Negeri Diminta Lebih Agresif Terkait Diagnosa Pasien Corona

0
70

Negeri pusat sampai saat ini tak pernah mempublikasikan data Pasien Pada Pengawasan (PDP) yang meninggal pada tengah pandemi virus corona. Real, platform bersama penyusunan data pandemi, laporcovid19. org menilai, jika keterangan ini dimasukan, setidaknya angka maut di Indonesia akibat corona hendak naik 3, 5 kali ganda dari angka resmi saat tersebut.

Bukan hal yang mudah menelusuri data kematian PDP, apalagi yang tidak jelas statusnya karena belum menjalani swab test atau tes usap, atau perdana satu kali diambil spesimennya. Daerah menerjemahkan pedoman dari Kementerian Kesehatan tubuh dalam standar yang berbeda.

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dr. Sri Wahyu Joko Santoso, menegaskan kesimpulan soal status ada di panti sakit.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bantul, Wahyu Joko Santoso. (Foto: Nurhadi)

“Kita di dinas itu hanya menerima sebab rumah sakit yang merawat. Untuk penentuannya dia negatif atau enggak, ya kita mengikuti yang merawat. Kalau laporannya di sistem dinyatakan negatif, ya kita tulis minus, kan gitu, ” kata adam yang akrab dipanggil dr Oky itu.

Oky mengesahkan pernah menanyakan persoalan ini ke Kemenkes. Jawaban yang dia dapat, jika pasien baru menjalani swab satu kali, dipertimbangkan penyakit penyerta yang diidapnya sebagai penyebab kematian.

Posisi pemerintah daerah, lanjut Oky, menempatkan keputusan panti sakit sebagai kesimpulan yang harus diikuti. Alasannya, pihak rumah sakitlah yang memahami betul kondisi pasien. Dinas kesehatan daerah berperan memobilisasi laporan, kemudian melakukan validasi. Bila seorang PDP meninggal dunia, namanya akan dimasukkan dalam daftar mematok ada diagnosa akhir rumah rendah. Statusnya berubah atau tidak, bersandar diagnosa akhir itu.

Di sisi lain, hasil diagnosa rumah sakit juga menjadi dasar pengumuman kepada tim dan masyarakat untuk mencegah prospek masalah sosial. Puskesmas di provinsi tempat tinggal pasien, juga bakal menindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi buat meyakinkan hasil diagnosa rumah melempem. Hasil kerja Puskesmas ini menjelma dasar tindak lanjut yang diambil.

Upaya Uji Lab Harus Maksimal

Kepala Balai Besar Cara Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Aib (BBTKLPP) Yogyakarta, Irene berharap pasien PDP diupayakan semaksimal mungkin agar dapat menjalani dua kali tes swab. “Kalau kita mau menguatkan diagnostiknya, kan mestinya wajib. Karena dia kalau sudah masuk patokan PDP, itu kan nggak bisa dibuang begitu saja. Kan lestari saja namanya ada PDP. Zona kalau sampai terakhir enggak cakap diagnosanya, kan susah juga, ” kata Irene.

Kepala Balai Gembung Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, Irene (Foto: VOA/ Nurhadi)

Irene menegaskan, mulia spesimen belum bisa di pendapat bisa memberikan hasil akhir kehormatan seorang pasien. Karena itulah secara jelas panduan menyebut persyaratan tersebut agar bisa dipenuhi. Irene memastikan seluruh pemerintah daerah telah mengalami, bahwa mereka tidak bisa meluluskan nama PDP yang belum berdiri diagnosanya ke klasifikasi tertentu. Sebab itulah upaya maksimal harus dilakukan. Irene bahkan memberi gambaran, sekitar mulut PDP yang meninggal itu masih bisa dibuka untuk menjemput spesimen, upaya tetap harus dikerjakan.

BBTKLPP sendiri banyak menerima spesimen dari pasien yang sudah meninggal. Namun, lanjut Irene, jika hanya berasal dari mulia spesimen, pihaknya tidak akan menyampaikan kesimpulan. Jika hasil uji lab spesimen pertama adalah negatif, maka yang hanya sampel pertama itu yang statusnya negatif. Status penderita tidak dapat dinyatakan sebagai “negatif” hanya berdasar satu hasil swab tersebut.

“Dan hasilnya pun tidak disimpulkan, swab satu kali, negatif tetap tidak tersedia kesimpulannya. Dan di WA hamba biasanya saya tulis, swab pertama negatif dan belum bisa disimpulkan karena baru satu swab diperiksa, ” lanjut Irene.

Kolaborasi pewarta 8 media menelaah data kasus corona di DIY. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Jurnalis dari delapan media yang melakukan kolaborasi di Yogyakarta menemukan sekurangnya ada 12 nama PDP dalam kelompok ini. Dua belas nama itu muncul dalam Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul serta Kota Yogyakarta.

Perbandingan PDP serta Positif Meninggal akibat Covid-19 di DIY. (Courtesy: Kolaborasi Jurnalis Yogya)

Dari daftar tersebut, setidaknya lima PDP belum diambil swab setara sekali, dan tujug PDP segar diambil swab satu kali. Bukan tantangan mudah untuk menemukan 12 nama tersebut.

Memang, dimungkinkan ditemukan lebih banyak tanda, apabila data pasien dibuka lebih transparan oleh pemerintah. Dua belas PDP itu dialihkan ke jadwal pasien negatif. Keputusan ini perlu dipertanyakan, karena berpotensi membuat bahan pandemi tidak valid.

