Dongeng Haru Paskalis, Anak Petani Papua ‘Tinggalkan Ibu’ untuk S2 dalam AS

0
186

“Saya datang dari keluarga yang sederhana, ” cerita Paskalis Kaipman kepada VOA, saat mengenang kehidupannya.

Terlahir sebagai bani petani di kabupaten Boven Digoel, Papua, sejak kecil Paskalis sudah dilatih untuk hidup keras dan penuh dengan perjuangan. Ia letak di kamp pengungsian yang jauh dari perkotaan, dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Tanggung jawabnya sebagai putra pertama dibanding lima bersaudara bertambah ketika ayahnya meninggal dunia pada tahun 2006, ketika ia masih duduk dalam bangku SMP kelas 3. Beserta adik-adiknya, ia harus bekerja “luar biasa keras, ” membantu si ibu dari pagi hingga malam, hanya untuk satu kali sajian.

“Mama juga kebetulan dia cacat, tidak bisa kegiatan yang keras-keras untuk menghasilkan kekayaan, ” ujarnya.

Paskalis (kiri) beserta ibu (tengah) dan adiknya (kanan) (Dok: Paskalis Kaipman)

Memikul peran dan tanggung jawab sebagai pemangku ayah, keluarganya lalu memutuskan untuk meneruskan pendidikannya, namun terpaksa memberhentikan pendidikan adik-adiknya, mengingat keterbatasan ekonomi pada waktu itu.

“Kakak aja yang sekolah. Lalu kalau kakak bisa berhasil nanti, bisa bantu orang tua menentang adik-adik, ” kata Paskalis memikirkan pesan keluarganya.

Pendidikan di kampungnya pada waktu itu memang juga betul terbatas. Sekolah dasar di kampungnya bergantung kepada hanya satu guru yang mengajar kelas 1-6, dengan juga merangkap sebagai kepala sekolah.

“Bisa kadang meresap dari Senin sampai Rabu. Kamis, Jumat nggak. Jadi kami terang, kalau dikasih informasi ya. Kami punya waktu misalnya dua hari untuk full day bantu karakter tua. ”

Tekadnya untuk mengubah kehidupan kondisi ekonomi keluarganya, menjadi penyemangat bagi Paskalis untuk terus berusaha meraih pendidikan setinggi mungkin.

Sepuluh Tahun Tak Jumpa Suku

Lulus SMP, Paskalis lalu pindah ke Wilayah Minditanah, untuk melanjutkan pendidikan SMK selama tiga tahun. Pada zaman itu ia tinggal bersama seorang kakak asuh. Komunikasi dengan keluarganya pun terputus.

“Nggak ada komunikasi lagi sama ibu, karena mereka tinggal di negeri yang jauh kan, di penjara pengungsian. Jauh sekali, pas dalam perbatasan, jadi susah komunikasi, ” jelas mahasiswa kelahiran tahun 1989 ini.

Selama 3 bulan pertama, kakak asuhnya menolong pembayaran uang sekolahnya. Namun, setelah itu ia harus mencari ulama sendiri, untuk bisa melanjutkan pembalasan uang sekolah.

“Kita sekolah cuma setengah hari, dibanding jam 8 sampai jam satu. Jadi, biasa sore hari itu saya angkat pasir, angkat kotor pasir di salah satu sungai, untuk cari uang. Simpan buat bayar setiap SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan. red). Kalau makan, piawai saya makan setiap hari dengan kakak asuh, dimana saya letak, ” ceritanya.

Berhasil tamat SMK, Paskalis lalu bekerja sebagai guru Bahasa Inggris murid kelas 3-6 di SD Negeri 2, di kabupaten Boven Digoel, selama satu setengah tahun. Ia pun kembali termotivasi untuk terus melanjutkan pendidikan, untuk mengubah nasib hidupnya. “Tidak boleh sama seperti orang tua lagi, ” begitu katanya.

