NATO, Uni Eropa Mengutuk Penumpukan Militer Rusia di Dekat Ukraina

0
171

Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Sekjen NATO Jens Stoltenberg pada Minggu (28/11) mengadakan pertemuan dengan Presiden Lithuania Gitanas Nausda dan Perdana Menteri Ingrida Imonyte.

Mereka membahas ketegangan saat ini dengan Belarusia atas migran yang terjebak di perbatasannya, dan penumpukan pasukan militer Rusia di perbatasan dengan Ukraina.

Von der Leyen menjanjikan dukungan berkelanjutan untuk Lithuania, mengutuk “instrumentalisasi manusia untuk tujuan politik,” dan mengutuk keras “serangan hibrida” terhadap blok itu – termasuk disinformasi dan serangan dunia maya.

Sejak musim panas lalu ribuan migran telah melakukan perjalanan ke Belarus dan berusaha menyeberang ke Polandia, Lituania atau Latvia; tiga negara yang berbatasan dengan Uni Eropa.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meminta Rusia untuk “transparan” atas “peningkatan kekuatan militer yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat dibenarkan di dekat Ukraina.”

Stoltenberg Jumat lalu (26/11) memperingatkan Rusia bahwa setiap upaya untuk menyerang Ukraina akan datang dengan “biaya” karena kekhawatiran yang berkembang atas penumpukan pasukan militer Rusia di dekat perbatasan negara tetangga bekas Uni Soviet itu.

Ukraina mengatakan Rusia memiliki sekitar 90.000 tentara di dekat perbatasan bersama mereka, menyusul latihan perang besar-besaran di Rusia barat awal tahun ini.

Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan beberapa unit tentara ke-41 Rusia masih berada di dekat Yelnya, sekitar 260 kilometer utara perbatasan.

Rusia menyangkal rencana untuk melakukan invasi dan menolak untuk menjelaskan lebih lanjut tentang pergerakan pasukan di wilayahnya sendiri.

Para menteri luar negeri negara-negara anggota NATO pada Selasa (30/11) akan mengadakan pertemuan di Latvia untuk membahas situasi di dekat Ukraina. [em/lt]