Pondok Waria, Tempat Aman bagi Minoritas Gender Mendalami Ilmu Agama

0
150

Di Yogyakarta, Shinta Ratri, seorang perempuan transgender, merasakan sebuah kebutuhan di tengah komunitasnya.

“Kami ini tidak cuma waria yang… begitu saja. Kami ini manusia dengan punya kebutuhan yang sepadan dengan orang lain. Keinginan makan, kebutuhan rumah, kebutuhan hiburan, bahkan kebutuhan rohani untuk beribadah, ” katanya.

Hal itu mendorongnya mendirikan Pesantren Al-Fatah pada tahun 2008, dengan menjadi pusat kajian pegangan Islam bagi transpuan – atau kerap disebut waria – seperti dirinya, sekaligus menyediakan ruang aman untuk mereka untuk belajar dasar-dasar beribadah.

Wahyu Triatmojo (tengah/kemeja batik) dari Dinas Koperasi dan UKM DIY menjelaskan tentang pemetaan bisnis kepada peserta pelatihan memijat dan tata rias untuk para waria pengamen dan PSK di pesantren Al Fatah. (foto:VOA/Munarsih).

Wahyu Triatmojo (tengah/kemeja batik) dibanding Dinas Koperasi dan UKM DIY menjelaskan tentang pemetaan bisnis kepada peserta pelatihan memijat dan tata solek untuk para waria pengamen dan PSK di pesantren Al Fatah. (foto: VOA/Munarsih).

“Fenomena yang ada itu ketika waria itu beribadah di ruang jemaah, itu di sana timbul ketidaknyamanan, baik itu yang tidak nyaman para warianya, atau bahkan jamaahnya sendiri, terjadi bullying, bisik-bisik, dikerumunin anak-anak, ” kata Shinta.

Meski berkecukupan di ruang yang damai, salat berjamaah memunculkan tantangan tersendiri bagi para transpuan. Ada yang memilih doa di barisan jamaah laki-laki, ada pula yang berbaur di barisan jamaah rani.

“Perlu diketahui juga waria ini ada dua fenomena, yang tetap memilih memakai sarung ketika beribadah atau yang mematuhi mukena. Kebanyakan orang sedang memilih memakai sarung, umum waria, dengan alasan sendiri-sendiri. Semuanya di sini kita bebaskan atas dasar kenyamanan, ” kata Shinta.

Shinta Ratri sendiri mengidentifikasi dirinya sebagai rani saat beribadah. Begitu juga Rully Malay, salah seorang jamaah di pesantren itu.

“Tentunya ukuran nilai dibanding manusia itu tidak ditentukan oleh pakaiannya atau arah seksualnya, tapi bagaimana tempat menjaga laku hidupnya serta melakukan ibadah-ibadahnya, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama manusia, juga alam seluruh, ” ujar Rully.

Kajian di Pondok Al-Fatah dipimpin oleh ustadz yang mengajar secara manasuka, seperti Arif Muhammad Safri, dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

“Tapi bahwa saya ingin mengartikan bahwa agama itu harus memberikan kenyamanan terhadap siapapun, termasuk kepada teman-teman transpuan. Udah lah, jauhkan aja dulu stigma, jauhkan aja dulu halal-haram. Kalau kata macam masalah tadi tersebut, maka memang saya angkat agama yang memang bisa membuat kenyamanan terhadap itu, ” tuturnya.

Seperti masyarakat transgender di banyak negeri, transpuan di Indonesia serupa kerap termarjinalkan, dengan kanal pendidikan dan pekerjaan yang terbatas. Banyak di antaranya menjadi pekerja seks. Mau tetapi, alih-alih menghakimi, Safri memilih memberikan pelajaran petunjuk yang bersifat lebih praktis untuk kebutuhan beribadah sehari-hari, seperti salat lima periode yang mensyaratkan kebersihan diri.

“Harus beta akui bahwa teman-teman sedang banyak yang aktif buat menjajakan diri. Saya berpikir, jangan-jangan di antara teman-teman juga masih banyak yang nggak bisa cara mandi wajib, ya seperti itu. banyak teman-teman yang doa juga misalnya, harus sesuai apa toh salat tersebut? ” kata Arif.

Pesantren Al-Fatah kini memiliki 63 anggota. Di setiap hari Minggu, mereka berhimpun untuk mengkaji Al-Qur’an dan mendalami ajaran Islam – sebuah oasis pemberdayaan untuk komunitas yang hidup di tengah sebagian besar asosiasi yang keras dan persetujuan. [rw/lt]