Tahun 2011, Paskalis memutuskan untuk merantau ke Merauke dan kuliah di Universitas Musamus Merauke, arah pendidikan bahasa Inggris. Ia menuruti jurusan ini, mengingat belum banyak guru Bahasa Inggris di wilayah raya Boven Digoel, juga Papua Selatan.

“Bahasa Inggris sangat penting dan termasuk pada Ujian Nasional. Maka harus SDM-nya cukup, untuk menjawab persoalan kehinaan tenaga guru bahasa Inggris, ” jelas pria yang hobi berburu ini.

“Puji Tuhan dapat berkat, ” Paskal lulus meraih beasiswa Bidikmisi. Ini adalah beasiswa di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan Republik Indonesia, yang diberikan kepada calon mahasiswa yang kurang mampu, namun memiliki potensi tertib di bidang akademik.

Karena tidak tersedia keluarga di Merauke, ia berantakan menumpang tinggal di pastoran Katolik di Merauke, yang jaraknya sekitar 1-2 jam jalan kaki sejak kampus, selama tiga bulan. Datang suatu hari, saat sedang berlaku kaki, Paskalis bertemu seorang dosen. Merasa kasihan melihat Paskalis yang selalu berjalan jauh, ia morat-marit menawarkan tempat tinggal yang lebih dekat.

“Jadi tempat berikan tempat yang dulu itu gudang salah satu SMA Negeri 3 Merauke. Kebetulan SMA itu berdekatan dengan kampus yang saya pelajaran. Jadi Puji Tuhan, saya bisa tinggal di situ, jarak dekat dan saya bisa selesai. ”

Bertemu Pokok, Paskalis: “Saya Tidak Kenal Beliau”

Tahun 2016, Paskalis akhirnya lulus kuliah & bekerja selama satu tahun pada sebuah LSM. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk kembali kampung dan menemui keluarganya. Kunjungan dari Merauke menuju kampungnya di Boven Digoel ditempuhnya dalam total waktu tiga hari.

“Itu jalan darat jalan tanah semua. Tapi nanti sampai di kabupaten, dari kabupaten ke provinsi. Nanti dari distrik ke wilayah itu yang kita biasa berlaku kaki. Itu jalan setapak, ustaz hutan, ” kata Paskalis.

Satu-satunya cara menuju ke kampungnya adalah dengan berjalan bersantai melalui hutan belantara, yang biasanya memakan waktu kurang lebih satu keadaan. Tidak ada yang tahu kalau Paskalis akan kembali pada zaman itu, karena sulitnya untuk berkomunikasi langsung dengan keluarga.

“Jadi ketika saya sudah sampai di dekat perbatasan, baru sempat kirim berita lewat orang dengan mau duluan ke kampung. Oleh karena itu orang sudah kasih tahu. Jadi ibu, dari kampung, dia sudah datang lewat hutan. Sudah tunggu saya di ujung distrik, ” ujarnya.

Ibu Paskalis yang tinggal di Papua (Dok: Paskalis Kaipman)

Sepuluh tahun tidak bertemu membuatnya sama sekali tidak mengenal sang ibu.

“Saya tak kenal beliau, karena ibu semakin…apa yah…sedih sih melihat ibu. Zaman saya melihat ibu masih pakai baju bagus, masih pakai celana bagus, waktu masih ada Abu. Sekarang ibu bajunya robek, sampai bagian dada, susunya keluar. Langsung pikul noken, terus dengan semak bakar, pegang parang, sebelah menyimpan bambu air, ” ceritanya.

“Sampai saya bilang, ‘ah bukan Ibu. ’ Sudah sungguh-sungguh apa ya, kayak tambah berat begitu. Tapi, Ibu feeling-nya telah tahu, kalau ini anaknya. Siap langsung Ibu menangis, terus Ibu teriak, ‘anakku… anakku. ’ Tepat ibu datang, peluk saya. Hamba berlutut, saya menangis, cium lengah Ibu ya Setelah itu hangat kami sama-sama pulang ke panti, ” kenangnya lagi.