Pemeriksaan Agresif Penting Dikerjakan

Pakar ilmu makhluk hidup molekular Ahmad Rusdan Handoyo Utomo memaparkan dengan detail bagaimana petunjuk pemeriksaan pasien terinfeksi virus corona. Salah satunya adalah mengapa tes harus dilakukan dua kali untuk menentukan status negatif seorang penderita.

“Kenapa harus dua kali? Karena mengikuti perjalanan sejak virus ini, perjalanan reproduksinya. Virus ini begitu dia menemukan inang, dia pasti akan menyusup ke dalam, dan akan membaca mekanisme sel untuk memperbanyak dirinya, ” kata Rusdan.

Rusdan memaparkan, spesimen akan relatif semoga ditemukan satu minggu setelah seseorang menunjukkan gejala awal seperti hangat atau pilek. Lokasinya ada pada nasofaring, dan karena itu spesimen diambil di titik ini. Waktunya harus tepat, tidak boleh terlalu lekas atau melewati masa itu. untuk memudahkan pengambilan spesimen harus dilakukan beberapa kali.

Ahmad Rusdan Handoyo Utomo. (Foto: VOA/Nurhadi)

Jika sudah melewati periode nasofaring , virus akan bergerak ke titik lain. Karena itulah, panduan pengambilan spesimen menyebut, upaya itu harus dilakukan dari sumber dengan berbeda. Rusdan menyebut tindakan tersebut sebagai upaya agresif, untuk semaksimal mungkin memaksimalkan kesahihan diagnosa seorang pasien.

“Jadi sungguh panduan itu bukan karena suka-suka orang membuat panduannya. Itu ada ilmunya, karena kalau sekali tak ketemu, bisa berarti yang kita kuatirkan adalah jumlah terlalu kecil. Ada juga alternatif alasan lain, misalnya lab-nya enggak kompeten, ngambilnya enggak dalam, atau ngambilnya silap, ” kata Rusdan.

Teknik mengambil spesimen juga membuka peluang timbulnya kesalahan, Rusdan menyebut ini terkait dengan kompetensi aparat yang mengambilnya. Ada juga peluang faktor Virus Transport Media (VTM) yang tidak stabil. Faktor tersebut menjadikan spesimen saat dimasukkan ke collection kit menjadi kadaluwarsa dalam kunjungan menuju lab.

Seorang pekerja pantas melakukan tes usap Covid-19 terhadap seorang perempuan di Jakarta, 30 April 2020. (Foto: Reuters)

Rusdan ingin menunjukkan, bahwa ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi posisi negatif pasien. Hal-hal semacam itu juga harus diperhatikan untuk memanifestasikan data yang sahih selama pandemi ini. Lebih jauh, Rusdan kalau memandang perlu dilakukan audit lab jika memang dibutuhkan. Jika suatu lab menghasilkan persentase positif sungguh-sungguh kecil dibanding lab lain buat spesimen yang sama, perlu audit mendalam.

Ketika disodori data, bahwa ada delapan kejadian positif corona meninggal di DIY dan lebih dari 85 pemakaman standar COVID-19 sudah dilakukan, Rusdan menilai ada sesuatu yang aneh. “Ini kalau saya jadi pengkaji di sana, saya akan cari itu. Saya lihat semua gejalanya seperti apa. Semua hasil lab seperti apa? Saya akan tanya seberapa agresif dia mengambil sampelnya dan kalau perlu dilakukan otopsi atau minimal biopsi paru. Tersebut kalau saya, ” papar Rusdan yang menempuh pendidikan pasca doktoral di Harvard Medical School, Boston, Amerika Serikat.

Peneliti bisa menganalisa serumnya, dan tak hanya menggunakan alat rapid ulangan biasa. Prosedur yang digunakan lebih hati-hati, kata Rusdan. Peneliti pula bisa mengambil plasma darah anak obat untuk melakuan tes anti body Sars Cov 2. Dengan metode yang lebih maju, hasilnya tak hanya ada atau tidaknya antibodi, tetapi juga menghitung jumlahnya.

Seorang pengunjung membersihkan tangan yang disediakan kantor BBTKLPP Yogyakarta. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Semua langkah agresif itu penting, kata Rusdan untuk menghasilkan data dan pemahaman yang bertambah baik terhadap kasus-kasus terkait virus corona. “Bukan untuk mencari-cari kesalahan lab, tapi ini secara biologis. Saya kuatirnya, misalkan di masyarakat virus ini sudah bermutasi. Sebab bermutasi, jadi tidak terdeteksi. Maka, kita harus melihat ini dari semua kemungkinan, ” tambah Rusdan.

Untuk menentukan status pasien, tidak cukup dengan pemeriksaan swab dari nasofaring saja. Ulangan juga bisa dilakukan dengan menjemput spesimen dari saluran napas lembah atau sputum, hingga ke alveolus. Bahkan bisa dilakukan tindakan biopsi paru, dan jika perlu otopsi terhadap pasien yang meninggal tetapi belum tegak diagnosisnya. Sejumlah pengkaji bahkan mengorek informasi hingga ke feses atau kotoran pasien.

Semua proses ini untuk memastikan status pasien, sehingga dihasilkan data lebih tepat, agar negeri bisa mengambil kebijakan berdasar analisis yang dilakukan. [ns/em]