Tuesday, July 27, 2021
Home Blog

Tip untuk Meningkatkan Peluang Anda Memenangkan Lotere

0
Lotere Togel Singapore adalah permainan yang mengasyikkan dengan peluang murni atau proses mekanis di mana tiket yang menang diambil secara acak dari pengundian yang berlangsung setiap minggu. Lotere digunakan dalam pemilihan nomor lotere untuk permainan seperti sepak bola dan bola basket. Lotre...

Olimpiade Tanpa Penonton Asing, Bisnis-bisnis di Tokyo Terpukul

0
Banyak bisnis kecil dalam Tokyo terpukul parah tidak hanya oleh pandemi, namun juga oleh keputusan pemerintah untuk melarang orang langka menyaksikan Olimpiade. Â

Pengunjung Dapat Kembali Cicipi Contoh Makanan di Toko-Toko pada AS

0
Sebelum masa pandemi COVID-19, kebanyakan pengunjung toko di Amerika dapat mencicipi bervariasi sampel makanan yang disediakan. Aktivitas itu ditiadakan zaman pandemi memburuk. Namun sampel-sampel makanan itu kini balik disediakan bagi para pengunjung toko.

Pemberdayaan Perempuan Chad: ‘Lingui’ Perbolehkan Kesan di Festival Cannes

0
Kisah seorang ibu tunggal dan hamil tanpa seorang suami, hidup karya Mahamet-Saleh Haroun mendapat sambutan hangat pada Festival Film Cannes tahun 2021. Situasi diperburuk ketika bani perempuan Amina juga hamil dan berencana mengambil efek untuk aborsi secara ilegal di Chad.

Mahfud MD: Kontroversi Pembatasan Kegiatan Terjadi di Berbagai Negeri

0
Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan pertengkaran tentang pembatasan kegiatan umum pada masa pandemi virus corona juga terjadi di berbagai negara.

Lebih 2. 300 Pasien COVID-19 Meninggal Saat Isoman

0
Lebih dari 2. 300 pasien COVID-19 meninggal dunia sewaktu melakukan isolasi mandiri karena tidak mendapatkan pembelaan di rumah sakit.

