Sendok Kreatif Berdayakan UKM Kuliner di Bali Selama Pandemi

0
71

Mariance Putri Simatupang sangat terpukul ketika mendengar kabar bahwa mulai 1 April 2020, ia akan diberhentikan dari pekerjaannya di divisi pemasaran Kuta Beach Heritage Hotel Bali. Ia bingung karena suaminya yang juga bekerja di industri yang sama juga mendapat kabar serupa terkait pekerjaannya. Dia pernah bertanya-tanya: Bagaimana dia, suaminya dan anak kecil mereka bertahan hidup di Bali?

Pulang ke kampung halamannya di Sibolga, bukanlah pilihannya. Mengandalkan tabungan juga mungkin bukan solusi mengingat ukurannya juga terbatas dan dia tidak tahu kapan pandemi akan berakhir.

Setelah memeras otak, Ance – begitu ia biasa disapa – berpikir untuk memulai bisnis ikan teri goreng. Respon dari konsumen yang umumnya berteman positif, namun sejauh mana usaha kecil itu menopang kehidupan keluarga. Bagaimana bisnis bisa bertahan dari pandemi ketika banyak orang juga mengalami kesulitan keuangan?

Mariance Putri Simatupang: Sendok Kreatif mendongkrak popularitas produk makanan GOMAK (foto: courtesy).

Tapi itu cerita masa lalu. Kisahnya terjadi sebelum bisnis rumahnya bersinggungan dengan Sendok Kreatif, sebuah organisasi yang berupaya memberdayakan UKM kuliner di Bali seperti Ance.

Ance yang kini telah kembali bekerja di Kuta Beach Heritage, meski memiliki jam kerja terbatas akibat okupansi hotel yang rendah, mengaku sulit melupakan jasa Creative Spoons.

“Sebelum saya bergabung dengan Creative Spoon, hanya orang yang saya kenal yang membeli ikan teri saya. Saat mengikuti Creative Spoons, bahkan orang yang tidak tahu beli dan selalu repeat order,” jelas Ance.

Aneka produk makanan ikan teri GOMAK (foto: courtesy).

Aneka produk makanan ikan teri GOMAK (foto: courtesy).

Spoon Creative membantu membangun bisnis GOMAK Food dengan berbagai cara, mulai dari mengarahkan proses produksi yang lebih berkualitas (seperti pengurangan minyak); menghitung biaya; mengubah kemasan agar terlihat lebih menarik dan ramah lingkungan; hingga pencitraan di media sosial (branding) agar produknya bisa menarik dan melekat di benak konsumen.

“Jadi mereka memberi kami kompor. Kompor tambahan. Beri kami beberapa peralatan memasak. Mereka bertanya kepada kami, ‘Apa yang Anda butuhkan?’” tambahnya.

Ance yang kini menjalankan bisnis ini pun tidak sendirian. Ia dibantu oleh sepupunya, Esty Adelina Sihombing, yang sebelumnya bekerja sebagai kasir di sebuah restoran mewah bernama Potato Head di Bali. Untuk memastikan kualitas, mereka sengaja mendatangkan ikan teri segar langsung dari Sibolga sebagai bahan baku utama produk makanan GOMAK – Ikan Teri Baladoo Medan, Ikan Teri Medan Crispy dan Sambal Ikan Teri.

Wayan Kresna Yasa - Koki eksekutif Potato Head Bali (foto: courtesy).

Wayan Kresna Yasa – Koki eksekutif Potato Head Bali (foto: courtesy).

“Kakak saya tinggal di daerah pesisir yang menghasilkan ikan teri. Jadi ketika saya membutuhkannya, kakak saya memberi tahu para nelayan setempat untuk mencari ikan teri yang berkualitas baik. Sama sekali tidak dengan bahan pengawet,” lanjut Ance.

I Nyoman Sudiasa juga mengalami hal serupa. Karena pandemi, jam kerja di salah satu distributor anggur dan minuman keras terbesar di Asia Tenggara telah dipotong secara drastis, dan pendapatan anjlok. Meskipun dia tidak memiliki tanggung jawab ringan – istri dan tiga anaknya. Pria yang sudah 20 tahun bekerja di industri perhotelan di dalam dan luar negeri ini kemudian mencoba bisnis minuman dengan menitipkan infusa arak buatannya ke warung adiknya di Tabanan.

Bisnis barunya, yang sebelumnya tidak menjanjikan, berkembang setelah berhubungan dengan Creative Spoons. Ia meningkatkan kualitas produknya, mengubah tampilan kemasan dan menggunakan media sosial untuk memperluas pasar. Atas arahan organisasi, ia juga mengubah nama produknya dari Sip n Brew, setelah warung adiknya, menjadi Tiga Bersaudara, untuk mencerminkan dedikasi dan cintanya kepada ketiga putranya.

I Nyoman Sudiasa dan Putranya – Bisnis minumannya semakin berkembang setelah berhubungan dengan Spoon Kreatif (foto: courtesy).

I Nyoman Sudiasa dan Putranya – Bisnis minumannya semakin berkembang setelah berhubungan dengan Spoon Kreatif (foto: courtesy).

“Perubahannya signifikan. Setelah kemasan dan lainnya dibuat, Bu Landri dan tim mengajak saya dan teman-teman mengadakan bazar untuk memperkenalkan merek masing-masing. Hasilnya, penjualan meningkat signifikan. Bahkan, setelah Bu. Landri mengundang media dan mewawancarai saya, selama sebulan penjualan meningkat signifikan,” kata Sudiasa.

