Mantan Presiden Afrika Selatan Rekam Pesan Permintaan Maaf ‘Rezim Apartheid’ Sebelum Meninggal

0
69

Mantan Presiden Afrika Selatan FW de Klerk merekam pesan kepada bangsa sesaat sebelum kematiannya pada Kamis (11/11), di mana ia “tanpa kecuali” meminta maaf atas “rasa sakit, luka, penghinaan dan kerusakan” yang disebabkan oleh rezim apartheid.

De Klerk mengawasi berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih sebagai presiden apartheid terakhir di negara itu. Bersama Nelson Mandela, de Klerk dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.

Namun, de Klerk adalah sosok kontroversial di Afrika Selatan.

Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela (kiri) bersama Wakil Presiden FW de Klerk pada 8 Mei 1996. (foto: AP doc.)

Banyak yang menyalahkan de Klerk atas kekerasan terhadap orang kulit hitam dan aktivis anti-apartheid Afrika Selatan selama masa kekuasaannya. Sementara itu, beberapa orang kulit putih Afrika Selatan melihat upayanya untuk mengakhiri sistem apartheid sebagai pengkhianatan.

Dalam sebuah pesan yang dirilis oleh yayasannya, de Klerk menggambarkan menerima “hal-hal yang tidak dapat diterima” dalam apartheid sebagai “pertobatan.”

De Klerk memuji konstitusi yang dia bantu negosiasikan, tetapi mengatakan dia “sangat prihatin” tentang apa yang dia gambarkan sebagai “merusak banyak aspek konstitusi yang kita lihat hampir setiap hari.”

De Klerk mendesak semua orang Afrika Selatan untuk “bergandengan tangan” dan “bersatu,” dengan mengatakan meskipun jalan di depan kita adalah “sulit”, mereka akan mampu mengatasi tantangan dan memenuhi “potensi luar biasa” bangsa mereka.

Mantan presiden itu meninggal di rumahnya di Fresnaye, Cape Town, dalam usia 85 tahun, setelah berjuang melawan kanker. [em/jm]