Remaja Hawaii Daur Ulang Buat Bantu Mahasiswa Membayar SPP

0
Seorang remaja Hawaii melakukan daur ulang buat membantu para mahasiswa dengan kesulitan membayar SPP mereka.

Kritis Oksigen RSUP Dr. Sardjito (1): Kisah-Kisah Pilu dalam Akhir Pekan

0
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta mengalami krisis oksigen parah pada Sabtu, 3 Juli 2021. Sejumlah keluarga pasien yang meninggal dalam malam itu berbagi lakon dengan balutan kesedihan serta pertanyaan. Mereka ingin, tragedi ini tidak terulang serta menimpa keluarga lain pada tengah pandemi. Nasib Baryanto bisa dikatakan kurang bermaslahat, tetapi di saat berbenturan dia juga beruntung. Invalid beruntung karena dia dinyatakan positif COVID-19. Namun tempat juga beruntung karena kedudukan itu memberinya kesempatan mengawani ibunya, yang juga dinyatakan positif COVID-19, di hari-hari terakhirnya di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Baryanto hirau betul, bagaimana situasi ruangan tempat ibunya dirawat di dalam malam ketika krisis oksigen melanda. Sekitar pukul 21. 00 WIB, tiba-tiba instrumen High Flow Nasal Cannula (HFNC) yang dipakai buat merawat ibunya, mengeluarkan tala keras. “Setelah mesin pokok bunyi, selang beberapa menit, antara 10-15 menit, pesawat yang lain juga menemui respon yang sama, nada juga. Kedengeran that-thit-that-thit dengan nada yang serupa. Ada kira-kira karena bunyinya saling bersautan, saya tidak bisa memperhitungkan berapa jumlahnya, ” sirih Baryanto. Ibu dari Baryanto adalah satu dari 63 pasien di RSUP Dr. Sardjito yang meninggal di dalam periode 24 jam, antara Sabtu (3/7) pagi hingga Minggu (4/7) pagi. Panti sakit tersebut mengalami gawat oksigen dan telah menyiasati pemenuhan kebutuhan sejak 29 Juni 2021. Puncak genting terjadi, menurut keterangan sah rumah sakit, terjadi sebab lonjakan kedatangan pasien pada Jumat (2/7). Dari 63 pasien meninggal periode itu, menurut data rumah sakit, 33 pasien meninggal usai sistem oksigen sentral mati pukul 20. 00 keadaan Sabtu. Namun, direktur rumah sakit ketika itu ada, kematian itu tidak terpaut langsung krisis oksigen. Komite medis RSUP Dr. Sardjito saat ini tengah berfungsi untuk menyelidiki kasus itu. Sangat Tergantung Oksigen Baryanto, warga Klaten, Jawa Tengah, awalnya merawat sang pokok di rumah. Namun saturasi oksigen yang terus mendarat hingga kisaran 60 memaksanya mencari rumah sakit di Yogyakarta. Beberapa yang dia datangi penuh, hingga dia memutuskan menuju ke RSUP Dr. Sardjito, yang ternyata sedang mengalami tren kenaikan kedatangan pasien. Waktu mereka tiba, hanya ada utama tenda di halaman IGD, sehari kemudian ada bunga dua tenda lagi. Awalnya, sang ibu dirawat pada poli COVID-19, RSUP Dr. Sardjito. Karena saturasi tetap turun, pada Sabtu 3 Juli, Baryanto meminta ibunya dirawat di IGD. Kesempatan datang sekitar pukul 17. 00 WIB. Dia bersyukur akhirnya sang ibu mampu dirawat dengan mesin HFNC. Pasokan dari mesin beraliran tinggi itu membuat saturasi naik, hingga mendekati 90. Baru sekitar lima tanda di ruang IGD, urusan muncul. Bunyi mesin HFNC di sisi ranjang ibunya, terekam betul dalam ingatannya. “Yang pertama kalau enggak salah, yang bunyi tersebut mesinnya ibu. Saya coba konfirmasi ke dokter. Kata pendahuluan dokter, ini mesin tala enggak masalah. Selang kaum menit, dokter menaikkan sediaan oksigen, yang pertama pada angka 30 lalu dinaikkan 50, kalau enggak lupa. Tapi mesin tetap tala terus. Bilamana dinaikkan, bahan dari dokter mesin ada gangguan dari pusat, ” papar Baryanto. Karena HFNC tidak bisa berfungsi maksimal, menurut Baryanto dokter mengganti asupan oksigen ibunya secara tabung dan memakai kedok oksigen (oxygen mask). Saturasi ibunya langsung turun ke angka 60, 50 had pelan-pelan drop ke nilai 20. Dokter memindahkan pasien ke ruangan lain, namun tindakan itu tidak cukup menolong. Dokter menerangkan ke Baryanto, bahwa kondisi ini akan membuat ibunya kelelahan nafas, yang bisa menjadikan henti nafas atau kubra jantung. Dia akhirnya kehilangan sang ibu sekitar pukul 01. 