Landri Sudiasa yang dimaksud adalah Landriati Pramoedji, konsultan restoran dan hotel serta CEO Dine & Wine Bali, yang kebetulan merupakan salah satu dari empat pendiri Sendok Kreatif.

Three Bothers kini telah memproduksi infused wine dengan 10 aroma. Usaha yang dikelola Sudiasa saat ini juga mencoba melebarkan sayapnya dengan menawarkan bir jahe dan bumbu wedang.

Three Bothers - Menawarkan infused wine dengan berbagai aroma (foto: courtesy).

Three Bothers – Menawarkan infused wine dengan berbagai aroma (foto: courtesy).

Menurut Sudiasa, Spoon Kreatif berbeda dengan organisasi sosial pada umumnya. Organisasi ini bertujuan untuk memberdayakan usaha kuliner skala kecil.

“Yang banyak saya lihat ketika pandemi melanda, banyak orang yang berusaha mengumpulkan uang dan sembako untuk kemudian dibagikan kepada teman-teman yang kurang beruntung atau terdampak. Sendok Kreatif tidak seperti itu. Mereka mengumpulkan sumbangan tetapi kemudian membagikannya pengetahuan,” jelas Sudiasa.

Menurut Landriati, yang dilakukan Sendok Kreatif bukan membantu pengusaha kecil bertahan hidup dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang. Misi utama organisasi adalah untuk memberdayakan mereka dengan memberi mereka pelatihan dan arahan, dan jika perlu, alat dasar untuk meningkatkan bisnis.

“Pelatihan pertama adalah mengajarkan mereka tentang pentingnya merek, dan memastikan produk sesuai dengan konsep pribadi pengembang. Kedua, ajari mereka tentang pentingnya menghitung biaya. Memproduksi suatu produk tidak hanya berarti membeli bahan-bahannya lalu menjualnya,” kata Landriati.

Menurutnya, banyak pengusaha yang belum memahami pentingnya arti sebuah merek dan arti kemasan. Creative Spoons mencoba membangun kesadaran mereka akan pentingnya dua hal ini. Selain itu, kata dia, dengan semakin meningkatnya kesadaran akan lingkungan, pihaknya bersama timnya ingin mengajak para pengusaha tersebut untuk melakukan pendekatan produksi yang ramah lingkungan, atau sebisa mungkin mengurangi residu produk yang merusak lingkungan.

Menurut perempuan Bali yang sudah puluhan tahun tinggal di Jerman ini, Sendok Kreatif lahir dari keprihatinan dirinya dan teman-temannya akan nasib masyarakat Bali yang bekerja di industri pariwisata.

“Misi utama kami adalah membantu orang-orang yang bekerja di sektor perhotelan, yang diberhentikan karena pandemi. Karena di Bali banyak orang yang bekerja di sektor itu,” tambahnya.

Penutupan pariwisata berarti ribuan orang Bali kehilangan pekerjaan, katanya. Dia ingin membantu menghilangkan gambaran suram ini. Ia kemudian berinisiatif menghubungi executive chef Potato Head Bali Wayan Kresna Yasa. Wayan menanggapi positif. Landriati kemudian berbagi ide dengan Heru Dwi Soesilo, konsultan hotel dan restoran, dan Nadya Puspa, seorang desainer grafis, dan mereka menyambut keinginannya. Singkatnya, setelah serangkaian pertemuan, Sendok Kreatif lahir pada tahun 2020.

Empat Pendiri Sendok Kreatif: Heru Dwi Soesilo, Landriati Pramoedji, Wayan Kresna Yasa dan Nadya Puspa (foto: courtesy).

Empat Pendiri Sendok Kreatif: Heru Dwi Soesilo, Landriati Pramoedji, Wayan Kresna Yasa dan Nadya Puspa (foto: courtesy).

“Saya menyarankan untuk memberdayakan masyarakat Bali, bukan dengan makanan tetapi dengan peralatan dasar memasak dan modal awal. Dorong mantan koki, juru masak, dan asisten dapur untuk menyalakan semangat kewirausahaan mereka dengan membuat barang-barang in-house untuk dijual. Jadi mereka bisa menghidupi keluarga dan membayar tagihan mereka,” Landriati.

Spoon Creative mengajarkan kandidat terpilih tentang branding, tagar, strategi pemasaran, pengemasan, dan penetapan biaya. Identitas merek disesuaikan dengan konsep dan visi pengusaha. Platform media sosial seperti Instagram dan Facebook diaktifkan untuk mengelola konten secara efisien. Bantuan distribusi produk juga diberikan melalui kanal Sendok Kreatif, website, media sosial, dari mulut ke mulut, dan peluang baru bersama mitra dan komunitas.

Dalam setahun, Sendok Kreatif telah memberdayakan tujuh unit usaha kecil, dan saat ini sedang membantu beberapa unit lainnya. Organisasi ini mendapatkan dana operasionalnya dari penjualan t-shirt, dan sumbangan dari individu dan restoran. Landriati mengatakan, Sendok Kreatif masih membutuhkan dukungan lebih. masyarakat untuk dapat terus mengabdi kepada masyarakat. [ab/uh]