Kasus Corona Meningkat, Gubernur Jatim Mau Tingkatkan Tes Massal

0
242

Jawa Timur mengalami kenaikan jumlah kasus baru virus corona. Pada Kamis (21/05), ditemukan 502 kasus baru, sehingga jumlah mutlak kasus di provinsi itu mencapai 2. 998. Ketua Gugus Kuratif Jawa Timur, dokter Joni Wahyuhadi, menyebut ada dua kemungkinan penyebabnya.

“Ada dua, mampu masifnya kita tracing , bisa juga memang case nya terangkat. Ya harus kita pelajari bertambah detail. Jadi dua-duanya, kita membangun PSBB sehingga pemeriksaannya kan masif, tetapi masih ada cluster-cluster yang tumbuh, yang muncul. Memang bisa dengan mass test naik case nya, bisa, dan tersebut tidak masalah. Sehingga kita bisa tahu lebih detail, mana-mana dengan harus diisolasi. Jadi, naiknya kejadian kalau itu karena tracing kita dengan lebih bagus, ya memang tersebut yang dikehendaki, nanti kita langsung isolasi. Pelan dan pasti belakang akan menurun, ” jelasnya.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menodong dinas kesehatan di kabupaten serta kota di Jawa Timur melaksanakan lebih banyak tes cepat dalam kawasan-kawasan beresiko tinggi.

Pelaksanaan rapid tes di salah satu ruko di Surabaya. (Foto: Humas Pemkot Surabaya).

“Bagaimana testing nya ini dipercepat, ini sangat banyak tergantung kepada Dinas Kesehatan di kabupaten kota masing-masing. Seberapa sensitif untuk bisa menyisir daerah-daerah kerumunan rata-rata potensi kemungkinan terkonfirmasi positifnya tinggi. Titik mana dengan berisiko tinggi. Maka sensitivitas dengan mekanisme mitigasi yang terukur tersebut akan sangat membantu percepatan kita melakukan test kit , apakah melalui rapid test atau melalui PCR test, ” paparnya.

Khofifah kembali mengingatkan masyarakat untuk lebih disiplin menjaga diri dengan mematuhi aturan kesehatan. Kedisiplinan dan kepedulian mau bahaya virus corona, kata Khofifah, akan meringankan tugas tenaga medis.

Rapid Test Kit untuk corona yang didistribusikan di Surabaya (Foto: VOA/ Petrus Riski).

“Seberapa biar banyak dokter penyakit paru dengan kita punya, seberapa banyak bed, seberapa banyak rumah sakit, jika tidak ada kedisiplinan untuk bisa menjaga wajib pakai masker, physical distancing , tinggal di rumah, cuci tangan secara menggunakan air mengalir, kalau ini tidak berseiring, maka tidak nutut (mencapai), dari seluruh rumah sakit, seluruh bed, seluruh dokter, dan seterusnya, ” imbuhnya. [pr/ab]