Arsitek Adat Papua Serukan Kearifan Lokal untuk Tangani Corona

0
386

Sekretaris II Badan Adat Papua, John NR Gobai mengatakan pemerintah seharusnya menggunakan kebajikan lokal dalam menangani wabah corona di Papua. Kearifan lokal kaya doa dan ritual adat, tenggat pengobatan alternatif dengan tanaman obat yang biasa digunakan oleh umum adat Papua, dinilai mampu positif pemerintah dalam penanganan virus corona.

“Kalau kita bicara kearifan lokal hanya omongan-omongan saja saya kira tidak tepat. Kita bicara adat sosial budaya oleh sebab itu kearifan lokal, kebiasaannya harus pegari di dalam kebijakan penanganan virus corona, ” kata John Gobai dalam diskusi daring Tantangan Multidimensional Penanganan Covid-19 di Tanah Papua, Kamis (11/6).

Tetapi, sejauh ini masyarakat adat sedang belum dilibatkan oleh pemerintah di menjalankan kebijakan terkait dengan pengerjaan virus corona di Papua. Real menurut John Gobai, masyarakat kebiasaan Papua di beberapa tempat sudah berinisiatif mencegah dan mengatasi perebakan virus corona melalui kearifan lokal seperti doa dan ritual kebiasaan yang dilakukan di Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura.

Diskusi daring dengan tema Tantangan Multidimensional Penanganan Covid-19 di Tanah Papua, Kamis 11 Juni 2020. (Tangkapan layar).

“Ini kearifan lokal penting harus juga diposisikan yang tepat di dalam melakukan penanganan virus corona, ” ujarnya.

Dewan Adat Papua juga menyerukan dibangunnya wadah pengobatan alternatif di setiap panti sakit di Papua. Kata John Gobai, selama belum ada vaksin untuk corona, maka pengobatan pilihan yang didukung penelitian dari madrasah tinggi, dapat menjadi rujukan.

“Di setiap rumah melempem perlu ada ruang dan gaya untuk pengobatan alternatif serta penyajian penguatan iman bagi pasien virus corona, ” tuturnya.

Dewan Adat Papua juga memajukan terus agar pasien corona ditangani oleh para tabib, ustaz, imam, dan pendeta, untuk memberikan penguatan-penguatan iman serta mendoakan penyembuhan untuk orang yang terpapar.

“Saya mau tanya, kalau vaksin virus corona tidak ada tapi pasien bisa segar. Pertanyaannya dia sembuh karena apa? Ini keajaiban Tuhan. Imunnya kuat dia diberikan vitamin tapi kalau dia didoakan oleh orang-orang yang memiliki karunia dari Tuhan aku kira orang bisa sembuh, ” ungkap John Gobai.

Perlu Aturan untuk Melayani Pergerakan Warga Lokal

Selain itu, dalam melayani penanganan dan pencegahan virus corona juga diperlukan sebuah aturan mengenai pengendalian penduduk di Papua.

“Kami di Papua tenteram kok. Oleh karena itu orang ke Papua harus jelas maksudnya apalagi mau ke daerah pegunungan, dan pesisir yang tidak meradang penyakit. Ini penting dan kudu menjadi perhatian kita. Setengah daerah Papua masih aman, ” ucap John Gobai.

Sementara itu, salah utama tokoh adat Papua, Yanto Eluay mengatakan orang asli Papua menghargai bahwa virus corona tak perlu menjadi perhatian khusus. Hal tersebut bisa dilihat dari masih banyaknya masyarakat adat yang tetap mengabulkan kegiatan sosial di tengah pandemi corona.

“Banyak orang Papua belum merasa ini sepadan ancaman yang berarti. Kami sudah terbiasa dengan menyembuhkan penyakit minus harus ke tempat pelayanan kesehatan tubuh. Orang Papua sudah terbiasa secara pilek dan batuk sejak mungil dan tanpa ke rumah rendah akan sembuh sendiri, ” sirih Yanto yang juga menjadi rujukan dalam diskusi tersebut.

Seperti dikutip dari laman sah Tim Gugus Tugas Percepatan Pengerjaan Covid-19 hingga Kamis (11/6) burit, kasus positif corona di Papua mencapai 1156 orang. Sedangkan kasus positif corona di Papua Barat sudah mencapai 195 orang. Buat diketahui, kasus positif corona dalam Bumi Cenderawasih didominasi oleh karakter non-Papua. [aa/em]