Bukan hanya Paskalis yang awalnya tidak mengenali sosok ibunya sendiri, namun, adiknya yang paling mungil, sama sekali tidak mengenalnya, karena dulu masih berumur sekitar utama minggu sewaktu Paskalis meninggalkan kampungnya. Adik-adiknya pun sangat bangga tahu pencapaian kakaknya.

“Mereka bilang, ‘kita bisa ikut mas pergi ndak? ’ Saya sejumlah, ‘belum. Nanti, kakak pasti muncul. Kakak pulang, nanti, kakak sudah punya rumah baru, kamu mampu ikut kakak. Dari kampung, lari ke kota, tinggal di kita punya rumah sendiri, ’” ujar Paskalis saat menceritakan harapan adik-adiknya.

Saat pulang, Paskalis lalu meminta restu sang Ibu untuk melanjutkan pendidikan S2, walau masih belum tahu bagaimana caranya. Doa ibunya pun menyertainya.

“Ibu bilang, ‘Nak, berkepanjangan. Pasti Mama berdoa. Berdoa untuk engkau. Jangan pikir kami. Engkau pergi, kejar apa yang kau sudah cita-citakan. Jadi tidak boleh pikir kami, tidak boleh budi adik. ’”

Mengejar Mimpi ke Amerika Demi Keluarga

Arah doa restu sang ibu serta demi mengangkat “harkat pengampu dan adik-adik, ” Paskalis kembali berjuang untuk bisa meneruskan pendidikan S2. Ia lalu merantau ke Jayapura, yang ia yakini menyimpan bertambah banyak lagi informasi mengenai dana siwa.

Tidak kenal siapa-siapa dan belum punya tempat tinggal, keputusannya Paskalis mencari tahu keberadaan warga Boven Digoel di Jayapura.

Ia beruntung bisa bersemuka dengan mahasiswa di Universitas Cendrawasih yang berasal dari Boven Digoel, yang menawarkan tempat tinggal.

Sambil mencari beasiswa, tarikh 2017, Paskalis mulai bekerja di perusahaan Agri Spice Indonesia dalam Sentani. Enam bulan berjalan, ia memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP atau Lembaga Pengelola Dana Pendidikan di bawah Kementerian Keuangan Indonesia. Salah satu pilihannya pada zaman itu adalah beasiswa Indonesia timur, yang ditujukan salah satunya bagi penduduk asli provinsi Papua.

“Puji Tuhan, saya lulus, ” kata Paskalis.

Sebagai penerima dana siwa Indonesia Timur, Paskalis diberi 3 pilihan negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Ia memilih yang terakhir.

“Luar biasa sekali punya kesempatan yang baik dari pemerintah Indonesia melalui LPDP, mempercayakan saya jadi anak Papua, untuk datang belajar di Amerika, ” tambahnya.

Jalan untuk meraih pelajaran S2 di Amerika Serikat telah terbuka lebar. Sudah pasti senang rasanya, sebagai anak muda sejak Boven Digoel, bisa meraih dana siwa hingga ke Amerika Serikat.

Namun, di saat dengan sama, pencapaian ini menjadi lupa satu titik terberat dalam hidup Paskalis. Ia dihadapi kenyataan kalau ia harus kembali meninggalkan barang bawaan dan tanggung jawabnya, yaitu menolong ibu dan adik-adiknya dalam menjalani hari demi hari.

“Itu yang menjadi hal dengan, ‘aduh, sudah mau putus kehendak, nih. Saya pulang aja sudah. ’ Kasihan Ibu sendiri setengah mati. Ibu juga kurang umum. Kenapa saya harus egois, budi saya, untuk mencapai suatu haluan yang butuh waktu lama, ” ungkapnya.

Paskalis menyadari bahwa gelar sarjana S1 dengan ia miliki tidak akan membuatnya mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup adik-adiknya yang tidak bersekolah.

Tak hanya itu, ia juga memikirkan masa depan Boven Digoel, dimana sumber daya pribadi di sana masih kurang. Dia pun lalu bangkit dan membenarkan bahwa semua ini harus dia jalani, demi membawa perubahan di dalam kehidupannya dan juga Boven Digoel.

