Masih Tantangan Besar untuk Mengatasi Kesenjangan Perawatan

0
265

Tema Hari Kanker Sedunia tahun ini adalah mengatasi kesenjangan akses terhadap perawatan kanker. Terkait tema peringatan tahun ini, tantangan apa yang masih dihadapi untuk mengatasi kesenjangan perawatan kanker di Indonesia dan apa penyebab utamanya? Apa yang dapat dilakukan untuk mempersempit kesenjangan dan memberikan lebih banyak akses kepada pasien kanker? Lalu bagaimana dengan peran aktivis kanker atau LSM?

Hari Kanker Sedunia pertama kali ditetapkan pada World Cancer Summit 2000 di Paris. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker dan untuk mendorong pencegahan, deteksi dini, pengobatan dan pengobatan semua jenis kanker yang diakui.

Indonesia sendiri masih tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus kanker tertinggi. The Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO) mencatat total kasus kanker di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebanyak 234.511 kasus.

Tahun ini, tema HUT adalah Close the Care Gap. Endah Labati Silapurna, Direktur RSUD Idaman Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjelaskan, “Tujuannya agar semua penderita kanker bisa mendapatkan pengobatan yang sama, sehingga meningkatkan peluang sembuh dan mengurangi kemungkinan kehilangan nyawa.”

Menurut data Globocan 2020, jumlah kasus kanker baru terbesar di Indonesia adalah kanker payudara (16,6%), disusul kanker serviks (9,2%), kanker paru (8,8%), kanker kolorektal (8,6%).

Memperingati hari kanker sekaligus menyadarkan semua orang betapa banyak jenis kanker yang ada, kata Samantha Barbara, ketua Yayasan Daya Dara Indonesia (YDDI), sebuah organisasi yang fokus pada kegiatan sosialisasi deteksi dini dan pendampingan bagi wanita penderita kanker payudara. kanker.

Untuk kanker payudara saja, jelas Samantha, saat ini 1 dari 8 wanita di dunia memiliki risiko menjadi penderita. Mengutip data WHO, kata dia, tanpa meningkatkan pendidikan dan upaya pencegahan dini, pada tahun 2030 kemungkinan 1 dari 3 wanita berisiko tertular kanker payudara. Itulah mengapa,

“Secara garis besar, kami ingin semua pasien memiliki akses informasi, akses fasilitas, dan akses pelayanan yang baik. Tetapi jika kita berbicara tentang Indonesia, kita punya tantangan juga,” katanya.

Tantangannya juga mencakup wilayah geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga sulit untuk menyediakan fasilitas dan sumber daya bagi spesialis kanker dan spesialis lain yang terkait dengan pengobatan kanker, seperti patologi dan radiologi, jelas Samantha.

dr. dr. Endah Labati Silapurna, MHKes (foto: courtesy)

“Pelayanan, baik berupa sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana yang berbeda di tingkat pusat dan daerah memang menjadi masalah pokok,” tambah Direktur RS Idaman yang biasa disapa Labaty itu. Aturan dan regulasi yang ada juga mempengaruhi kesenjangan ini. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, ia juga mengakui sulitnya pemerataan atau penyeragaman pelayanan, yang terkendala oleh lokasi, fasilitas dan daya ungkit masing-masing daerah.

Dia juga mencontohkan persebaran dokter yang tidak merata di daerah.

“Di Jawa banyak dokter, infrastruktur dari pusat juga cukup banyak. Kebetulan saya di Indonesia bagian tengah, di sini SDM yang dikucurkan tidak terlalu banyak. Apalagi di timur. Kalau bagian timur malah kurang, sepertinya,” imbuhnya.

Labaty juga mengkritik kebijakan pemerintah terkait layanan kanker. Menurut dia, regulasi pemerintah belum optimal karena masih menekankan bahwa sebagian besar layanan kanker dirujuk ke rumah sakit kelas A atau kelas B.

“Sebenarnya kalau kita bisa memberdayakan kelas bawah, tidak hanya kelas A atau beberapa di B, kesenjangannya akan semakin sempit. Sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya.”

Perawat menyiapkan ruang isolasi dan peralatan medis di RS Persahabatan Jakarta (Foto: ilustrasi)

Perawat menyiapkan ruang isolasi dan peralatan medis di RS Persahabatan Jakarta (Foto: ilustrasi)

Pasien tidak perlu menunggu terlalu lama untuk jadwal pengobatan jika tidak harus dirujuk ke rumah sakit kelas A, misalnya. Ia mencontohkan rumah sakit yang dipimpinnya tergolong kelas C namun sudah bisa membantu pelayanan kanker. RSD Idaman memiliki antara lain dokter anak yang juga konsultan hemato-onkologi (kanker darah), ahli bedah yang dapat mendeteksi kanker payudara, dan dokter kebidanan dan kandungan yang dapat mendeteksi kanker serviks.

Peran kelompok pendukung

Samantha memahami beban pemerintah dalam menangani kanker cukup tinggi. Oleh karena itu dia menyoroti pentingnya memasukkan kelompok pendukung dari antara pasien itu sendiri. YDDI bekerjasama dengan sponsor atau perusahaan bergerak membantu pemerintah mengurangi beban ini dengan memberikan edukasi tentang upaya pencegahan melalui deteksi dini.

Sebagai gambaran minimnya edukasi deteksi dini, Labaty mengatakan tidak sedikit pasien kanker payudara yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam stadium lanjut.

Di masa pandemi, kegiatan edukasi YDDI yang biasanya dilakukan dengan mengunjungi berbagai komunitas, berlangsung lebih luas, melalui pertemuan virtual. YDDI memberdayakan para penyintas, yang telah menyelesaikan pengobatan dan mengikuti pelatihan bersertifikat, untuk memberikan pendidikan ini.

“Kami berbicara tentang perjalanan kanker kami, fakta, risiko, apa yang harus dilakukan dan sebagainya,” katanya.

Dukungan moral dari orang yang pernah mengalami kanker dan menjalani pengobatan juga sangat penting, karena membuat pasien merasa tidak sendiri, jelasnya. Ribuan perempuan dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam komunitas YDDI di beberapa kota sejak yayasan ini didirikan pada tahun 2014, kini setiap hari bertukar informasi, berbagi dukungan melalui grup WA.

Yayasan ini juga memiliki program kerjasama dengan beberapa rumah sakit dan klinik, memberikan layanan USG gratis sebagai upaya deteksi dini bagi perempuan kurang mampu. Samantha, seorang survivor kanker sendiri, menginginkan upaya untuk mengurangi kanker payudara stadium lanjut terus berlanjut.

Labaty meyakini perubahan kebijakan pemerintah terkait rujukan pasien kanker ke rumah sakit dapat membantu mengurangi kesenjangan yang ada, selain pemerataan distribusi sumber daya manusia oleh pemerintah pusat.

Lebih banyak ahli onkologi juga merupakan harapan Samantha. Dengan menyiapkan program yang baik dan insentif yang menarik, pemerintah diharapkan dapat mendorong mahasiswa kedokteran menjadi dokter spesialis kanker, lanjutnya. [uh/ab]