Rumah Tahan Gempa Jadi Solusi Bencana Gempa

0
63

Pj Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengimbau semua pihak untuk memperkuat struktur rumah agar tidak mudah roboh saat terjadi gempa. Panggilan itu dilakukan setelah gempa berkekuatan 4,8 skala Richter melanda Bali dan merusak 1.987 rumah.

“Dengan rincian 347 rumah rusak berat, 135 rumah rusak sedang, dan 1.415 rumah rusak ringan,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers online, Jumat (22/10) siang.

Pj Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari. Jumat (22/10/2021) (Foto: Screenshot)

Penguatan struktur bangunan, kata Abdul, tidak hanya diperlukan untuk rumah yang akan dibangun di masa depan, tetapi juga untuk rumah lain yang sudah dibangun tanpa memperhatikan aturan bangunan tahan gempa.

“Kita melihat tingkat kerawanan bangunan kita yang tentunya juga akan berdampak pada tingkat kerawanan manusia di dalam bangunan yang perlu mendapat perhatian dan perhatian kita,” kata Abdul Muhari.

Ia mengakui perlunya upaya mengedukasi masyarakat untuk bisa membangun rumah tahan gempa dengan cara sederhana dan murah yang bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat.

Mitigasi dengan Rumah Tahan Gempa

Profesor Fauzan dari Pusat Studi Bencana Universitas Andalas, Sumatera Barat menjelaskan penerapan teknologi ferosemen menggunakan anyaman kawat.  Jumat, (22/10/2021) (Foto: Screenshot)

Profesor Fauzan dari Pusat Studi Bencana Universitas Andalas, Sumatera Barat menjelaskan penerapan teknologi ferosemen menggunakan anyaman kawat. Jumat, (22/10/2021) (Foto: Screenshot)

Profesor Fauzan dari Pusat Kajian Bencana Universitas Andalas, Sumatera Barat, mengatakan penguatan rumah masyarakat agar tahan gempa bisa menggunakan teknologi. ferroocement layar atau anyaman kawat yang dilapisi dengan mortar semen. Selama rumah masih berdiri tegak setelah gempa, bangunan masih bisa diperbaiki dan diperkuat.

Kawat anyaman yang ada di pasaran dijual dengan harga sekitar Rp. 15 ribu per meter, dipaku pada dinding bata atau batako di sudut dinding, serta di bagian atas dan bawah dinding kemudian diplester.

“Kelebihannya kuat, sudah kami uji di meja getar, masih murah, 30 persen lebih murah dibanding kalau pakai tulangan lain, kebanyakan tulangan lain pakai besi,” kata Fauzan saat konferensi pers.

Ferrosement dapat juga diterapkan untuk memperbaiki dinding rumah yang retak dengan cara plesteran lama disekitar retakan dikupas kurang lebih 50 cm, kemudian bagian yang retak tersebut diisi dengan air semen. Setelah celah rapat, anyaman dipasang dan dinding diplester ulang dengan campuran satu semen versus tiga pasir.

analisa BMKG

Koordinator Penanggulangan Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono menjelaskan, gempa Agung-Batur dapat menimbulkan kerusakan akibat gempa dangkal akibat aktivitas penyebaran aktif antara Gunung Agung dan Gunung Batur. Kedalaman hiposenter gempa 10 kilometer, bangunan di bawah standar, dan efek tanah lunak dari endapan lahar membuat guncangan gempa terasa sangat kuat.

Gempa berkekuatan 4,8 skala richter mengguncang Bali dan sekitarnya pada Sabtu (16/10) pukul 04.18 WITA.  (Foto: Courtesy/Basarnas)

Gempa berkekuatan 4,8 skala richter mengguncang Bali dan sekitarnya pada Sabtu (16/10) pukul 04.18 WITA. (Foto: Courtesy/Basarnas)

Gempa tersebut terjadi pada 16 Oktober 2021 pukul 16.18 WITA. Guncangan meliputi Karangasem, Bangli, Gianyar, Buleleng, Badung, Denpasar dan Tabanan. Guncangannya cukup lebar hingga mencapai Banyuwangi di bagian barat dan seluruh Lombok Timur.

Gempa Besar Batur tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah, tetapi gempa juga memicu efek samping seperti tanah longsor dan bebatuan yang berjatuhan.

Sebagai upaya mitigasi, masyarakat yang tinggal di pegunungan tengah Bali tidak hanya perlu membangun bangunan tahan gempa atau ramah, tetapi juga harus memperhatikan geologi lingkungan berdasarkan risiko gempa. Salah satunya dengan tidak membangun rumah di lereng bukit terjal yang rawan longsor dan runtuhan batu.

Sebuah minivan tertimpa balok beton yang jatuh dari gedung setelah gempa mengguncang Bali, 13 Oktober 2011. (Foto: REUTERS/Zul Eduardo)

Sebuah minivan tertimpa balok beton yang jatuh dari gedung setelah gempa mengguncang Bali, 13 Oktober 2011. (Foto: REUTERS/Zul Eduardo)

Sejarah Gempa di Bali

Menurut catatan BMKG, sejarah gempa di Bali kerap menimbulkan dampak susulan berupa longsor yang menelan banyak korban jiwa. Gempa Bali 22 November 1815 menyebabkan lereng perbukitan di Bali runtuh dan menelan korban jiwa. Retakan di tanah tersebar di banyak tempat, bahkan ada yang memotong Danau Tamblingan dan menyebabkan banjir besar.

Gempa Bali pada 21 Januari 1917, sekitar 80 persen dari jumlah korban gempa disebabkan oleh tanah longsor dengan total 1.500 orang meninggal dunia.

Gempa Seririt 14 Juli 1976 menyebabkan likuifaksi dan memicu banyak retakan tanah dan longsor. Retakan tanah dan longsoran tebing dilaporkan terjadi di daerah Pupuan, Tabanan, dan Bukit Geger, Kabupaten Buleleng. Korban tewas akibat gempa Seririt mencapai 559 orang dengan lebih dari 30 ribu rumah rusak. [yl/ah]