Tes COVID Langka Pasca Musim Liburan di AS, Diaspora Indonesia Terpaksa Antre Hingga 7 Jam

0
63

Kekhawatiran akan meningkatnya kasus COVID-19 dan varian Omicron yang merebak cepat pasca musim liburan di Amerika Serikat telah mendorong banyak warga untuk melakukan tes COVID-19.

Hal ini menyebabkan antrean panjang hingga berjam-jam di berbagai klinik untuk melakukan tes diagnostik PCR dan kelangkaan tes antigen rumahan yang biasa ditemukan di apotek-apotek di Amerika Serikat.

Warga antre panjang untuk menerima alat tes COVID-19 gratis di kota Philadelphia, AS (foto: dok).

Bulan Desember lalu, warga Indonesia Nella Susanti berkunjung ke Amerika Serikat khusus untuk menonton konser band K-Pop BTS di Los Angeles, sekaligus mengunjungi kakaknya yang tinggal di Washington, D.C.

Di akhir masa kunjungannya yang bertepatan dengan masa liburan di Amerika Serikat dan varian Omicron yang mulai merebak lebih cepat, warga kota Jakarta ini mengaku kesulitan mencari tes diagnostik PCR, baik yang berbayar maupun yang gratis, sebagai persyaratan untuk kembali ke Indonesia.

“Cuma ya, semua mau bayar atau enggak juga full. Yang termahal dari yang gratis, juga full di mana-mana,” cerita Nella kepada VOA.

Tes PCR Antre 7 Jam

Tes PCR bagi warga yang melakukan perjalanan internasional biasanya harus dilakukan 72 jam sebelum jadwal keberangkatan. Untuk memilih tes PCR khusus untuk orang yang ingin melakukan perjalanan internasional pun tidak boleh sembarangan, karena ada beberapa klinik yang tidak sesuai dengan standar negara tertentu.

Nella Susanti saat menonton konser BTS di Los Angeles belum lama ini (dok: Nella Susanti)

Nella Susanti saat menonton konser BTS di Los Angeles belum lama ini (dok: Nella Susanti)

Nella tidak menyangka bahwa mencari tempat untuk tes PCR di Amerika ternyata sulit jika dibandingkan dengan di Indonesia.

“Di Jakarta, karena tempat kan banyak untuk PCR test, ada paket yang 6 jam, 9 jam, 12 jam sampai 24 jam yang same day. Nah kalau di sini tuh enggak ada. Jadi pilihannya cuma same day, next day, two days, dan lainnya lah,” jelasnya.

Setelah mengunjungi sekitar 10 situs klinik yang menyediakan tes COVID-19, akhirnya Nella berhasil mendapatkan tes PCR gratis. Tetapi, ia harus rela antre hingga 7 jam.

“Jadi kita datang jam 10 (pagi). Ternyata, antre banget, baru dites jam 5 sore. Dan kita tidak boleh menunggu di dalam klinik, kita tunggu di dalam mobil. Lama banget. Ada beberapa orang yang marah-marah juga sih, kalau kita udah pasrah aja karena yang penting bisa di tes PCR,” kata Nella.

Setelah berhasil melakukan tes PCR, Nella pun masih harus menunggu hasil yang tidak kunjung keluar, hingga hari keberangkatannya. Alhasil, ia pun harus mengubah jadwal kepulangannya.

“Jadi yang harusnya dua hari udah bisa keluar ini hampir empat hari baru keluar,” ujar Nella.

Karena hasil tes yang lalu sudah melebihi 72 jam, Nella pun harus kembali berburu tes PCR. Kali ini ia rela membayar hingga lebih dari 2 juta rupiah untuk mendapatkan hasil yang bisa keluar keesokan harinya.

“Ada sih yang lebih murah, kemarin ketemu websitenya di dekat sini, itu dia kalau 2 days itu 40 dolar, kalau next day itu 75. Tapi untuk sebulan ke depan itu full,” ceritanya.

Memang hal ini sudah menjadi risiko warga yang melakukan perjalanan internasional. Nella mengingatkan, selain harus melakukan karantina berhari-hari saat tiba di Indonesia, “jangan ngegampangin” tes PCR.

“Udah pasti kita punya tiket pulang kan? Kita udah harus booking untuk PCR test itu paling nggak 3 hari sebelum keberangkatan. Jadi kita enggak kelimpungan. Itu sih yang paling utama,” pesannya.