00 WIB, Minggu (4/7), sekitar empat jam setelah oksigen sentral dalam RSUP Dr. Sardjito stagnan. Sekitar pukul 16. 30, atau lima belas jam sesudahnya, jenazah sang pokok baru bisa dibawa kembali Baryanto. Dia mengatakan, ibunya ada di nomor antrian 48 hari itu pada ruang jenazah. Baru di dalam siang hari itulah, berkat informasi sesama keluarga anak obat, dan penuturan seorang tabib, dia tahu bahwa semalam, ketika ibunya berjuang buat bertahan, rumah sakit menjalani krisis oksigen. Kekagetan Keluarga Pasien dan Dokter Sejarah lain dipaparkan Johny, yang mertuanya dinyatakan positif COVID-19. Tanggal 25 Juni, sang ibu mertua merasakan demam, mereka melakukan swab PCR, cek darah dan rontgen di RSUD Dr. Sardjito. Ada dugaan COVID-19, namun hasil tes harus ditunggu beberapa hari dari itu isoman. Dokter juga mengucapkan tidak menemukan penyakit penyerta. Di tengah isoman, saturasi mertua Johny turun mematok 80 pada 30 Juni 2021. Mereka memutuskan untuk kembali ke Sardjito. “Sewaktu cek di Sardjito, saturasi 70, langsung direkomendasikan meresap IGD, ditangani disana. Oleh dokter dipasang alat-alat buat suplai oksigen. HFNC ya. Saturasi kembali normal, bisa sampai 90, 96 apalagi sampai 99 waktu tersebut, ” papar Johny. Sejauh ini, ibu mertua Johny hanya mengalami masalah pernafasan, dia dinyatakan tidak memiliki komorbid. Sehari berada dalam IGD, dia kemudian dipindah ke bangsa GK 1 pada 1 Juli 2021. “Saya koordinasi dengan sinse. Kondisinya baik, tidak ada masalah apa-apa, ” kata Johny. Hari Jumat, Johny menitipkan telepon genggam untuk ibunya, Sabtu pagi sang ibu menelepon meminta bingkisan selimut. Sorenya, kata Johny, ibu mertuanya juga menelepon. Kabar dari dokter mengatakan kondisinya masih tidak ada masalah, saturasi 90 dengan HFNC terpasang. Namun pukul 21. 00, Johny menyambut kabar berubah, ibu mertuanya dinyatakan meninggal dunia. Johny langsung menelepon dokter dengan merawat ibu mertuanya. “Saya tanya, Pak ini ibu saya bagaimana, kok tahu-tahu bisa innalillahi (wafat-red) begini. Dokter enggak percaya, hamba dikira guyon. Dokter sejumlah, enggaklah Pak, tadi burit saya di sana meninjau kondisinya, juga tidak merusuhkan, saturasi masih di pada 90, ” kata Johny mengutip dokter. Johny tidak paham tentang krisis oksigen yang terjadi, karena itulah dia heran dengan kematian ibu mertuanya, seperti juga dokter yang merawatnya. Anyar pada Minggu siang 4 Juli, seorang kawannya menelepon dan menginformasikan apa yang terjadi. “Waktu itu, pokok saya meninggal urutan yang ke-36 dari keterangan sendi sakit, ” tambahnya. Dia tidak mempertanyakan lebih pada. Johny hanya mengaku, memeriksa menghubungkan semua yang berlaku, terkait krisis oksigen & kematian ibunya pada jam 21. 00, atau sekitar 1 jam setelah sistem oksigen sentral mati. “Apakah karena jam delapan itu oksigen mulai habis? Saya kurang tahu. Tapi saya korelasikan kok jam 9 itu ibu saya sudah tidak ada, meninggal. Siap kemungkinkan, ya penyebabnya tersebut. Meskipun memang positif COVID-19, ” paparnya. Beban Berlipat Seketika Bagi mayoritas suku pasien, krisis oksigen dengan melanda RSUP Dr. Sardjito hanya bisa dirasakan dalam area sekitar ruang forensik. Pasien COVID-19 tidak jadi dijaga oleh keluarga, melainkan jika mereka juga terkonfirmasi positif. Indri, keluarga lupa pasien bercerita bagaimana dia harus menjalani malam tersebut untuk memastikan jenazah Pakde-nya terurus dengan baik. “Sabtu malam kami dikabari jika Bapak itu keadaannya memburuk, terus disuruh ke Sardjito. Kita sampai sana jam 12 lebih (Minggu dini hari-red), dikasih tahu disana kalau Bapak sudah tidak ada jam 11. 