Negeri Prioritaskan Vaksinasi COVID-19 untuk Nakes Lansia

0
518

Negeri memprioritaskan tenaga kesehatan berusia di atas 60 tahun dalam kalender vaksinasi COVID-19 yang dimulai hari ini, Senin (8/2). Golongan leler tersebut mendapat prioritas karena tingginya risiko terpapar dan tingkat mair.

Menteri Kesehatan Tabiat Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Jakarta, Minggu (7/2), membaca bahwa kategori usia lansia tersebut harus segera divaksinasi. Berdasarkan bahan yang ada, dari total angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia, sebanyak 50 persen yang wafat adalah dari golongan lansia ataupun di atas 60 tahun.

Menteri Tabiat menambahkan tenaga kesehatan lansia pada Tanah Air jumlahnya mencapai 11. 600 orang.

Kebijaksanaan pemerintah itu diambil menyusul adanya izin otorisasi penggunaan darurat ( emergency use of authorization/EUA ) dari BPOM buat penggunaan vaksin Sinovac atau CoronaVac untuk warga berusia di berasaskan 60 tahun.

Tabiat menegaskan, segera setelah tenaga kesehatan senior selesai divaksinasi, pemerintah akan segera melakukan vaksinasi kepada kelompok umum yang berusia di akan 60 tahun.

“Kita nanti akan mulainya paralel. Sungguh yang diutamakan adalah tenaga kesehatan tubuh, tapi secara paralel kita hendak mendata lansia-lansia yang di luar tenaga kesehatan untuk divaksinasi, ” katanya.

Seorang dokter mengambil gambar botol berisi vaksin Sinovac di fasilitas kesehatan kabupaten sebagai vaksinasi massal untuk Covid-19, di Jakarta, 19 Januari 2021. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Seorang dokter mengambil gambar botol berisi vaksin Sinovac dalam fasilitas kesehatan kabupaten sebagai vaksinasi massal untuk Covid-19, di Jakarta, 19 Januari 2021. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Mantan wakil menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut mengatakan proses penapisan (skrining) dengan dilakukan kepada lansia sebelum divaksinasi pada umumnya sama dengan usia kala 18-59 tahun. Namun, ada pemeriksaan yang lebih detail karena bahkan lanjut usia seseorang, makin banyak penyakit bawaan atau komorbid yang diderita.

900 Seperseribu Nakes

Akhlak pun menjelaskan bahwa sampai zaman ini sebanyak 900 ribu gaya kesehatan di 34 provinsi sudah divaksinasi COVID-19. Sebanyak 100 ribu tenaga kesehatan, imbuh Menkes, cabar divaksniasi karena mereka penyintas COVID-19.

“Jadi kita mampu tunda suntikannya karena kekebalannya sedang ada, tapi sebagian besar banyak yang punya darah tinggi, ” tuturnya.

Budi optimis akan mampu menutup target memvaksinasi seluruh 1, 5 juta tenaga kesehatan sebelum akhir Februari.

Dalam jalan ini, Budi juga mengungkapkan kalau terdapat dua provinsi yang tren kasus positif COVID-19 di kalangan tenaga kesehatan menurun setelah dikerjakan vaksinasi. Salah satu provinsi tersebut adalah Jawa Tengah. Namun, Watak belum mau menjelaskan lebih sendat karena masih dilakukan berbagai observasi.

“Kita masih ingin melakukan cek dan ricek sekadar lagi untuk memastikan apakah itu konsisten, di seluruh provinsi dengan vaksinasi nakesnya tinggi. Jateng merupakan provinsi yang paling cepat serta paling agresif memvaksinasi nakesnya, ” katanya.

Seorang petugas medis menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk Covid-19 sebelum memberikannya kepada dokter di Jakarta, 19 Januari 2021. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Seorang petugas medis menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk Covid-19 sebelum memberikannya kepada dokter dalam Jakarta, 19 Januari 2021. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

CoronaVac untuk Lansia

Secara terpisah, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny S Lukito, mengungkapkan pihaknya telah menyingkirkan otorisasi penggunaan darurat vaksin Sinovac untuk masyarakat berusia 60 tarikh ke atas pada 5 Februari 2021.

EUA ini dikeluarkan oleh BPOM, setelah meraih data-data hasil uji klinis vaksin terhadap lansia di China & Brazil.

Untuk pada China, kata Penny, uji klinik fase I dan II melibatkan 400 orang lansia yang dikasih masing-masing dua dosis vaksin CoronaVac dengan jarak antar dosis 28 hari. Hasilnya, menunjukkan antibodi yang cukup baik, yakni sekitar 97, 98 persen. Sedangkan di Brazil, uji klinik fase III membawabawa 600 orang lansia, dan hasilnya menunjukkan vaksin cenderung aman, dan tidak ada efek samping yang serius.

Data-data tersebut, ujarnya, telah dibahas bersama dengan tim komite nasional penilai obat dan sejumlah sinse spesialis untuk menetapkan keputusan penerapan vaksin COVID-19 ini bagi lansia.

“Berdasarkan hasil pengkajian tersebut, maka pada tanggal 5 Februari 2021 kemarin Badan POM telah mengeluarkan persetujuan penggunaan EUA vaksin CoronaVac untuk usia dalam atas 60 tahun dengan dosis dua suntikan vaksin yang dikasih dalam selang waktu 28 hari, ” ungkap Penny.

Penny juga mengungkapkan setelah dikeluarkannya EUA untuk vaksin COVID-19 Sinovac, pihaknya akan segera mengevaluasi vaksin merk lain yang akan dimanfaatkan pemerintah dalam program vaksinasi massal. Vaksin-vaksin tersebut, ujarnya, harus sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia ( World Health Organization/WHO ).

“Sudah tersedia beberapa yang berproses, yaitu AstraZeneca, Sinopharm, dan Novavax itu sudah berproses karena memang sudah ada komitmen dengan pemerintah sehingga prosesnya sudah bisa berjalan, ” katanya. [gi/ah]