Semakin menjamur Warga AS yang Mencari Sandaran Pangan

0
573

Organisasi bantuan kelaparan, Feeding America, mengatakan semakin banyak orang yang mencari bantuan di bank-bank makanan di seantero GANDAR.

Phyllis Marder meninggalkan menjadi sopir Uber segera setelah pandemi virus corona melanda.

Kini ia tengah pengganggu dan mengaku tak lagi merasakan malu untuk mendatangi dapur umum demi bertahan hidup.

“Saya lalu memutuskan bahwa menyimpan ini membuat situasi semakin suram dan membuat saya semakin merasa bersalah. Akhirnya, saya memutuskan bahwa lebih penting untuk membicarakannya (secara terbuka), misalnya bahwa ‘saya harus membayar tagihan listrik dan berangkat ke dapur umum, ” sekapur Phyllis Marder.

Banyak warga Amerika lainnya seperti Phyllis.

Feeding America, salah satu organisasi terbesar di Amerika yang memerangi kelaparan, mengatakan bahwa jumlah orang yang mencari sandaran pangan telah meningkat sekitar 60 persen sejak pandemi dimulai.

Bank sasaran dan lembaga nonprofit membantu itu bertahan.

Briana Dominguez, ibu dua anak, mengaku mulai lebih sering ke dapur ijmal setelah kekasihnya kehilangan pekerjaan.

Ia sendiri akan kehilangan pekerjaannya dalam dua minggu. Dominguez berharap bank makanan Illinois, bernama dapur Hillside, akan membantu dia dan keluarganya bertahan.

“Saya tidak tahu apa dengan akan saya lakukan kalau saya kehilangan pekerjaan. Saya tidak terang apa yang akan saya perbuat jika tidak ada dapur Hillside. Pasti akan sangat sulit, ” kata Briana Dominguez.

Warga New Orleans, Norman Butler, telah menjadi pengangguran. Ia mengiakan ia dan keluarganya akan kelaparan tanpa bantuan pangan.

“Jika bukan berkat orang-orang yang mempersilakan kita menjemput bantuan makanan untuk kita bawa pulang, kita pasti sudah sulit. Saya yakin, kita pasti sudah kelaparan, ” jelasnya.

Butler mengatakan ia tidak seberuntung banyak warga Amerika lainnya dengan bisa tetap bekerja dari sendi selama pandemi.

“Tidak semua orang bisa bekerja lantaran rumah, dan tidak semua orang punya karir di mana mereka cukup bekerja di depan jinjing dan tetap digaji. Orang dengan seperti saya, seorang sopir limusin, sopir bus antar-jemput, pelayan, ” imbuh Norman Butler.

Sambil menaruh sebongkah keju pada kulkasnya, Butler berkata, “Ini yang namanya berkah. ” [rd/jm]