Teheran Peringatkan Israel untuk Tidak Mengambil Langkah Mengancam Iran

0
54

Presiden Iran Ebrahim Raisi hari Senin memperingatkan bahwa Israel akan menjadi target angkatan bersenjata negaranya jika mengambil tindakan apapun terhadap Teheran, tidak peduli seberapa kecil.

Raisi berbicara saat pembicaraan mengenai kesepakatan untuk mengendalikan kemampuan nuklir Iran, yang menurut Teheran digunakan untuk tujuan damai, menemui jalan buntu di Wina.

Israel menentang kesepakatan itu, dengan mengatakan itu tidak cukup untuk mengekang program nuklir Iran atau kegiatan militernya di Timur Tengah. Para pejabat Israel mengatakan mereka secara sepihak akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi negara mereka.

Raisi menanyai Israel dalam pidatonya di parade tahunan angkatan bersenjata Iran. “Jika ada tindakan terhadap Iran, meskipun kecil, pusat rezim Zionis akan menjadi target angkatan bersenjata kami,” kata Raisi, mengacu pada Tel Aviv.

Raisi tidak merinci pernyataannya tetapi mengatakan Iran mengawasi setiap langkah Israel dengan cermat.

Presiden Iran Ebrahim Raisi dan komandan militer menyaksikan parade Hari Tentara Nasional yang menampilkan barisan peralatan militer selama upacara di Teheran, Iran 18 April 2022. (Situs Web Kepresidenan/WANA (Kantor Berita Asia Barat)/Handout via REUTERS)

Iran tidak mengakui Israel sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan pemerintah pro-Barat dan membawa Islamis ke tampuk kekuasaan. Iran mendukung kelompok militan anti-Israel seperti Hamas dan Hizbullah.

Raisi mengatakan bahwa militer Iran adalah kekuatan pencegah. Dia mengatakan militernya telah berhasil meningkatkan kemampuannya meskipun bertahun-tahun menghadapi sanksi terhadap negara itu atas program nuklir Teheran. Parade militer Iran Senin memamerkan jet tempur, helikopter, pesawat tak berawak dan sistem pertahanan udara serta tank militer, rudal dan kapal angkatan laut.

Israel dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan hubungan dengan tetangga Arabnya di Teluk Persia, yang telah membuat marah para pemimpin Iran. Teheran juga menyalahkan Israel atas sabotase situs nuklirnya dan pembunuhan ilmuwan nuklirnya.

Kesepakatan nuklir runtuh empat tahun lalu ketika mantan Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dan menjatuhkan sanksi berat terhadap Iran. Sementara itu, Iran telah memperluas program nuklirnya.

Badan intelijen AS dan IAEA percaya bahwa Iran memiliki program nuklir militer terorganisir sampai tahun 2003. Iran bersikeras program nuklirnya ditujukan untuk menghasilkan listrik dan untuk tujuan medis. [ab/uh]