Berburu Tes COVID-19

Belum lama ini, Maura Munaf yang tinggal di Boston Massachusetts sempat kontak dengan tiga orang yang terduga terpapar COVID-19. Maura pun langsung mencari tempat untuk melakukan tes COVID-19, mengingat saat ini tengah tinggal bersama ibunya yang sedang mengunjunginya.

“Aku nyari-nyari PCR test yang available. Di mana-mana penuh dan udah bingung kan ya, soalnya semua orang pada mau travel atau mungkin lebih khawatir atau gejala lebih parah, yang mereka udah (mendapatkan) appointment dari beberapa hari yang lalu,” ujarnya.

Maura Munaf, warga Indonesia di Boston, Massachusetts (dok: Maura Munaf)

Maura Munaf, warga Indonesia di Boston, Massachusetts (dok: Maura Munaf)

Maura pun akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan untuk melakukan tes PCR gratis. Namun, hasilnya dikatakan baru akan keluar dalam kurun waktu 4 hari. Dari tempat tes PCR tersebut, ia pun langsung pergi ke tempat lain, untuk melakukan tes PCR lagi yang dapat memberikan hasil yang lebih cepat.

“Nah, itu harus bayar 125 dolar untuk (mendapatkan hasil dalam waktu) 3 jam. Tapi bisa diganti sama asuransi nantinya. Aku dapat hasil cuma dalam jangka waktu 1 jam. Dan itu, Alhamdulillah, hasilnya negatif, ibu juga negatif,” ujar Maura yang berprofesi sebagai copywriter di Boston ini.

Hingga kini, Maura sudah melakukan sedikitnya 3 kali tes PCR di Amerika. Untungnya, pengalaman Maura “lumayan lancar” dan tidak pernah antre berjam-jam.

“Karena aku memang mau cari yang lebih efisien dan lebih cepat,” tambah Maura.

Walaupun ada banyak tempat yang menawarkan tes PCR, Maura mengaku tetap harus memastikan bahwa tempat yang dituju bisa dan mau menerima uji medis itu.

Availability-nya yang belum tentu ada. Sebenarnya enggak susah, tapi harus agak lebih strategis gitu, pas lagi milih tempatnya,” ujarnya.

Lain halnya dengan Maura, warga Indonesia, Gondan Puti Renosari di negara bagian Maryland terpaksa pulang ke rumah melihat antrean panjang saat hendak melakukan tes PCR yang diselenggarakan oleh pemerintah kota setempat, setelah merasa tidak enak badan dan adanya kemungkinan terekspos virus corona.

“Antrenya sampai kayak ular. Ada kali 1000 orang antre berbaris, enggak di mobil. Jadi tambah riskan, kan? Mobil yang mau masuk ke lokasi testing center-nya sampai menghambat jalan umum. Aku langsung putar mobil dan pulang,” ceritanya.

Gondan Renosari menunjukkan tes antigen rumahan yang ia peroleh dari pusat tes COVID di AS (dok: Gondan Renosari)

Gondan Renosari menunjukkan tes antigen rumahan yang ia peroleh dari pusat tes COVID di AS (dok: Gondan Renosari)

Sebelumnya, Gondan sudah sempat melakukan tes PCR di sebuah pusat tes COVID yang diadakan oleh kelompok masyarakat Asia setempat. Walau tidak antre, hingga artikel ini ditulis, yaitu empat hari kemudian, hasil tesnya pun belum juga keluar.

Menanggapi warga yang kesulitan mendapatkan tes COVID, perawat asal Indonesia di Texas, Dita Nasroel Chas mengatakan, sebenarnya varian Omicron dapat terdeteksi dengan cepat lewat tes cepat rapid antigen.

“Jadi saya sarankan kepada teman-teman yang mau tes, enggak usah ikut antre dengan PCR, cukup rapid antigen, dan kalau positif, lalu baru minta PCRnya gitu. Karena kalau enggak tuh PCR itu jadi kebuang-buang buat tes positif negatif,” jelas Dita.

Dita kini bekerja di beberapa rumah sakit milik pemerintah daerah di Texas. Inilah yang juga dilakukan oleh rumah sakit tempat Dita bekerja. Pasien yang memiliki gejala COVID-19 biasanya akan diuji medis lewat tes antigen terlebih dahulu. Jika dirasa perlu pemeriksaan lebih lanjut, baru kemudian dilakukan tes PCR.