30, dan diminta menunggu saja di ruang forensik, ” ujar Indri. Indri menanyakan ke staf rumah kecil, pukul berapa dia bisa menerima jenazah Pakde-nya. Namun semua tidak jelas, sejenis banyak yang harus ditangani. Dari bangsal tempat Pakde-nya dirawat saja, ada antrian empat jenazah. Belum lantaran bangsal-bangsal yang lain. Tempat akhirnya hanya bisa menunggui di depan ruang forensik, dan menyaksikan dengan lengah kepalanya sendiri, bagaimana situasi rumah sakit yang ternyata mengalami krisis oksigen. “Pas itu ada Brimob mengantar oksigen. Itu sekitar jam 1 kurang, itu oksigennya pada datang. Terus dengan di sana, sudah penuh, yang mau ambil jenazah sudah banyak. Sampai Minggu subuh itu masih belum ada kabar, ” ujar Indri. Sampai saat itu, Indri belum tahu kalau terjadi krisis oksigen pada Sardjito. Dia hanya mengiakan, di depannya hilir pegangan staf rumah sakit sambil sibuk menelepon dan membawa tabung-tabung oksigen. Selain tersebut, dia juga melihat dengan jalan apa perawat naik turun mengantar jenazah ke ruang forensik setiap saat. Awalnya, logat Indri, jenazah diambil berpatokan nomor urut kematian. Namun karena terlalu banyak, aparat akhirnya mengambil jenazah berbarengan sesuai bangsal di mana dia dirawat sebelumnya, supaya tidak menguras tenaga. Perihal menimbulkan protes keluarga penderita, karena belum tentu yang memiliki nomor urut kecil, jenazah tiba terlebih dahulu. “Kebetulan Pakde saya nomor 61, tapi sudah mendarat. Ada keluarga pasien bagian 44, belum turun. Akan tetapi karena dia ada dalam bangsa bougenvil. Kan nyana jauh, jadi itu membina heboh, terjadi selisih haluan di sana di bagian forensik itu, ” sirih Indri. Jenazah Pakde Indri sendiri tiba di ruang jenazah pukul 14. 00 hari Minggu. Tertinggal Pemakaman Begitu banyak yang kudu diurus di ruang jenazah, bahkan ada keluarga pasien yang tertinggal proses pemakaman, seperti yang terjadi di dalam Pak Amarzoni. Dia dengan kelelahan menunggu antrian jenazah, harus rela tidak menyaksikan penguburan sang istri. “Saya di depan ruang forensik, di bangku, sambil menunggu itu saya tertidur kelelahan. Lalu ambulans yang menyambut jenazah istri saya jam 05. 00 pagi sudah berangkat ke pemakaman. Lulus saya tersentak sekitar tanda 08. 00 pagi, awut-awutan saya menanyakan di ruangan jenazah, bahwa istri saya sudah dibawa oleh pengangkat jenazah. Lalu saya kejar ke pemakaman, ternyata sudah dimakamkan, ” papar Zoni. Zoni mengantar istrinya dalam Sabtu, berboncengan sepeda motor. Setelah proses pemeriksaan, Zoni pulang untuk mengambil baju ganti dan membeli sebanyak barang. Sayang, begitu datang kembali ke rumah melempem, istrinya sudah masuk balairung isolasi. Melalui telepon, tempat menanyakan kondisi istrinya yang ketika itu, dari nada suaranya, disimpulkan istri Zoni masih mengalami sesak. Sesudah dirawat beberapa jam, istri Zoni dinyatakan meninggal dalam Minggu pukul 00. 30 WIB. Zoni sendiri perdana menerima kabar, ketika dia datang kembali ke vila sakit pukul 14. 00 WIB. “Saya kaget. Beta mau marah-marah. Mau gimana. Rasanya mau menjerit. Tapi gimana, ” tambahnya. Sesudah itu, dia mengurus surat-surat yang diperlukan dan menunggu di depan ruang forensik. Minggu dini hari, di tengah hilir mudik jenazah pasien lain, dia kelelahan dan tertidur di amben depan ruang forensik. Telepon genggamnya mati kehabisan gaya. Petugas membawa jenazah ke pemakaman pukul 05. 00 hari Senin, dan Zoni baru terbangun empat jam setelah keberangkatan itu. Tempat akhirnya menyusul ke makam, tetapi hanya mendapati gundukan tanah tempat istrinya tidur selamanya. [ns/ab] Tulisan ini merupakan kolaborasi jurnalis tujuh media terkait pandemi, yaitu: Kompas, Gatra, IDN Times, Tirto. id, Harian Jogja, CNN INdonesia TV, dan VOA Nusantara

