Institut Mosintuwu Buat Posko Informasi Covid-19 di 45 Desa di Sulteng

0
255

Ketertarikan Gogali, direktur Institut Mosintuwu, Selasa (7/4), menjelaskan ada 47 posko informasi yang tersebar di 45 desa di Kabupaten Poso, Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong.

Pendirian posko informasi itu, imbuh Lian, bertujuan untuk melayani berbagai hoaks seputar virus corona yang menyesatkan masyarakat. Beberapa perumpamaan hoaks cara menangkal virus corona yang beredar di masyarakat antara lain, mengonsumsi telur ayam sedang malam, berjemur dan menyiramkan alcohol.

“Informasi seperti itu diterima oleh awak dan mereka tidak punya pilihan lain untuk mengkonfirmasi informasi-informasi yang mereka terima” jelas Lian.

Lian mengkhawatirkan masyarakat hendak menerima hoaks tentang cara-cara dramatis menangkal virus corona itu jadi kebenaran. Padahal, informasi yang tak benar itu justru bisa mencelakakan penerimanya. Jadi, pihaknya berupaya menyediakan bahan-bahan bacaan mengenai virus corona melalui posko-posko informasi tersebut.

Berdiri sejak 2009, Institut Mosintuwu adalah organisasi masyarakat kausa rumput di Kabupaten Poso dengan fokus pada isu pendidikan serius dan advokasi lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

Sekelompok warga cukup membaca booklet Informasi Virus Corona yang disebarluaskan oleh posko fakta COVID-19 di Desa Trimulya, Poso Pesisir Utara, 2 April 2020. (Foto: Institut Mosintuwu)

Bekerja persis dengan organisasi Nemu Buku, Institut Mosintuwu menyajikan bahan bacaan itu dalam bentuk booklet bergambar agar mudah-mudahan dicerna pembaca. Booklet i tu berisi fakta tentang apa itu COVID-19 & cara mencegah penularannya.

“Lalu kami juga di dalam booklet itu memuat mengklarifikasi informasi lantaran WHO terkait rumor-rumor yang beredar tentang penangkal covid-19, ” rata Lian Gogali. Hingga hari itu setidaknya sudah dua ribu potongan booklet dibagikan ke masyarakat.

Posko itu juga memberikan informasi tentang disinfektan kepada umum yang datang ke posko. Tiba dari cara pembuatan disinfektan simpanan menyemprotkan disinfektan.

Fakta itu penting karena ada interpretasi yang salah di masyarakat bahwa disinfektan bisa disemprotkan ke ruangan, hingga tubuh manusia. Tentu selalu hal itu berbahaya dan bisa melukai pengguna. Padahal yang benar, disinfektan disemprotkan ke benda-benda dengan paling sering disentuh. Misalnya latar meja, gagang pintu, dan sebagainya.

Camat Lore Barat, Ruly Labulu menilai kehadiran posko informasi COVID-19 membantu pemerintah setempat dalam mensosialisasikan pencegahan penularan virus corona di 14 desa dengan punya keterbatasan akses internet.

Kualitas jaringan internet di beberapa dese itu masih 2G atau Edge, yang artinya tidak selalu tersambung dengan internet. Sediaan listrik di sejumlah besar daerah di Kecamatan Lore Barat pula hanya 18 jam sehari dengan sudah berlangsung setidaknya dalam perut tahun terakhir.

“Beberapa hari terakhir ini signal ini ada masanya jeda hilang sama sekali. Kemudian untuk internet memang sangat terbatas, untuk –jaringan- Telkomsel kita di sini kalau tidak salah masih 2G pak, agak susah untuk akses internetnya, ” ungkap Ruly Labulu.

Ruly mengatakan keterbatasan sarana komunikasi baik telepon dan internet, menyulitkan koordinasi dan penyebaran informasi terkait wabah virus corona kepada pemerintah desa dan masyarakat.

Irma, seorang ibu rumah tangga di desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir mengatakan dia bisa menyebarkan informasi yang diperolehnya di posko informasi COVID-19, kepada para kerabatnya.

“Kita kontrol keluarga dulu. Jelaskan ke keluarga, anak. Jaga jarak, memakai masker yang penting itu cuci tangan, ” papar perempuan berusia 42 tahun itu.

Selain patuh menjaga jarak, Institut Mosintuwu mengatakan, warga di Poso juga membuat alat pelindung diri secara swadaya. Misalnya, membuat cuka dari air kelapa untuk disinfektan dan membuat masker dari kain. Bila hasil produksi cairan disinfektan dan masker pelindung wajah itu cukup banyak, dapat dibagikan gratis ke posko informasi di desa-desa lain untuk digunakan masyarakat setempat. [yl/ft]