Pengadilan Pakistan meminta dinas intelijen untuk tidak menangkap jurnalis TV

0
22

Pengadilan di Islamabad memerintahkan FIA, sebuah badan intelijen Pakistan, untuk tidak menangkap pembawa berita televisi yang dituduh menyebarkan berita palsu dan konten kebencian di media sosial terhadap militer, kata rekan-rekannya, Rabu.

Wartawan Sami Abrahim saat ini berada di Amerika Serikat dalam kunjungan pribadi dan akan kembali ke tanah airnya minggu ini, menurut pengacaranya, Raja Amir Abbas.

Rekan-rekan Abrahim mengatakan pengadilan di Islamabad memerintahkan FIA pada hari Selasa untuk mengizinkan jurnalis televisi itu tetap bebas setidaknya sampai dia menghadiri tanggal jatuh tempo pengadilan sebelum 16 Mei.

Perkembangan terakhir terjadi di tengah kampanye yang sedang berlangsung melawan militer oleh aktivis media sosial dan Tehreek-e-Insaf, partai mantan perdana menteri Imran Khan yang digulingkan dari kekuasaan bulan lalu dalam mosi tidak percaya di parlemen.

Khan sendiri secara terbuka mengkritik kepala militer negara itu, Jenderal Qamar Javed Bajwa, tanpa menyebut namanya secara langsung. Khan mengklaim dia digulingkan dari kekuasaan oleh plot AS yang dijalankan oleh lawan politiknya. Washington membantah tuduhan itu, dan pihak berwenang Pakistan telah mendesak orang-orang untuk tidak menyebarkan apa yang mereka sebut “berita palsu” terhadap lembaga-lembaga nasional, termasuk militer dan peradilan.

Dalam sebuah pernyataan sehari sebelumnya, Komisi Perlindungan Jurnalis yang berbasis di New York juga meminta pihak berwenang Pakistan untuk menghentikan penyelidikan mereka terhadap jurnalis Sami Abraham. Dalam pernyataan terpisah, mereka juga meminta Pakistan untuk melakukan penyelidikan cepat dan tidak memihak atas serangan polisi terhadap jurnalis Jahangir Hayat yang ditahan sebentar bulan ini oleh polisi bersama istri dan putrinya di kota Lahore.

Pakistan telah lama dianggap sebagai negara yang tidak aman bagi jurnalis. Pada tahun 2020, negara ini menduduki peringkat kesembilan pada Indeks Impunitas Global tahunan Komisi untuk Perlindungan Jurnalis. Organisasi tersebut secara teratur melakukan penilaian terhadap negara-negara di mana jurnalis sering menjadi korban pembunuhan dan di mana para penyerang telah dibebaskan. [ab/uh]