Komisi I DPR Setujui Pencalonan Jenderal Andika Jadi Panglima TNI

0
56

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui pencalonan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Persetujuan itu diberikan seluruh fraksi di Komisi I usai menggelar rapat sekitar tiga jam di kompleks parlemen, Jakarta, Sabtu (6/11).

Ketua Komisi I Meutya Hafid membacakan kesimpulan rapat setelah mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan seluruh fraksi dan anggota Komisi I mengenai pencalonan menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Purnawirawan AM Hendropriyono.

Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid. (Foto: tangkapan layar)

“Rapat internal Komisi I memutuskan untuk menyetujui pemberhentian dengan hormat Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI dan menghargai pengabdiannya. Kesimpulan kedua adalah memberikan persetujuan atas pengangkatan calon Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Panglima TNI,” ucap Meutya yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Saat dimintai sambutan setelah Komisi I menyetujui pencalonannya, Jenderal KSAD TNI Andika Perkasa dengan senyum di wajahnya hanya berkomentar singkat.

“Saya ucapkan terima kasih Bu, dengan kalian semua. Terima kasih,” kata Andika.

Panglima TNI Jenderal Apirat Kongsompong dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa tersenyum sebelum pertemuan mereka di Aceh, 14 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Panu Wongcha-um)

Panglima TNI Jenderal Apirat Kongsompong dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa tersenyum sebelum pertemuan mereka di Aceh, 14 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Panu Wongcha-um)

Dalam rapat internal Komisi I, ketua komisi memberikan waktu setengah jam kepada Andika untuk menyampaikan visi dan misinya. Namun, Andika menyampaikan presentasi tentang visi dan misinya hanya dalam waktu lima menit.

Andika mengatakan TNI adalah visi kita menjadi Panglima TNI. Ia ingin masyarakat Indonesia dan dunia internasional melihat TNI sebagai “kita” atau “bagian dari mereka”. Ia tidak ingin masyarakat terlalu berharap kepada TNI dengan segala keterbatasan dan kelebihannya.

“Saya ingin masyarakat kita melihat TNI sebagai organisasi apa adanya, dengan segala kekurangan dan perbaikan yang harus kita lalui. Tapi bukan berarti kita dengan keadaan kita. tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Masih banyak yang bisa kita lakukan,” kata Andika.

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa bersama Atase Pertahanan AS.  (Foto: Istimewa/Kadispenad TNI AD)

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa bersama Atase Pertahanan AS. (Foto: Istimewa/Kadispenad TNI AD)

Andika menegaskan dengan keterbatasan, TNI harus memiliki cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya.

Mengenai misi tersebut, Andika menjelaskan bahwa menurut UU TNI, ada tiga misi yang harus dijalankan yaitu menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta melindungi segenap bangsa dan negara. seluruh tanah air.

Andika mengatakan, di bawah kepemimpinannya nanti, TNI akan fokus pada beberapa hal terkait operasi militer perang dan operasi militer selain perang, yaitu pertama dan utama mengembalikan tugas TNI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia berharap tidak akan mengambil alih tugas kementerian atau lembaga lain.

Kemudian meningkatkan keamanan perbatasan darat, laut dan udara. Kemudian meningkatkan kesiapsiagaan TNI, meningkatkan operasi siber, meningkatkan sinergi intelijen khususnya di daerah konflik, mengintegrasikan operasi tiga dimensi TNI (darat, laut, dan udara), penataan dan integrasi organisasi serta peran diplomasi militer dalam kerangka politik luar negeri Indonesia.

Sementara itu, pendalaman visi dan misi Andika sebagai calon Panglima TNI dilakukan anggota Komisi I secara tertutup.

Setelah Komisi I menyetujui pencalonan Andika, hasil rapat ini akan dibawa ke rapat paripurna untuk diputuskan bersama. Kemungkinan Senin minggu depan.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menilai proses fit and proper test yang dilakukan secara semi tertutup merupakan tindakan menghambat akses pengawasan dan partisipasi masyarakat sehingga rentan terhadap kolusi dan nepotisme.

Charles A. Flynn, Komandan Jenderal US Army Pacific berbicara dengan Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia Jenderal Andika Perkasa saat pembukaan Latihan Gabungan Perisai Garuda 2021 di Pusat Pelatihan Tempur TNI Angkatan Darat di Baturaja, Sum Selatan

Charles A. Flynn, Komandan Jenderal US Army Pacific berbicara dengan Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia Jenderal Andika Perkasa saat pembukaan Latihan Gabungan Perisai Garuda 2021 di Pusat Pelatihan Tempur TNI Angkatan Darat di Baturaja, Sum Selatan

Juru bicara koalisi Hussein Ahmad, Sabtu (5/11), mengatakan VOA mengatakan bahwa proses terbuka sangat penting, tidak hanya untuk membuka ruang pengawasan dan partisipasi publik, tetapi juga mengingat Jenderal Andika Perkasa dikaitkan dengan berbagai catatan buruk terkait hak asasi manusia, transparansi dan akuntabilitas aset dan lain-lain.

Menurut dia, dugaan keterlibatan Jenderal Andika dalam pelanggaran hak asasi manusia dalam pembunuhan pemimpin Papua Theys Hiyo Eluay perlu diperdalam secara serius oleh DPR karena penghormatan terhadap hak asasi manusia tentu menjadi poin penting dalam profesionalisme TNI.

Selain itu, adanya kepemilikan harta benda yang fantastis dan ketidaktaatan Jenderal Andika yang baru saja melaporkan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di tahun ketiga menjabat KSAD juga sebenarnya menunjukkan lemahnya integritas dan komitmen Andika Perkasa terhadap agenda pemberantasan korupsi. [fw/ah]