Pasalnya, sejak varian Omicron mulai menyebar dan pasca musim liburan sangat sulit untuk mencari tes antigen rumahan yang biasa ditemukan baik di apotek dan supermarket di Amerika, mau pun di internet.

Quatrina Amirullah, warga Indonesia di negara bagian Virginia (dok: Quatrina Amirullah)

Quatrina Amirullah, warga Indonesia di negara bagian Virginia (dok: Quatrina Amirullah)

“Sebelum liburan natal masih gampang untuk (mendapatkan) rapid antigen test home kit. Sekitar thanksgiving (red.akhir November) dapat (lewat) online dan masih banyak (di toko). Menjelang natal, sold out di mana-mana. Sempat dapat online, tapi cepat sold out lagi,” kata Quatrina Amirullah, warga Indonesia yang tinggal di negara bagian Virginia kepada VOA.

Inilah yang juga menjadi alasan Gondan melakukan tes PCR saat ingin memeriksakan diri, mengingat ia hanya memiliki 3 alat tes cepat antigen.

“Cuma cukup untuk sekali tes, padahal butuh 2-3 kali tes selama beberapa hari biar pasti atau yakin,” jelas Gondan.

“Aku sempat memantau online shop dari pagi sampai tengah malam semuanya out of stock. Kalau tiba-tiba ada yang in stock, waktu pengirimannya bisa sampai dua minggu. Harus rajin memantau online shops, karena kadang-kadang muncul persediaan, tapi biasanya enggak sampai 5 menit langsung ludes,” kata tambahnya.

Berbagai grup di media sosial yang dulu menjadi lahan informasi untuk mencari tempat vaksinasi COVID-19, kini berubah menjadi tempat untuk saling bertukar informasi dalam mendapatkan tes antigen rumahan. Salah satunya NoVA Vaccine Hunters yang beranggotakan warga di daerah Virginia bagian utara dan sekitarnya.

Bersama teman-temannya, Gondan saling memantau toko-toko online dan berburu tes antigen.

“Siapa yang kebetulan dapat, langsung beli beberapa, jadi bisa di share sama teman-teman juga,” kata perempuan yang bekerja untuk the Nature Conservancy di Arlington, Virginia ini.

Perpustakaan di berbagai negara bagian di Amerika Serikat juga menyediakan tes antigen rumahan gratis dalam jumlah terbatas. Warga pun rela antre untuk mendapatkannya, namun tidak sedikit yang datang dan pulang dengan tangan kosong.

Presiden Amerika, Joe Biden juga menjanjikan sejumlah 500 juta tes COVID-19 rumahan gratis yang sebagian bisa diperoleh warga mulai bulan Januari ini.

Penyebaran Omicron Luar Biasa

Dalam kondisi biasa warga dapat langsung datang ke klinik atau pusat tes COVID-19 untuk melakukan uji medis ini. Tetapi, pasca musim liburan di Amerika Serikat, kebanyakan tempat kini mengharuskan warga untuk mendaftar terlebih dahulu dan datang sesuai dengan jadwal yang ada.

Dita Nasroel Chas, perawat sekaligus anggota satgas kesehatan asal Indonesia di Texas (dok: Dita)

Dita Nasroel Chas, perawat sekaligus anggota satgas kesehatan asal Indonesia di Texas (dok: Dita)

Ditambah lagi dengan varian Omicron yang penyebarannya luar biasa lebih cepat dibandingkan varian-varian yang sebelumnya, yang membuat warga lebih waspada dan ingin memeriksakan diri.

“Sebetulnya shortage dari PCR test itu bukan terjadi gara-gara Omicron saja. Sebelumnya sudah terjadi shortage. Kenapa? Karena waktu yang Delta varian yang dulu itu tidak terdeteksi oleh rapid test atau antigen test. Jadi pemakaian PCR pada saat Delta variant itu luar biasa banyak,” jelas Dita Nasroel Chas.

Jika biasanya membutuhkan kontak waktu sekitar 15 menit dengan orang yang positif corona sampai akhirnya bisa terpapar, lain halnya dengan varian Omicron ini.