Jeff Bezos Melesat ke Antariksa, dan Kembali ke BumiÂ

0
Jeff Bezos dan rekan-rekan penerbangan luar angkasanya telah jadi menjelajah tepian antariksa & kembali ke bumi.  Pendiri perusahaan raksasa e-commerce Amazon berusia 57 tahun itu dan tiga rekan seperjalanannya amblas dengan roket New Shepard yang dibangun oleh kongsi miliknya, Blue Origin, Selasa (20/7), tak lama setelah pukul 9 pagi masa setempat.  New Shepard, sesuai nama astronot pertama Amerika Alan Shepard, diprogram untuk melakukan perjalanan tiga kali kecepatan suara pra kapsulnya memisahkan diri dari roket dan mengepung di atas Bumi selama tiga hingga empat menit. Sewaktu kapsul itu lepas dari peluru, Bezos dan tiga awaknya yang berada di dalamnya mengalami keadaan tanpa bobot.  Kapsul dengan sepenuhnya otomatis itu lalu masuk kembali ke suasana dan melakukan pendaratan pada dekat lokasi peluncuran, sementara roket melakukan pendaratan lurus otomatis beberapa kilometer jauhnya.  Blue Origin dirikan pada tahun 2000 secara tujuan menciptakan koloni sungguh angkasa permanen, tempat orang akan tinggal dan berlaku.  Saat kapsul melayang kembali ke Bumi secara bantuan tiga parasut, Bezos memberi tahu pusat pengawas misi Blue Origin bahwa semua awak aman, bugar, dan terlihat gembira. Para-para awak yang dimaksud termasuk saudara laki-laki Bezos, Mark, pilot Mary Wallace “Wally” Funk dengan berusia 82 tahun, dan remaja Belanda Oliver Daemen.  "Semua awak benar bahagia disini, " logat Bezos, dan beberapa menit kemudian menambahkan: "Hari unggul saya. Sungguh luar umum. " Ketika ditanya dengan jalan apa kabarnya, Mark Bezos menjawab: "Saya sangat baik. " Setelah mendarat, para awak turun dan disambut oleh segerombolan keluarga dan jodoh, termasuk orang tua Bezos bersaudara, Jackie dan Mike;  pacar Jeff Bezos, Lauren Sanchez; putranya, Preston; dan karyawan Blue Origin. Setelah berpelukan dan berbagi kegembiraan, para-para awak merayakannya dengan minum sampanye. [ab/uh]#@@#@!!

