“Sosiopreneur” Atasi Masalah dengan Memberdayakan Orang

0
53

Lusia Kiroyan menangis ketika perempuan dijebloskan ke penjara dan tidak ada kegiatan yang memberdayakan mereka. Berbasis di Pulau Batam, ia kemudian mendirikan bisnis “Gadis Batik”, mempekerjakan narapidana wanita untuk memproduksi pakaian indah untuk boneka mirip Barbie.

“Hukuman penjara rata-rata 80 persen karena kasus narkoba dan anak muda yang kena, dan hukumannya juga lama. Kami akhirnya membuat program untuk mereka,” katanya.

Para wanita, sekitar 150 dari tiga penjara, sekarang bekerja untuk Lucia. Seperti pekerja, mereka menerima gaji.

Lusia Kiroyan dan boneka yang pakaiannya diproduksi oleh 150 tahanan wanita. (dok pribadi)

Pada tahun 2014, Riza Azyumarridha Azra dihebohkan dengan keluhan petani singkong di kampung halamannya Banjarnegara ketika hasil panen mereka senilai Rp. 200 per kilogram, jauh lebih rendah dari biaya produksi pohon singkong. Ia juga melihat indeks pembangunan manusianya paling rendah di Jawa Tengah.

Berbasis di kota itu, ia mendirikan Rumah Mocaf Indonesia. Kini, perusahaan memberdayakan 600 petani singkong dan keluarga besarnya yang terbagi dalam tiga klaster.

Pendiri dan salah satu pendiri Rumah Mocaf Indonesia Riza Azyumarridha Azra dan Wakhyu Budi Utami: "Kesejahteraan petani singkong."(dok. Rumah Mocaf).

Pendiri dan salah satu pendiri Rumah Mocaf Indonesia Riza Azyumarridha Azra dan Wakhyu Budi Utami: “Kesejahteraan petani singkong.”(doc. Rumah Mocaf).

“Kluster pertama, petani singkong. Klaster kedua, ibu-ibu pengrajin mocaf di desa-desa yang mengolah singkong pasca panen. Dan kelompok ketiga, orang-orang muda yang tugasnya melakukan kontrol kualitas, branding, pengemasan, sertifikasi lisensi, dan inovasi produk turunan serta menjalin kerjasama dengan beberapa pemangku kepentingan dan media.”

Di Makassar, Boedi Julianto memberdayakan masyarakat pesisir yang membudidayakan rumput laut. Dia tidak hanya membantu menjual tetapi juga mengembangkan produk turunan rumput laut. Ia menjelaskan mengapa memilih jalur sociopreneur.

Boedi Julianto (ketiga dari kanan): "Penting, berpihak pada petani pesisir." (dok pribadi)

Boedi Julianto (ketiga dari kanan): “Yang penting berpihak pada petani pesisir.” (dok pribadi)

“Pertama, sebagai umat Islam, kita adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan alam. Itu akan menjadi motivasi saya di awal. Kemudian saya juga melihat bahwa masyarakat kecil, mikro, dan pesisir pasti membutuhkan banyak dukungan atau keberpihakan. Sebenarnya juga terkait dengan gairah ya, juga dengan latar belakang keluarga. Istilahnya keluarga petani dan pendidik,” ujarnya.

Melalui PT Jasuda (Jaringan Sumber Daya), dengan 40 ribu karyawan, Boedi memproduksi brownies, nugget, dan topping pizza rumput laut, misalnya. Perusahaan mengumpulkan data dan mendorong petani untuk menegosiasikan harga secara terbuka untuk mendapatkan harga yang adil.

Petani rumput laut di Makassar, Sulawesi Selatan (dok: Boedi Julianto).

Petani rumput laut di Makassar, Sulawesi Selatan (dok: Boedi Julianto).

Di Papua dan Nusa Tenggara Timur, Arisman Candra naik turun gunung untuk memberdayakan petani kopi. Rasa kopi mereka luar biasa, kata Aris dari Nu Ko Nu, singkatan dari Nubruk Kopi Nusantara.

“Siapa Nu Ko Nu di dalamnya? Ada merek lokal. Ada kopi Tiom dari Lanny Jaya. Saya juga mendirikan grup bisnis dengannya. Ada juga bentuk koperasinya,” kata Arisman.

Aris membawa kopi tersebut ke Jakarta, memperkenalkannya kepada para ahli kopi dan terus mempromosikannya ke luar negeri. Tidak banyak orang, kata Aris, yang bisa dijadikan mitra untuk mengembangkan potensi Indonesia bagian timur. Bahkan Papua, kata Aris, cenderung dihindari pejabat Jakarta. Penyebabnya adalah daerah konflik.

Arisman Candra dari Nu Ko Nu (baju putih) memberdayakan petani kopi di Indonesia bagian timur.  (dok pribadi)

Arisman Candra dari Nu Ko Nu (baju putih) memberdayakan petani kopi di Indonesia bagian timur. (dok pribadi)

Pengamat sosial Devie Rahmawati mengatakan, praktik bisnis yang berorientasi pada dampak sosial tidak lepas dari karakteristik manusia baru di era digital.

Pengamat sosial Devie Rahmawati (dokter swasta)

Pengamat sosial Devie Rahmawati (dokter swasta)

Menurutnya, berkat teknologi, mereka menjadi masyarakat kolektif dan komunal. Kemudian, kesadaran YOLO atau kamu hanya hidup sekali, mendorong mereka untuk menjadi manusia yang siap menunjukkan kebaikan setiap hari. Faktor ketiga, pandemi membuat mereka semakin sadar bahwa permasalahan yang ada harus diselesaikan bersama.

“Sebetulnya menurut saya sudah tidak ada lagi perbedaan antara sociopreneur dan nosociopreneur karena semua bisnis yang ingin bertahan dan menjadi bagian dari peradaban digital harus menjadi bisnis yang secara sistematis bertujuan untuk memecahkan masalah nyata di antara mereka.”

Intinya, kata Devie, bisnis harus menjadi problem solver, bukan sekadar alat untuk memperkaya diri. Dan di balik stigma negatif tentang orang-orang digital, mereka memiliki banyak potensi untuk menjadi malaikat baru bagi masyarakat dan lingkungan mereka sendiri. [ka/ab]