Muslim AS Ikut Mengutuk Aksi Rasisme

0
241

Gelombang unjuk rasa di seantero Amerika Serikat untuk menuntut keadilan atas janji warga kulit hitam, George Floyd, di tangan polisi, mendapat dukungan dari sejumlah masyarakat Muslim Amerika. Pasalnya, kasus yang diduga dilatari unsur rasisme dan diskriminasi kepada warga kulit hitam di Amerika ini, dianggap tidak sejalan dengan ajaran Islam yang juga menyalahi rasisme.

Kasus meninggalnya seorang warga kulit hitam Amerika bernama George Floyd di tangan polisi di kota Minneapolis, negeri bagian Minnesota, 25 Mei berarakan, memicu gelombang unjuk rasa berhari-hari di puluhan kota di seantero Amerika Serikat. Para pengunjuk menemui menuntut keadilan atas kematian Floyd, sekaligus menuntut dilakukannya reformasi di tubuh kepolisian Amerika yang dianggap kerap bersikap diskriminatif terhadap warga Amerika keturunan Afrika.

Perwakilan AS Ilhan Omar terlihat sebelum upacara peringatan George Floyd setelah kematiannya di tahanan polisi Minneapolis, di Minneapolis, AS, 4 Juni 2020. (Foto: Reuters / Nicholas Pfosi)

Dalam wawancara dengan kantor informasi Associated Press, Dr. Farhan Bhatti dari Islamic Center of East Lansing di negara bagian Michigan mengapresiasi langkah masyarakat yang mendarat ke jalan untuk menyuarakan kegeraman mereka atas kasus rasisme tersebut. Ia mengatakan bahwa di Islam sendiri, rasisme adalah situasi yang dilarang.

“Perspektif Islam terkait apa yang sedangkan terjadi saat ini sangat sedang: tidak ada ruang bagi rasisme di dalam Islam. Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa apabila kita tahu suatu ketidakadilan, maka cobalah mengubahnya dengan mulutmu, yang berarti cobalah bersuara menentang ketidakadilan tersebut, ” kata Farhan Bhatti.

Setali tiga uang, legenda basket NBA, Kareem Abdul-Jabbar, juga memiliki pendapat yang sama. Dalam ramah dengan kantor berita Associated Press, pebasket Muslim yang pernah memperkuat klub LA Lakers itu mengajak warga Amerika untuk bersatu di menghadapi rasisme. Ia juga memerosokkan masyarakat untuk menjalin pertemanan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda.

Presiden AS Barack Obama menghadiahkan bintang NBA Kareem Abdul-Jabbar Presidential Medal of Freedom, kehormatan sipil tertinggi, di Gedung Suci di Washington, DC, 22 November 2016. (Foto: AFP)

“Saya mengecap ini adalah momen di mana orang-orang seharusnya sadar. Saya harap mereka menyadari betapa parahnya rasisme yang melembaga ini dan menyadari bahwa ini adalah masalah yang harus diperbaiki saat ini pula, dan kita harus mulai mendiskusikannya sekarang. Ini masalah yang kritis, bukan sesuatu yang bisa kita tunda-tunda, ” kata Kareem Abdul-Jabbar.

“Satu hal dengan bisa kita lakukan yaitu menyusun pertemanan dengan orang-orang yang terlihat berbeda dari kita sendiri. Kita harus paham seperti apa kehidupan mereka, kehidupan orang-orang yang kurang kita ketahui kesehariannya. Kita harus mengenali masyarakat kita sendiri. Siapa saja teman sesama warga Amerika ini? Mereka pasti punya patokan, bentuk, warna kulit, juga anutan agama yang berbeda-beda. Meski begitu, mereka semua meyakini satu hal yang sama, yaitu negara bagus yang kita sebut Amerika Konsorsium, ” lanjutnya.

Biar demikian, Doktor Farhan Bhatti daripada Islamic Center of East Lansing, menyayangkan kerusuhan yang terjadi menyusul unjuk rasa damai yang dikerjakan massa.

“Di sini, di kota Lansing, beberapa malam yang lalu, cermin sejumlah pertokoan hancur berantakan. Kejadian itu bukan hanya sepenuhnya berkelahi dengan ajaran Islam, tetapi selalu kontra-produktif terhadap unjuk rasa yang dilakukan, yang mencoba untuk mendirikan hak-hak kaum minoritas di negara ini, ” kata Farhan Bhatti.

Sentimen itu selalu diungkapkan Kareem Abdul-Jabbar, mantan pebasket NBA yang kini memeluk agama Islam. Akan tetapi, ia juga mengarungi frustasi yang dirasakan massa had akhirnya terpancing melakukan aksi kekerasan, pasalnya berbagai demonstrasi damai dengan dilakukan sebelumnya, dianggapnya tidak sakti memunculkan kesadaran masyarakat akan gentingnya masalah rasisme di tengah mereka.

Kareem pun meluluskan contoh kasus seorang mantan atlet American football NFL, Colin Kaepernick. Ia kehilangan pekerjaannya sebagai seorang atlet, setelah melakukan aksi tenteram dengan berlutut saat lagu nasional Amerika dinyanyikan di sebuah pertandingan tahun 2016 lalu, sebagai wujud solidaritasnya terhadap gerakan #BlackLivesMatter, nama lain Nyawa Warga Kulit Hitam Tersebut Penting.

“Ada banyak orang mengatakan mengenai betapa parahnya kerusuhan dan penyamunan yang terjadi. Itu memang tidak cara berunjuk rasa yang jalan, tapi orang-orang perlu memikirkan pula fakta bahwa Colin Kaepernick (pernah) mencoba melakukan protes secara tenteram. Tapi apa yang ia sanggup? Ia justru dikucilkan dan kematian pekerjaannya. Ia ditolak bergabung dengan timnya. Itu akibat aksi penentangan damai terkait sebuah isu dengan sangat nyata, dan tidak ada satupun yang mengakuinya, ” cakap Kareem.

Kasus meninggalnya warga kulit hitam Amerika, George Floyd, di tangan polisi sendiri masih terus diselidiki. Polisi dengan menekan leher Floyd hingga dirinya kesulitan bernapas ketika sedang diamankan aparat, telah dijerat pasal pembunuhan dan penghilangan nyawa seseorang kelanjutan kelalaian. Tetapi ketiga rekannya tidak dijerat hukum, meskipun juga telah dipecat.

Negara arah Minnesota pertengahan minggu ini mengajukan gugatan hukum hak asasi pribadi terhadap Departemen Kepolisian atas kebijaksanaan dan praktik diskriminatif sistemik yang dinilai telah terjadi selama bertahun-tahun. [rd]