Pemerintah Siapkan Relokasi Warga Terdampak Semeru

0
139

Tekad menyiapkan tempat relokasi permukiman warga yang terkena dampak langsung awan panas dan guguran lahar Gunung Semeru Sabtu (4/12) lalu itu disampaikan Bupati Lumajang Thoriqul Haq dalam konferensi pers virtual Selasa malam (7/12).

Thoriqul Haq mengatakan, “Presiden juga setuju, masyarakat yang sekarang berada di daerah bencana, yang rumahnya terkubur, kemudian ladangnya juga tertutup awan panas, Presiden berencana melakukan relokasi. Dan relokasi ini adalah pilihannya di atas tanah milik negara.”

Saat ini, warga yang terkena dampak bencana Gunung Semeru telah mengungsi di lebih dari 40 lokasi pengungsian. Beberapa lokasi dinilai sudah tidak memadai lagi untuk menampung warga yang mengungsi, sehingga pemerintah memutuskan untuk memindahkan lokasi pengungsian ke sejumlah sekolah di sekitar Lumajang.

“Lokasinya saat ini di beberapa fasilitas umum, di balai desa, di kantor kecamatan, akan segera kami relokasi ke sekolah-sekolah. Saat ini kami sedang menginventarisasi beberapa sekolah baik SD, SMP, maupun SMA yang bisa dijadikan shelter,” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo meninjau infrastruktur yang tertimbun lahar dingin di Jalan Penghubung Lumajang-Malang, serta Jembatan Besuk Koboan yang ambruk di Kecamatan Candipuro, 7 Desember 2021. (Twitter/@Jokowi). Jembatan ini dibangun pada tahun 1998.

Komandan Posko Tanggap Darurat Dampak Bencana Awan Panas dan Air Terjun Gunung Semeru, Kolonel Inf. Irwan Subekti mengatakan hingga pekan depan tim gabungan yang dipimpinnya masih akan mencari warga yang hilang.

Pencarian korban dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca di kawasan Gunung Semeru, serta kewaspadaan akibat peningkatan tanda-tanda aktivitas vulkanik, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Irwan Subekti mengaku pencarian korban dan evakuasi terkendala pasir atau tanah panas, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam melakukan pencarian. “Ini kendala yang sangat berat, kenapa? karena sampai saat ini daerah yang terkena pasir, tanahnya masih panas. Jadi kami bahkan tidak berani melakukan penggeledahan di tempat-tempat yang kondisinya masih panas,” ujarnya.

Warga membawa ternaknya untuk dievakuasi pasca erupsi Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Provinsi Jawa Timur (6/12).  (Foto: Antara/ Zabur Karuru via REUTERS)

Warga membawa ternaknya untuk dievakuasi pasca erupsi Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Provinsi Jawa Timur (6/12). (Foto: Antara/ Zabur Karuru via REUTERS)

Data Posko Tanggap Darurat pada Selasa (7/12) mencatat, 34 orang meninggal dunia akibat awan panas dan aliran lahar Gunung Semeru, 22 orang hilang, 22 orang luka-luka, dan 4.250 orang terpaksa mengungsi. Sedangkan wilayah terdampak meliputi 17 desa di 10 kecamatan di Kabupaten Lumajang.

Plt, Kepala Pusat Data Komunikasi dan Informasi Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, mengatakan upaya pemulihan terus dilakukan, seperti membangun jembatan gantung sementara atau jembatan pengganti Gladak Perak yang rusak. Abdul Muhari juga mengatakan bahwa pemulihan jaringan listrik telah dilakukan, untuk membantu mempercepat upaya pemulihan.

“Sulang yang terkena erupsi satu unit sudah menyala, sehingga selesai 100 persen. Gardu distribusi yang terdampak 112 unit, 112 unit sudah menyala, sehingga pulih 100 persen. Untuk 30.523 pelanggan terdampak, masih ada 2.482 yang dicocokkan sehingga 28.041 unit sudah menyala dengan persentase 91,8 persen. pemulihan,” pungkasnya. [pr/em]