Spyware dari Perusahaan Israel Digunakan untuk Meretas Staf Senior

0
234

Ponsel anggota staf senior Human Rights Watch (HRW) diretas dengan peralatan mata-mata atau spyware dikembangkan oleh perusahaan teknologi Israel. Amerika mengatakan spyware itu “secara jahat” digunakan untuk menargetkan para aktivis, jurnalis, dan orang-orang buronan lainnya.

HRW mengatakan dalam sebuah pernyataan Rabu bahwa spyware dari NSO Group Technologies, perusahaan Israel yang menurut AS telah membantu pemerintah otoriter melakukan pelanggaran hak asasi manusia, digunakan untuk menargetkan direktur regional kantornya yang berbasis di Lebanon.

Direktur, Lama Fakih, yang mengawasi organisasi penanganan krisis di beberapa negara, termasuk Suriah, Israel, Afghanistan, Myanmar, Ethiopia dan HRW Amerika mengatakan teleponnya diretas lima kali tahun lalu.

Karya Fakih “termasuk mendokumentasikan dan mengungkap pelanggaran berat hak asasi manusia dan kejahatan internasional selama konflik bersenjata, bencana kemanusiaan, dan kerusuhan sosial atau politik yang parah. Pekerjaan ini mungkin telah menarik perhatian berbagai pemerintah, termasuk beberapa klien yang diduga NSO”, kata HRW.

Fakih mengatakan teleponnya diretas ketika dia mengawasi liputan HRW tentang pertempuran antara Israel dan Hamas di Gaza dan penyelidikan ledakan mematikan di pelabuhan Beirut pada tahun 2020. Namun dia menambahkan tidak ada cara untuk menentukan apakah peretasan itu terkait dengan pekerjaannya. .

NSO belum secara langsung menanggapi tuduhan peretasan HRW, tetapi organisasi tersebut menyerukan “struktur peraturan internasional” untuk alat intelijen siber. Pernyataan NSO juga mengatakan setiap seruan untuk menangguhkan teknologi sampai struktur didirikan hanya akan membantu penjahat menghindari bentuk pengawasan lainnya.

AS melarang NSO mendapatkan akses ke teknologi Amerika tahun lalu setelah menuduh alat perusahaan digunakan oleh pemerintah yang represif. Raksasa teknologi AS Apple dan Facebook telah menggugat NSO sebagai tanggapan atas peretasan produk mereka.

Sekelompok anggota parlemen AS bulan lalu meminta Departemen Negara dan Keuangan untuk memberikan sanksi kepada empat perusahaan asing, termasuk NSO, yang terkenal dengan spyware Pegasus-nya. [my/jm]