Kecanduan Narkoba dalam Keluarga Menjebak Anak-anak Afghanistan dalam Lingkaran Setan

0
68

Di Provinsi Badakhshan, diperkirakan ada 25.000 hingga 30.000 pecandu narkoba. Seperti di tempat lain, kecanduan cenderung menurun dalam keluarga.

Keluarga Jan Begum adalah salah satunya. Mereka tinggal di Kota Faizabad. Baik putra maupun suami kecanduan. Mereka menggunakan metamfetamin dan heroin.

“Kami tidak punya apa-apa lagi. Baik suami dan anak sama-sama menganggur, ayah pecandu, anak juga pecandu. Anak sulung saya tidak ada di sini. Dia sudah hilang selama tiga tahun. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati,” Jan Begum menceritakan VOA.

Seorang petani berusia 37 tahun, Mohaiyudeen, memamerkan sebungkus opium setelah memanennya dari ladang opiumnya di distrik Surkh-Rod, provinsi Nangarhar, Afghanistan, 28 Juni 2020. (Foto: AFP)

“Ada empat di keluarga kami, dan kami berempat pecandu. Ya, kami menjual semuanya. Kami menjual sprei dan semua yang kami miliki. Dan dengan uang itu, kami membeli narkoba dan menggunakannya,” lanjutnya.

Keluarga Jan Begum dulu tinggal di sebuah rumah di Faizabad. Ketika pemilik rumah mengetahui bahwa keluarganya menggunakan narkoba, pemilik rumah mengusir mereka.

Sekarang, mereka mengemis, menjadi pekerja laundry, dan menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk narkoba. Mereka telah dirawat beberapa kali karena kecanduan, tetapi kemudian kambuh.

Samiullah, 18 tahun, narkoba dengan ibu, ayah dan saudara laki-lakinya.

Proses mendapatkan opium, di sebuah desa di luar provinsi Balkh, sekitar 500 km sebelah utara Kabul.  (Foto: Reuters)

Proses mendapatkan opium, di sebuah desa di luar provinsi Balkh, sekitar 500 km sebelah utara Kabul. (Foto: Reuters)

“Saya menggunakan narkoba sejak kecil. Saya makan dengan orang tua saya. Saya pergi mencari obat-obatan dan kemudian saya meminumnya. Saya berharap pemerintah akan datang dan mengobati kami. Saya ingin bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel,” katanya.

Afghanistan tetap menjadi produsen opium terbesar di dunia.

Di Provinsi Nangahar, anak-anak dan pemuda bekerja di ladang opium mengumpulkan opium bersama orang tua mereka. Mereka membantu dalam produksi opium.

Mustafa, 16 tahun, adalah salah satu pemuda yang bekerja di ladang opium. Dia mengaku mulai kecanduan sejak lama, karena dia bekerja di ladang opium.

“Nah itu kan narkotik, membuat kita mabuk. Saat kita ngumpul, kita hirup, dan itu membuat kita pusing, membuat kita mabuk, lalu kita duduk atau pulang dengan alasan untuk bersantai. Itu efeknya buruk,” katanya. dikatakan.

“Saya sakit kepala waktu berangkat sekolah. Saya izin pulang. Candu itu efeknya sangat buruk karena membuat kepala pusing, kita mabuk. Candu menyebabkan kondisi seperti itu di tubuh kita,” lanjut Mustafa.

Ke VOA, ia menunjukkan beberapa tanaman poppy tahun ini. Beberapa kilogram opium telah dipanen dari ladang. Dia mengatakan bahwa setelah opium dipanen, opium itu dijual dan dia menyimpan dua kilogram untuk dijual nanti.

Ketika musim panen opium berakhir, ia bekerja di ladang untuk tanaman lain seperti bawang.

Mustafa mengatakan dia telah melihat banyak orang, termasuk wanita, menjadi kecanduan narkoba setelah bekerja di ladang opium. Dia sendiri tidak ingin menjadi pecandu.

“Kalau tidak ada narkoba yang ditanam di sini, mungkin tidak ada yang kecanduan narkoba. Opium membuat banyak orang ketagihan. Kami ingin pemerintah menghentikan penanaman opium. Pemerintah harus membantu kami menanam pohon buah-buahan yang baik,” katanya.

Lebih sedikit produksi opium berarti lebih sedikit kecanduan narkoba, dan lebih sedikit pecandu narkoba yang sekarat, kematian yang menyedihkan dan memalukan, di negara di mana tidak ada yang lebih penting daripada keluarga, kehormatan, dan tradisi.

Sebelum menarik pasukannya dari Afghanistan, Amerika Serikat berjanji akan terus mendukung upaya negara itu untuk mengurangi perdagangan narkoba. [lt/jm]