Imam Masjid di California: “Thank God for the Coronavirus”

0
64

Omar Ricci, seorang imam di Islamic Center of Southern California, mengejutkan banyak Muslim April lalu. Ia memberi judul kotbah shalat Jumat-nya “Thank God for the coronavirus. ” Tak sedikit yang bertanya-tanya: apa maksudnya?

Dalam penjelasannya kepada media ia mengatakan, judul khotbahnya itu semata untuk mengingatkan para tamu masjid itu bahwa virus corona adalah sebuah peringatan. Ia tak bermaksud mensyukuri bahwa dunia saat ini dilanda wabah virus itu.

Virus corona yang bercabul di dunia, katanya, mengingatkan bani adam bahwa ada sebuah kekuatan lain di luar kontrol manusia & bahwa manusia akan selalu berpegang pada Allah. Singkatnya, kata Ricci, “Lewat virus corona, Tuhan tahu manusia bahwa mereka rapuh. ”

Para ilmuwan bekerja di lab. yang menguji sampel COVID-19 di Departemen Kesehatan Kota New York, 23 April 2020. (Foto: Reuters / Brendan McDermid)

Aminah Rashad, warga Germantown, Maryland, ini memakbulkan pandangan Ricci.

“Dalam masa sulit seperti ini, gampang sekali kita terjebak dalam histeria. Tapi jika Anda berhenti sejenak dan merenung, kita menjadi semakin percaya bahwa ada kekuatan lain, kekuatan Tuhan. Inilah saat dalam mana kita semakin mendekatkan muncul kepada Tuhan, ” kata Rashad yang orangtuanya keturunan Iran.

Sebagai juru bicara ICSC, salah satu masjid tertua serta terkemuka di AS, Ricci ialah salah satu dari banyak pemimpin keagamaan di berbagai penjuru dunia yang mencoba mengarahkan para pengikutnya buat melalui masa pandemi virus corona yang tidak menentu ini, dengan telah menewaskan ratusan ribu orang dan melumpuhkan ekonomi dunia.

Seperti banyak pemimpin keyakinan lain, Ricci sering dihadapkan di dalam pertanyaan: Apakah virus corona dikirim Tuhan sebagai hukuman bagi manusia? Ia sendiri memiliki jawaban bahwa ini bukan hukuman dan malah mengajak Muslim justru berusaha semakin mendekatkan diri pada Tuhan dalam masa sulit ini.

Hazim Macky (kiri) dan Shaharyar Aarbi membagikan makanan berbuka puasa gratis ke para anggota di luar gedung Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan saat pagebluk virus corona, di Redmond, Washington, 24 April 2020. (Foto: Reuters)

Dalam perspektif Ricci, virus corona tidak hanya ujian, melainkan pula faktor untuk meningkatan keimanan. “Masa sulit adalah masa di mana manusia mempraktikan ajaran agamanya, ” jelasnya.

Bagi Rabi Chaim Bruk, CEO Chabad Lubavitch, sebuah komunitas Yahudi di Bozeman, Montana, wabah virus corona adalah musibah yang sangat menyentuh kesibukan pribadinya.

“Ayah beta tertular virus corona. Tiga paman saya tertular virus corona. Aku berdoa untuk mereka setiap hari. Pada saat yang sama, orang-orang saat ini juga terkurung dalam rumah. Itu tidak bisa pergi menonton musabaqah, pergi ke bioskop, atau berangkat ke mana-mana, ” kata Bruk.

“Ini saatnya di mana kita merenungkan siapa muncul kita sesungguhnya? Apa yang nyata penting bagi jiwa kita? Inilah saatnya kita menelusuri dan memajukan spiritualitas kita. Setelah kita menggunakan masa pandemi ini maka bakal muncul kesadaran spiritual, ” lanjutnya.

Bruk mengatakan, bagi beberapa orang, virus corona dan dampaknya yang hebat di berbagai penjuru dunia membuat banyak orang meragukan keberadaan Tuhan. “Itu normal, ” katanya, namun itu seharusnya mendorong manusia untuk bekerja mengenai bagaimana mengatasi keraguan ini. Seorang ateis sekalipun, katanya, ketika menghadapi wabah sebesar ini terang akan melakukan intropeksi diri hingga pada tingkatan tertentu.

Mengapa wabah virus corona terjadi dan apakah ini keinginan Tuhan, adalah topik yang banyak dipikirkan Jasmine Griscedi sejak beberapa bulan lalu. Pakar teologi Kristen tersebut di Northwest Nazarene University di Nampa, Idaho, sibuk menjawab perkara mahasiswa: “Jika Tuhan baik, kok, ia membiarkan virus corona eksis, ”

Menurutnya ada banyak jawaban buruk di kalangan masyarakat awam untuk pertanyaaan itu. Ia sendiri memilahnya dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang mengucapkan, karena marah dengan dosa-dosa dengan dibuat manusia, Tuhan marah serta menghukum manusia dengan bencana. Kedua, Tuhan tidak menciptakan bencana, akan tetapi membiarkannya terjadi. Ketiga, semua tersebut misteri yang tidak ada penjelasannya.

Griscedi tidak percaya semua itu. Ia menawarkan tanggapan ke-empat: Tuhan tidak begitu sekadar mencegah wabah virus corona – atau bencana buruk lainnya – sendirian, tapi dengan partisipasi & kerjasama umatnya.

Ilustrasi. Hazim Macky mengambil makan berbuka puasa sebab Mohamed Saleem yang disiapkan untuk masyarakat di luar Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari baru Ramadan di tengah wabah corona di Redmond, Washington, AS, 24 April 2020. (Foto: Reuters/Lindsey

“Saya seperti orang-orang lainnya memiliki pola kekebalan tubuh yang mudah terhambat. Saya pasrahkan diri pada kekuatan di atas sana. Tapi aku tidak hanya berpasrah diri, tapi juga melakukan hal-hal yang memungkinkan saya atau orang-orang di sekitar saya tidak tertular, ” sirih Griscedi.

Erica Komosar seorang psiko analis dan pakar masalah keluarga di New York mengatakan, kesehatan mental orang dewasa dan anak bisa membaik bila kita memiliki agama atau kepercayaan, dan meyakini ada kekuatan lain di luar kekuatan manusia.

“Agama mengajarkan kita sakinah. Di gereja, masjid dan sinagoga, kita diminta untuk duduk tenang dan tidak memikirkan apa dengan sudah terjadi dan apa yang akan terjadi. Ini akan menentramkan jiwa. Dalam masa pandemi ini, kita membutuhkan itu, ” introduksi Komosar. [ab/uh]
Info tentang Data HK