah dinegosiasikan dan ditandatangani.

Ketegangan pasca-Brexit telah berubah menjadi jalan buntu atas masalah Irlandia Utara, satu-satunya bagian Inggris yang berbatasan darat dengan negara Uni Eropa, yaitu Irlandia.

Di bawah bagian paling rumit dan kontroversial dari kesepakatan Brexit, Irlandia Utara tetap berada dalam pasar tunggal UE untuk perdagangan barang, menghindari perbatasan fisik dengan anggota UE, Irlandia. [my/jm]