“Dengan Omicron ini, 7 menit saja berhadapan tanpa masker. Bisa 2 menit sekarang, nanti ketemu lagi 2 menit lagi, terus ketemu lagi 2 menit lagi atau 1 menit gitu ya, terpisah-pisah tapi jumlahnya 7 menit, itu sudah boleh kita merasa harus periksa gitu,” tambah Dita.

Data terakhir dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular atau CDC di Amerika Serikat memperkirakan bahwa 58,6 persen dari varian virus Corona yang merebak di Amerika adalah varian Omicron. Varian Delta yang sebelumnya mendominasi kini diperkirakan mencapai 41.1 persen.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular atau CDC di Amerika Serikat, orang yang terinfeksi Omicron dapat menyebarkan virus tersebut walau sudah divaksinasi COVID-19 atau sama sekali tidak memiliki gejala.

Kapan Harus Periksa?

Gejala COVID-19 yang mirip dengan flu atau batuk dan pilek biasa terkadang membuat orang bertanya-tanya mengenai penyakit yang sedang dideritanya.

Lantas kapankah seseorang harus memeriksakan diri atau melakukan tes COVID-19?

Menurut Dita, ada dua tipe gejala yang perlu diperhatikan, yaitu gejala utama dan sekunder. Jika sudah membangun gejala utama seperti demam, sesak napas, dan batuk, Anda perlu segera memeriksakan diri.

“Tetapi kalau misalnya symptoms-nya masih sekunder, sore throat sedikit, cuman satu saja, kemudian agak letih. Nah, saya pikir, sebaiknya segera isolasi diri dan lihat apakah symptoms sekunder ini berkembang menjadi symptoms utama. Kalau enggak sih, Omicron dan Delta itu menghilang sendiri dalam waktu 4 setengah hari,” jelasnya.

Nakes Dita Nasroel Chas di Texas bersama rekan-rekan di ruang observasi pasca vaksinasi COVID-19 (dok: Dita)

Nakes Dita Nasroel Chas di Texas bersama rekan-rekan di ruang observasi pasca vaksinasi COVID-19 (dok: Dita)

Belum lama ini CDC (red.Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) di AS memperpendek durasi karantina mandiri yang perlu dijalani oleh penderita COVID-19, dari 10 hari menjadi 5 hari, jika sudah tidak memiliki gejala, diikuti dengan penggunaan masker selama 5 hari ke depan untuk mengurangi risiko menulari orang lain.

Kapasitas Paru-paru Menurun

Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika, Dr. Anthony Fauci sempat menyebut bahwa varian Omicron dapat menyebabkan gejala yang lebih ringan.

“Omicron itu agak sedikit lebih ringan. Sehingga orang yang katakan(lah) kekuatan imun tubuhnya enggak terlalu bagus, masih bisa berperang dengan Omicron dan ada kemungkinan menangnya lebih besar, dibandingkan kalau berperang dengan Delta,” kata Dita.

Namun, Dita mengingatkan bahwa yang harus diperhatikan adalah dampak penyakit COVID-19 itu sendiri, yang bisa menyebabkan menurunnya kapasitas paru-paru, sekitar 15 hingga 35 persen, dengan waktu perbaikan yang mencapai sekitar 15 hingga 40 tahun.

“Jadi walau pun kita enggak masuk rumah sakit, enggak sampai harus bertarung nyawa, tapi nanti akan terasa pada saat kita beraktifitas lari, atau kita mengangkat barang. Dan katanya, Omicron ini sekarang juga sudah mulai dilacak mengena kepada radang kuping yang akan sering terjadi setelah orang itu sembuh,” ujar Dita.

Dita berpesan untuk tetap waspada dengan memakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak.

“Kalau enggak perlu ke luar rumah, jangan ke luar rumah dulu, jangan traveling-traveling. Minum vitamin C, vitamin D-nya harus tetap dilakukan,” katanya.

Hingga laporan ini dirilis, jumlah kasus COVID-19 di Amerika Serikat yang dilaporkan oleh John Hopkins University telah mencapai lebih dari 56 juta, dengan jumlah kematian yang melebihi 829 ribu orang. Sedangkan kasus COVID-19 di seluruh dunia kini telah mencapai lebih dari 294 juta, dengan jumlah kematian yang melebihi 5,4 juta orang. [di/dw]