Kolaborasi Institusi Seni di AS Adakan Pameran Seni ‘American Muslim Futures’

0
214

American Muslim Futures, Selasa (23/6), mengumumkan seruan untuk memasukkan karya-karya seni dengan mencerminkan gambaran, lagu, kata-kata, metode dan hal-hal lain yang diharapkan dapat ditemukan di tengah Amerika seperti yang diimpikan banyak warganya. Undangan tersebut ditujukan kepada awak Muslim Amerika maupun para artis terkait yang menggunakan berbagai jalan, baik visual, pertunjukan, tulisan, corak, mode dan sebagainya, untuk mengutarakan karya seni mereka.

American Muslim Futures sendiri merupakan suatu kolaborasi antara organisasi hak-hak sipil Muslim Advocates dan institusi di bidang seni, Shangri La Museum of Islamic Art, Culture & Design. Kolaborasi ini pertama saja diluncurkan akhir Mei berantakan di pusat pertunjukan seni bergengsi di Washington DC, The John F Kennedy Center for Performing Arts.

Ilustrasi. Seni Sebagai Bentuk Kepedulian Perubahan Iklim. (Foto: VOA)

Panitia menyediakan waktu satu kamar untuk menerima karya-karya seni itu. Peserta yang terpilih karyanya hendak menerima $ 600. Karya-karya tersebut rencananya ditampilkan dalam suatu pameran digital resmi, yang akan disebarluaskan melalui platform media tradisional maupun baru, agar dapat dinikmati orang-orang di berbagai penjuru dunia.

Menurut rencana, pameran tersebut akan dibuka pada 2 September mendatang. Nantinya, di setiap ruang pameran virtual, penonton akan dapat menyaksikan hingga 20 karya yang disertai dengan penyajian multimedia & audio dari masing-masing senimannya. Kurang di antara mereka juga akan dipertimbangkan untuk menyertakan karya mereka untuk ditampilkan pula di Shangri La Museum of Islamic Art, Culture & Design di Honolulu, Hawaii, serta program-program mendatang Muslim Advocats di Washington DC.

“Warga Muslim Amerika selama itu telah dipantau, dimasukkan daftar perlindungan, menjadi sasaran kejahatan berlatar kebencian, dan dipisahkan dari orang-orang dengan mereka cintai oleh Muslim Jalan, ” kata penanggung jawab advokasi digital Muslim Advocates, Erik W Martinez Resly.

“Kami menolak status quo ini. Dengan menciptakan kultur Amerika yang lebih baik, para seniman dapat membuat masa depan dengan lebih adil dirasakan secara jelas dan tidak terbantahkan, ” tambahnya.

Apa yang disebut sebagai Muslim Ban itu ialah perintah eksekutif yang dikeluarkan Presiden Donald Trump pada tahun 2017, berupa larangan sementara bagi warga dari tujuh negara berpenduduk kebanyakan Muslim untuk masuk ke Amerika.

“Tantangan yang tersedia sekarang ini menegaskan tentang perlunya berkolaborasi. American Muslim Futures mengamati betapa organisasi seni dan pola advokasi dapat bekerja sama untuk membantu mewujudkan negara yang bertambah setara, inklusif dan adil, ” kata Dr. Konrad Ng, Eksekutif Shangri La Museum of Islamic Art, Culture & Design.

“Harapan kami adalah agar proyek American Muslim Futures akan dapat menangkap visi melanggar harapan, persatuan dan arah bahan yang diekspresikan oleh ribuan karakter pada saat ini, dan mengisbatkan keyakinan bahwa momen-momen paling terang di Amerika terwujud apabila para seniman dan masyarakat terpanggil buat memimpikan masa depan yang lebih baik, ” lanjutnya.

Navid Najavi aka Illnomadic, pendidik generasi muda dan juga artis hip hop berbasis di Honolulu, yang menjadi salah seorang bagian panel yang mengevaluasi karya-karya seni yang masuk menjelaskan,

“Dalam masa-masa tak menentu, kita berpaling pada para pemimpin untuk mendapatkan stabilitas serta juga bimbingan. Kalau para pemimpin tersebut gagal atau menolak menyungguhkan kehendak rakyat mereka, maka terserah rakyatlah untuk berbicara dan membakar perubahan. ”

“Menghubungkan suara-suara artistik dari berbagai bidang seni, menyampikan kisah-kisah kita sendiri, menghormati para leluhur, berbicara kebenaran tanpa disaring, adalah apa dengan paling diperlukan dunia kita sekarang ini, ” kata Najafi.

Anggota panel lainnya, Aint Afraid, salah seorang dari duo artis dan pegiat gerakan dengan berbasis di Michigan, mengemukakan kalau futurisme artistik sangatlah penting menetapi kekuatan yang dimilikinya.

“Jika kita tidak menggunakan apa yang kita ketahui sebagai cara terbaik untuk melakukan advokasi, kita akan menjadi orang tua yang penuh penyesalan pada masa mendatang. Jangan tunggu perubahan -jadilah arah yang memperjuangkannya, ” jelasnya. [uh/ab]