Perusahaan Kereta Api Besar Jepang Hanya Menggunakan Energi Terbarukan

0
38

Keputusan Tokyu untuk mengambil pendekatan ramah lingkungan sebenarnya dimulai pada 1 April. Dengan keputusan itu, emisi karbon dioksida Tokyu untuk jaringan tujuh jalur kereta api, satu layanan trem, dan semua stasiunnya, akan menjadi nol mulai bulan keempat tahun 2022.

Yoshimasa Kitano, Asisten Manajer Tokyu, mengatakan semua peralatan yang digunakan perusahaannya mengandalkan sumber energi ramah lingkungan, bahkan untuk mesin penjual otomatis, layar kamera keamanan, dan penerangan.

“Listrik yang kami gunakan sekarang hanya dihasilkan dari tenaga surya, angin, hidro, panas bumi, biomassa. Kami dapat melacak dari mana semua energi yang kami terima berasal berkat sistem sertifikasi,” jelas Kitano.

Penumpang melewati gerbang tiket di Stasiun Kereta Api Shibuya Tokyu, Tokyo, Rabu, 20 April 2022. (AP/Eugene Hoshiko)

Tokyu, yang mempekerjakan 3.855 orang dan menghubungkan Tokyo dengan Yokohama di dekatnya, adalah operator kereta api pertama di Jepang yang mencapai tujuan itu. Selain teknologi pembangkit listrik yang ramah lingkungan, Tokyu juga menggunakan baterai dan tenaga hidrogen

Masahiko Sakamoto, asisten manajer lain dari Tokyu, mengatakan pengurangan emisi karbon dioksida perusahaannya setara dengan emisi rata-rata tahunan 56.000 rumah tangga Jepang.

“Kami ingin pelanggan kami memahami bahwa naik kereta api Tokyu sebenarnya berarti mengambil tindakan yang berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan melalui pengurangan emisi karbon,” jelasnya.

Apa yang dilakukan Tokyu sangat penting bagi Jepang, penghasil karbon terbesar keenam di dunia, untuk mencapai tujuannya menjadi netral karbon pada tahun 2050.

Penumpang melewati gerbang tiket di Stasiun Kereta Api Shibuya Tokyu di Tokyo, Jepang, 20 April 2022. (AP/Eugene Hoshiko)

Penumpang melewati gerbang tiket di Stasiun Kereta Api Shibuya Tokyu di Tokyo, Jepang, 20 April 2022. (AP/Eugene Hoshiko)

Hanya sekitar 20 persen listrik Jepang berasal dari sumber terbarukan, menurut Institute for Sustainable Energy Policy, sebuah organisasi riset nirlaba independen yang berbasis di Tokyo.

Jepang masih tertinggal jauh dibandingkan Selandia Baru, di mana 84 persen listrik yang digunakannya berasal dari sumber energi terbarukan. Selandia Baru sendiri berharap bisa mencapai 100 persen pada 2035.

Sejak bencana nuklir Fukushima, Jepang telah menutup sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklirnya dan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Negara ini bertekad untuk mendapatkan 36 hingga 38 persen energinya dari sumber terbarukan pada tahun 2030, sambil memotong penggunaan energinya secara besar-besaran. [ab/uh]