Ganjar Pranowo: Ubah Pola PPKM Darurat atau Beri Bantuan

0
Pelaksanaan PPKM Darurat menurut rencana depan akan selesai pada twenty Juli 2021. Epidemiolog menyarankan perpanjangan, namun ada pula usulan terkait perubahan pola dan distribusi bantuan. Salah satu yang berpendapat yakni skema PPKM Darurat ketika ini terlalu berat untuk masyarakat, adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Di dalam pernyataan resmi di Semarang, Senin (19/7), Ganjar meminta pemerintah pusat mendengarkan suara rakyat kaitannya dengan isu perpanjangan PPKM Darurat. Situasi saat ini, menurutnya, cukup berat bagi masyarakat. "Masyarakat terlalu berat. Kalau PPKM Darurat diperpanjang dengan ragam yang seperti ini, masyarakat berat. Maka harus ada cara-cara yang lebih smooth. Meskipun itu bentuknya darurat dan diperketat, harus soft, ” ujar Ganjar. Dia memberi contoh, warung-warung kecil yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, bisa saja tetap buka. Tentu saja, tersebut bisa dilakukan dengan tetap taat terhadap protokol kesehatan dan tidak boleh abai. Jika ada pelanggaran, warung yang sudah diberi kelonggaran itu bisa diberi peringatan atau bahkan ditutup. Pola makan para pelanggan juga bisa diatur agar PPKM Darurat ini dampaknya lebih ringan bagi masyarakat. Ganjar yang sering berkeliling memanfaatkan sepeda, mengaku melihat sendiri bagaimana beratnya dampak PPKM Darurat bagi pedagang ingusan. Dia memberi contoh, teknik pedagang pecel kebingungan karena tidak boleh melayani pelanggan makan di tempat, padahal dia berjualan di trotoar. "Aku ya ora tegel (saya juga tidak tega-red). Bagaimana ada orang jualan pecel, yang duduk pada situ hanya sekian orang, dia kerja harus pagi, tukang becak, teman-teman ojol. Mereka enggak bisa seandainya beli makanan kemudian pada makan di tempat lain. Kan mereka orang yang kerjanya keliling, ” tambah Ganjar.  Sebagai solusi, jika PPKM Darurat diperpanjang, pemerintah sebaiknya memberi kemungkinan pedagang kecil seperti ini melayani pelanggan di lokasi berjualan. Pengaturan lebih jauh dimungkinkan, misalnya memberi penanda di trotoar, sehingga mereka yang makan bisa saling berjauhan. “Menurut saya tersebut kompromi yang bagus, ” katanya lagi.  Pusat perbelanjaan juga dimungkinkan tuk dibuka, usul Ganjar, oleh aturan yang ketat. Andai ditemukan pengunjung tidak memakai masker atau tidak ada pembatasan jumlah pengunjung, pemerintah bisa langsung menutup. Sedangkan jika opsi semacam tersebut tidak memungkinkan, PPKM Darurat jika diperpanjang harus disertai pemberian bantuan bagi penduduk. “Atau tetap saja PPKM Darurat seperti ini, enggak apa-apa. PPKM Darurat kenceng semuanya. Kemudian didata, disiapkan kekuatan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu mereka agar bisa tetap di rumah. Apa itu? Bantuan. Enggak ada yang lain. Pada luar itu, rasa-rasanya akan ada respon yang mungkin sangat noise, " ujarnya. Jika opsi pemberian bantuan dipilih, tentu pemerintah daerah harus melakukan refocusing anggaran, karena sejauh ini belum dianggarkan. Bersama pemerintah kabupaten, kota dan desa, upaya ini bisa dilakukan, oleh melihat perkembangan di lapangan. Epidemiolog: Jangan Melonggarkan Dihubungi terpisah, epidemiolog dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Defriman Djafri Ph G berpendapat, melihat situasi, belum saatnya ada pelonggaran ketika ini. “Kalau saat akhir-akhir ini, jangan kita berpikir melonggarkan. Seharusnya kalau pemerintah mau belajar, ini harus malah bertahap diperketat lagi. Kalau kita mau serius, ” ujarnya kepada VOA. Di saat bersamaan, pemerintah harus lebih menggalakkan pendidikan bagi masyarakat melalui media. Di tengah pembatasan, ketika masyarakat lebih banyak berada di rumah, pemerintah punya kesempatan memperbanyak kampanye hidup berdampingan dengan COVID-19. Harus ada narasi untuk melawan informasi tidak benar yg berkembang. Tujuannya adalah menyiapkan masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan, ketika sudah saatnya nanti ada pelonggaran. Namun Defriman berpesan, pelonggaran juga harus dilakukan pelan-pelan. “Saya mengingatkan kepada pemerintah, jangan langsung melonggarkan seperti anda euforia karena sudah turun, sebab kita begitu nanti kasus bisa melonjak lagi, ” katanya.  Pemerintah harus menempatkan masyarakat tidak sebagai obyek yang dikontrol, tetapi aktif menjadi subyek yang menerapkan dan mengkampanyekan protokol kesehatan. Defriman juga merekomendasikan evaluasi dilakukan dalam skala lebih kecil, misalnya di tingkat kabupaten tuk menilai pelaksanaan PPKM Darurat. Tidak hanya virusnya, daerah juga harus aktif melawan narasi keliru selama pandemi ini. Dibutuhkan kesadaran, bahwa pengetahuan yang baik lalu benar, akan turut membantu menekan jumlah persebaran disease. “Kita harus menyakinkan kepala daerah bahwa penting untuk menganggap bahwa narasi terkait edukasi, komunikasi, dan informasi itu efektif dalam keadaan ini, ” ujarnya menambahkan. Strategi mendidik masyarakat tidak bisa disamakan. Pemerintah tidak bisa mengambil cara yang sama seperti yang dipakai negara-negara lain. Karena kemajemukan prinsip, kata Defriman, edukasi penduduk selama PPKM Darurat dan periode ke depan diharuskan disesuaikan dengan kultur penduduk lokal. Bahkan jika memungkinkan, pendekatan dilakukan di tingkat kabupetan, dengan mempertimbangkan unsur etnisitas. “Makanya kalau kita di Sumatera Barat, ada yang namanya cerdik pandai, ninik mamak termasuk juga tokoh agama. Nah ini yang seharusnya dirangkul, bagaimana membentuk persepsi terhadap resiko dan memahami narasi-narasi dalam kebijakan yang diambil pemerintah, ” papar Defriman.  Ke depan, masyarakat Indonesia mau tidak mau terkadang harus beradaptasi untuk hidup dengan virus ini. Namun sebelum itu, pemahaman penduduk harus diluruskan. Jika saatnya dilonggarkan, masyarakat akan cerdas menghadapi kondisi pandemi. Dalam gilirannya, produktivitas sosial serta ekonomi akan bisa berjalan dengan beriring dengan benar meskipun pandemi belum berakhir. [ns/ab]#@@#@!!

Rani Pakistan Berbisnis Daring Hewan Kurban

0
Pedagang hewan persembahan di Pakistan bersiap-siap bertemu musim penjualan yang sibuk sebelum Iduladha. Seorang perempuan muda memutuskan untuk menjual hewan ternak secara daring, bukannya membawa ternak itu ke pasar tradisional.