“Saya bisa menjelma aset untuk memberi perubahan pada sana. Itu motivasi-motivasi saya, ” tegasnya.

Paskalis Kaipman, mahasiswa S2 di American University di Washington, D. C. asal Boven Diegol, Papua (dok: Pribadi)

Selama kurang lebih satu tahun, ia melayani berbagai persiapan, baik dalam situasi bahasa maupun keberangkatan, hingga akhirnya tiba di Amerika Serikat bulan Agustus 2019.

Saat ini, Paskalis tengah menjalani program S2 jurusan kebijakan pendidikan dan kepemimpinan, di American University di Washington, D. C.

Alasannya memilih jurusan ini kembali berkaca pada situasi pendidikan di Papua, yang penuh dengan “ketertinggalan” serta “keterpurukan, ” terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan primitif. red) dan di perbatasan. Ia bertekad untuk meningkatkan pendidikan pada Boven Digoel dan daerah lainnya yang masih tertinggal.

“Itu bisa lebih baik lagi dengan mungkin ada regulasi yang bisa mengatur tentang tenaga tutor yang merata, ” jelasnya.

Amerika dan Papua Jauh Berbeda

Kekhawatiran akan budaya dan pendidikan di Amerika Serikat yang menurutnya “sangat maju dan berkembang, ” sempat melanda pikirannya. Jika tahu jomplangnya perbedaan Papua dan Jakarta, apalagi Amerika yang menurutnya “sangat jauh sekali” perbedaannya.

Perbedaan inilah dengan membuatnya jadi banyak belajar daripada Amerika.

“Dari disiplinnya, sistem pendidikannya, terus ketaatan di perkuliahan. Jadi tidak bisa saya nyontek. Memang strict sekali jika di Amerika. Terus kami rangkai tugas itu tidak bisa bertambah sedikit telat dari waktu dengan sudah ditentukan atau hari. ”

Telpon Ibu dari Amerika, “Nak, jangan tipu ibu. ”

Sungguh mengharukan ketika Paskalis mengabari ibunya, bahwa ia kini telah berada di Amerika Serikat.

“Ibu bilang, ‘Nak, jangan tipu ibu. Aku yang mengutarakan kamu, nggak boleh tipu karakter tua semacam itu. ’ Sampai ibu tidak percaya kalau saya di Amerika. Karena Ibu tidak yakin saya bisa sampai di (Amerika). Dengan kami punya keadaan bagaikan itu, keterbatasan kami, ” ceritanya.

Paskalis Kaipman di seberang Gedung Putih di Washington, D. C. (dok: Paskalis Kaipman)

“Tapi, kala kedua kali telpon, terus awak bisa video call, setelah itu baru ibu lihat saya dengan air mata. Ibu tidak cakap. Ibu cuma diam saja, dengar. Setelah telpon selesai, baru tersedia saudara yang saya chat, ‘Mama bilang, mama tidak ada perintah apa-apa yang penting engkau segar, mama selalu doa sampai kita ketemu kembali, ” lanjutnya.

Tidak Boleh Habis Asa, “Saya Pasti Bisa”

Pengalaman hidupnya yang luar biasa telah membawanya ke titik hidup yang sekarang. Tidak lupa Paskalis berterima kasih kepada semua orang yang telah membantunya hingga hari ini, yang mulia persatu membantunya dalam meraih cita-citanya.

Paskalis Kaipman (kiri) bersama teman-teman di Amerika Serikat (dok: Paskalis Kaipman)

“Pasti Tuhan akan sibak jalan dengan caranya Dia. Yang penting ada mimpi, tidak bisa ragu dengan segala kekurangan untuk meraih mimpi itu atau cita-cita itu. Yang penting ada niat, semangat, tekun dan terus membiasakan, berdoa dan bekerja, kemudian tetap rendah hati, ” ujarnya.

Seperti moto hidupnya, “saya pasti bisa, ” Paskalis berharap dapat mencapai keberhasilan, sebagai isyarat terima kasihnya kepada semua dengan telah berjasa dalam kehidupannya. (di/em)