Muncul Varian Baru dari Afrika Selatan, Lebih Berbahaya dari Delta?

0
183

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan varian baru atau mutasi COVID-19, B11529 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, dan mungkin sejumlah negara lain di Afrika bagian selatan, berpotensi menjadi varian super.

Data awal di lapangan, kata Dicky, menunjukkan varians yang sangat mengkhawatirkan. Pakar virus mengatakan varian ini berpotensi menyebar lebih cepat dibandingkan delta dan beta.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. (Foto: Dermaga Pribadi)

Hal ini dibuktikan dengan tingkat positif di Provinsi Gauteng, Afrika Selatan, yang melonjak dari 1 persen menjadi 30 persen hanya dalam tiga minggu.

“Ini tanda yang sangat serius, karena jika cepat menyebar, akan cepat membebani fasilitas kesehatan, termasuk di sini. Perawatan di ICU, kematian seperti yang terjadi pada gelombang kedua kemarin akan sangat potensial. Bahkan hanya dalam dua minggu dia bisa mendominasi hingga 75 persen yang beredar di Afrika Selatan di tengah gelombang Delta,” kata Dicky kepada VOA, di Jakarta, Jumat (26/11).

Meski begitu, kabar baiknya adalah varian ini mudah dideteksi dalam tes PCR. Dicky mengingatkan temuan awal varian B11529 di Afrika Selatan harus diwaspadai.

Kolaborasi Global

Dengan munculnya mutasi baru COVID-19 ini, Dicky mengingatkan pentingnya kolaborasi global dalam pengendalian pandemi. Semua negara tidak bisa bergerak sendiri, karena jika hanya ada satu negara yang pandeminya tidak terkendali, seluruh dunia akan terkena dampaknya.

Seorang staf memegang sampel tes PCR di RS Pusat Pertamina di tengah wabah COVID-19 di Jakarta, 16 Desember 2020. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Seorang staf memegang sampel tes PCR di RS Pusat Pertamina di tengah wabah COVID-19 di Jakarta, 16 Desember 2020. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Menurut Dicky, pemerintah harus memperkuat strategi pengendalian pandemi seperti 3T (pengujian, penelusuran, pengobatan), menegakkan protokol kesehatan 5M, mempercepat program vaksinasi COVID-19 hingga 80 persen, dan pertimbangkan untuk menggunakan booster atau pemacu.

“Kepasifan atau meremehkan bahaya, karena bukan hanya satu atau dua negara saja yang bisa merugikan, ini semua bisa dirugikan. Saya selalu memiliki prinsip bahwa lebih baik menjadi bodoh daripada menjadi bodoh. Dan meskipun ini masih data awal, bisa jadi lebih buruk atau bisa seperti ini tapi sepertinya tidak mungkin. Setidaknya itu akan menjadi lawan Delta, dan ini adalah hal yang berbahaya, “jelasnya

Menunggu Rekomendasi WHO

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah masih menunggu rekomendasi dari World Health Organization (WHO) terkait varian baru tersebut.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Siti Nadia Tarmidzi

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Siti Nadia Tarmidzi

“Varian ini belum dikategorikan sebagai varian perhatian (VOC) atau varian minat (VOI). Jadi kita tunggu WHO lihat sikapnya seperti apa,” kata Nadia VOA.

Ia mengatakan, jika melihat data awal lapangan yang menunjukkan varian baru berpotensi menyebar lebih cepat, pemerintah akan terus meningkatkan kewaspadaan dalam hal strategi pendeteksian. yaitu salah satunya memperkuat Dari data WGS (sekuensing seluruh genom) yang ada hingga kini, varian Delta masih mendominasi di Tanah Air.

“Bicara varian baru, tentunya kita lebih melihat (penyebabnya) di kasus impor. Oleh karena itu, kita akan memperkuat pintu masuk negara kita, yang berarti memperkuat penyaringan Kami akan terus menjaganya,” jelasnya.

Kapolsek Galih Apria memberikan bingkisan ayam kepada Jeje Jaenudin, warga Desa Sindanglaya yang menerima vaksin COVID-19 dosis pertama, saat program pick up and drop off vaksinasi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat , Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Re

Kapolsek Galih Apria memberikan bingkisan ayam kepada Jeje Jaenudin, warga Desa Sindanglaya yang menerima vaksin COVID-19 dosis pertama, saat program pick up and drop off vaksinasi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat , Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Re

Selain itu, kata dia, pemerintah juga berkomitmen untuk mempercepat vaksinasi COVID-19. Hingga saat ini, setidaknya 66 persen masyarakat Indonesia telah menerima vaksin dosis pertama, dan 44,5 persen dari dosis lengkap.

Pemerintah menargetkan hingga akhir tahun 80 persen masyarakat sudah mendapat vaksin dosis pertama, dan 60 persen mendapat dosis kedua.

Nadia juga menekankan bahwa mekanisme vaksin booster atau pemacu telah dibahas, namun belum menjadi prioritas pemerintah saat ini.

“WHO mendorong untuk mencapai vaksinasi dosis penuh, karena itu adalah kunci untuk mengendalikan pandemi. Jika hanya beberapa orang yang divaksinasi, tingkat penularan masih sangat mungkin terjadi. Virusnya masih ada celah untuk kemudian bermutasi dan berkembang karena masih ada orang yang belum kebal,” ujarnya.

Patuhi Prokes

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan varian B11529 menurut WHO per 24 November 2021 masih menjadi masalah besar. varian dalam pemantauan (VUM).

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengatakan, berbagai pelonggaran aktivitas masyarakat harus dilakukan secara hati-hati dengan penerapan prosedur yang ketat (VOA).

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengatakan, berbagai pelonggaran aktivitas masyarakat harus dilakukan secara hati-hati dengan penerapan prosedur yang ketat (VOA).

Meski begitu, Wiku mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk selalu disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, sebagai upaya pencegahan munculnya berbagai varian atau mutasi baru COVID-19.

“Semua varian virus jika dibiarkan menyebar (karena orang tidak disiplin dalam prosedur pelayanan kesehatan) berpotensi menjadi virulen atau sebaliknya. Jadi jagalah prosedur kesehatan,” kata Wiku kepada VOA.

Wiku menegaskan, untuk mencegah varian baru masuk ke Tanah Air, pihaknya akan selalu memberlakukan proses tersebut penyaringan regulasi yang ketat, terutama bagi wisatawan internasional, antara lain dengan mewajibkan hasil tes PCR negatif 3X24 jam sebelum keberangkatan.

“Tiga atau lima hari karantina sesuai dengan status vaksinasi. Positif akan diperiksa untuk varian melalui WGS. Ini akan mencegah varian baru yang diimpor,” pungkasnya. [gi/ab]