Menlu Hadiri Pertemuan Negara Tetangga Afghanistan di China

0
105

Meski bukan tetangga dekat Afganistan, Retno mengklaim bahwa undangan Indonesia dalam pertemuan tersebut terkait dengan peran aktif Indonesia dalam menangani isu Afganistan yang mendapat banyak pujian dari dunia.

Dalam konferensi pers virtual, usai menghadiri pertemuan, Kamis (31/3), Retno menjelaskan, konferensi negara tetangga Afghanistan di China ini merupakan konferensi ketiga, setelah sebelumnya digelar di Pakistan dan Iran. Indonesia sendiri diundang hadir dalam pertemuan tersebut karena peran aktif Indonesia dalam menangani isu Afghanistan yang mendapat banyak pujian dari dunia.

Retno menambahkan, negara tetangga Afghanistan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat Afghanistan membangun kehidupan yang damai dan sejahtera.

“Perempuan dan laki-laki dimanapun, termasuk di Afghanistan, berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan terpenuhi hak-haknya termasuk hak atas pendidikan. Oleh karena itu, saya berharap larangan sekolah bagi perempuan Afghanistan di tingkat sekolah menengah dapat ditinjau kembali, ” kata Retno.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Kamis (31/3) menghadiri pertemuan para menteri luar negeri dari negara tetangga Afghanistan yang berlangsung di Tunxi, China. Konferensi ini membahas masalah Afghanistan.

Tetangga Afghanistan yang hadir dalam pertemuan itu adalah China, Rusia, Iran, Pakistan, Tajkistan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh Pj Menteri Luar Negeri pemerintah Taliban di Afghanistan Amir Khan Muttaqi. Selain Indonesia, satu negara non-tetangga Afghanistan lainnya yang diundang hadir adalah Qatar.

Meski bukan tetangga dekat Afganistan, Retno mengklaim bahwa undangan Indonesia dalam pertemuan tersebut terkait dengan peran aktif Indonesia dalam menangani isu Afganistan yang mendapat banyak pujian dari dunia.

Dalam konferensi pers usai menghadiri pertemuan tersebut, Retno menjelaskan bahwa konferensi negara tetangga Afghanistan di China ini merupakan konferensi ketiga setelah sebelumnya diadakan di Pakistan dan Iran.

Retno menambahkan, negara tetangga Afghanistan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat Afghanistan untuk hidup damai dan sejahtera.

“Perempuan dan laki-laki dimanapun, termasuk di Afghanistan, berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan terpenuhi hak-haknya termasuk hak atas pendidikan. Oleh karena itu, saya berharap agar larangan sekolah bagi perempuan Afghanistan di tingkat sekolah menengah dapat ditinjau kembali,” kata Retno.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan Indonesia tidak ingin Afghanistan menjadi negara gagal. Dia mengatakan pemerintah Taliban perlu memenuhi janjinya.

Taliban, katanya, perlu menyusun peta jalan langkah-langkah konkret dan mematuhi tenggat waktu untuk memenuhi janjinya. Taliban harus menghindari penundaan dan penundaan lebih lanjut dalam memenuhi janji atau bahkan kemunduran.

Memenuhi komitmen tersebut, kata Retno. dia terus menciptakan dukungan internasional untuk pembangunan ekonomi Afghanistan.

Dia mengatakan sangat penting untuk membangun rasa saling percaya antara Taliban dan masyarakat internasional. Kepercayaan itu akan terwujud jika Taliban mengambil langkah maju dan memenuhi semua komitmen yang dibuatnya pada Agustus tahun lalu.

Terkait bantuan kemanusiaan, lanjut Retno, ia menekankan pentingnya sinergi dalam memberikan bantuan kemanusiaan agar dapat memberikan pengaruh yang lebih besar kepada masyarakat Afghanistan. Menurutnya, bantuan ekonomi dan pembangunan juga penting bagi Afghanistan.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung Teuku Rezasyah mengatakan Indonesia harus mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan. Ia menilai, sebelum pengakuan diberikan, Indonesia seolah berusaha mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Afghanistan dari Qatar.

Dia mengklaim Qatar memiliki referensi yang sangat dalam ke Timur Tengah dan Afrika. Referensi mendalam tentang Afghanistan ini, kata Rezasyah, sangat diperlukan untuk menjelaskan isu Afghanistan di antara negara-negara anggota G20.

Menurut Rezasyah, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mencari poin positif tentang Taliban sebagai panggung untuk kemudian mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.

“Karena bagaimanapun juga, jika kita berhadapan dengan suatu negara, harus ada otoritas yang bisa kita percayai dan sekaligus kita harus mengenali kekuatan dan kelemahannya. Saya sangat berharap perlahan-lahan Taliban bisa lebih dekat dengan Indonesia. Karena jika tidak, negara-negara perbatasan akan dengan mudah mendapatkan akses untuk restrukturisasi Afghanistan,” kata Rezasyah.

Rezasyah mencontohkan, China sudah mulai membuka kontak dengan Afghanistan. Dia yakin China telah mulai berpikir untuk memajukan industri penerbangan di Afghanistan.

Dengan segala informasi yang diperoleh, Rezasyah berharap Indonesia dapat mensponsori rancangan resolusi PBB tentang pembangunan berkelanjutan di Afghanistan.

Krisis kemanusiaan dan keamanan di Afghanistan terus berlanjut sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus tahun lalu. [fw/ab]