Selandia Baru Minta Maaf Berasaskan Tindakan Imigrasi Masa Awut-awutan

0
156

Pemerintah Selandia Baru meminta maaf atas penindakan keimigrasian yang keras hampir 50 tahun lalu terhadap orang-orang Pasifik. Pengumuman permintaan maaf itu secara resmi disampaikan Pertama Menteri Jacinda Ardern dan Menteri Urusan Orang-orang Pasifik Aupito William Sio, Senin (14/6).

Berbarengan mengumumkannya, Sio mengungkapkan sungguh ia mengenang hari yang menakutkan selama masa kecilnya ketika sejumlah polisi secara anjing gembala Jerman menjelma di rumah keluarganya sebelum fajar dan menyorotkan senter ke wajah mereka tengah ayahnya berdiri di kian tak berdaya. Sio, serta seperti banyak orang-orang Pasifik lainnya, saat itu menjelma korban program deportasi yang saat ini dikenal sebagai Dawn Raids atau Penggerebekan Fajar.

Saat itu, sekitar pertengahan 1970-an, orang-orang Kepulauan Pasifik menjadi sasaran deportasi pemerintah. Pihak berwenang melakukan penggerebekan lantaran rumah ke rumah secara agresif untuk menemukan, menganiaya, dan mendeportasi orang dengan tinggal lebih lama daripada izin tinggalnya. Penggerebekan itu sering dilakukan pada dini hari atau larut malam.

“Kami sebagai komunitas merasa diundang untuk datang ke Selandia Baru. Kami menanggapi panggilan untuk mengisi kebutuhan gaya kerja, seperti kami menutup panggilan akan kebutuhan prajurit pada tahun 1914, ” kata Sio. Namun lalu, katanya, pemerintah mengabaikan mereka ketika merasa para pelaku itu sudah tidak dibutuhkan lagi.

Ardern mengatakan bahwa pada zaman itu, orang-orang yang tak terlihat seperti orang kulit putih Selandia Baru diberitahu mereka harus membawa surat identitas untuk membuktikan bahwa mereka tidak melebihi kerelaan tinggal, dan sering diperiksa secara acak di timah, atau bahkan di sekolah atau gereja. Ia mengatakan orang-orang Pasifik sering diseret ke pengadilan dengan hanya mengenakan pakaian tidur mereka dan tanpa perwakilan lembaga yang layak.

“Tidak hanya diincar, mereka juga menjadi sasaran pengerjaan yang benar-benar tidak manusiawi, yang benar-benar meneror orang-orang di rumah mereka, ” kata Ardern.

Ia mengutarakan bahwa ketika catatan imigrasi terkomputerisasi mulai diperkenalkan di dalam 1977, fakta menunjukkan kalau 40% dari mereka yang melebihi izin tinggal umumnya orang Inggris atau Amerika, kelompok yang tidak pernah menjadi target deportasi.

“Penggerebekan itu, menciptakan luka yang dalam, ” kata Ardern. “Sementara kita tidak dapat mengubah sejarah, kita dapat mengakuinya, dan kita dapat berusaha buat memperbaiki kekeliruan. ”

Permintaan maaf bertambah resmi akan dilangsungkan pada acara peringatan peristiwa tersebut pada 26 Juni pada Auckland. Ardern mengatakan tersebut adalah ketiga kalinya negeri membuat permintaan maaf kaya itu. [ab/uh]