Menlu Retno Dorong Produksi Vaksin Sinovac Segera

0
17

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam jumpa pers yang digelar secara virtual dari kantornya di Jakarta, Kamis (30/7) menjelaskan ia telah menggelar pertemuan bilateral secara virtual dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi. Dalam pertemuan semasa sekitar 1, 5 jam itu Retno mengangkat empat isu, termasuk kolaborasi dalam penanganan pandemi Covid-19. Kedua menteri luar negeri meluluskan untuk terus meningkatkan kolaborasi universal, terutama dalam menjamin rantai pasokan bahan baku bagi produksi obat dan pengembangan vaksin.

Retno menggarisbawahi dukungan bagi kerjasama pengembangan vaksin antara PT Bio Farma dan Sinovac-China. “Dua rumor yang saya tekankan adalah melanda ketersediaan vasin dalam bentuk bulk dengan jumlah yang mencukupi biar segera dapat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan masalah nilai vaksin yang terjangkau, ” prawacana Retno.

Bio Farma dan Sinovac saat ini tengah melakukan kerjasama uji klinis tahap ketiga. Menurut rancangan, uji klinis tahap ketiga itu akan dilaksanakan pada pertengahan Agustus 2020. Bila berjalan lancar, oleh sebab itu vaksin dari Sinovac diproyeksikan mendapat izin edar pada Januari 2021.

Sambil menunggu uji klinis rampung, lanjut Retno, oleh karena itu persiapan tahap selanjutnya yang menyangkut produksi sudah harus dilakukan. Sebab sisi kemampuan, Bio Farma medium meningkatkan kapasitas produksinya dari 100 juta menjadi 250 juta dosis vaksin per tahun.

Dalam kesempatan yang sama ke-2 menteri luar negeri juga kerjasama untuk mempercepat pemulihan ekonomi pasca Covid-19, termasuk melalui upaya melestarikan perdagangan bilateral. Dalam kaitan tersebut, Indonesia meminta akses lebih merata terhadap komoditas ekspor Indonesia, kaya minyak kelapa sawit, sarang rumor walet, buah tropis, dan poduk laut.

“Ekspor Indonesia ke China selama bulan Januari sampai Mei 2020 meningkat menjadi US$ 11, 20 miliar dari US$ 10, 40 miliar untuk periode yang serupa tahun sebelumnya, ” ujar Retno.

Berdasarkan data Institusi Pusat Statistik (BPS untuk Mei dan Juni tahun ini, Indonesia justeru berhasil meningkatkan kinerja ekspor, tidak hanya ke China namun juga ke Amerika Serikat, India, Jepang, dan Singapura.

Khusus dengan China, selain kemajuan ekspor Indonesia, defisit perdagangan Nusantara dan China juga mulai makin kecil.

Kedua Menlu Bahas Upaya Peningkatan Investasi

Retno dan Serabutan Yi juga membahas usaha untuk menjaga investasi yang berkualitas dan saling menguntungkan, termasuk soal pembentukan koridor bagi perjalanan bisnis dengan penting, yang diharapkan akan rampung dalam waktu dekat.

China merupakan investor asing terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura. Nilai investasi China di Indonesia pada 2019 adalah US$ 4, 7 miliar, meningkat 95 upah ketimbang 2018. Selama Januari-Juni 2020, investasi China di Indonesia mencapai US$ 2, 4 miliar.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi (foto: dok).

Soal ABK Indonesia, Indonesia Minta China Transparan

Kedua menteri luar negeri juga membahas pengerjaan kasus warga Indonesia yang bekerja di kapal-kapal ikan China. “Saya sampaikan keprihatinan yang mendalam negeri Indonesia terhadap berbagai kasus yang menimpa ABK Indonesia di kapal-kapal ikan China, ” tutur Retno.

Retno menceritakan secara rinci tentang kasus-kasus warga Nusantara yang bekerja di kapal-kapal ikan China. Dia menuntut pemerintah China untuk menindaklanjuti laporan-laporan ini dengan transparan agar kejadian serupa tidak terulang.

Retno secara khusus meminta pemerintah China melakukan investigasi menyeluruh kepada sejumlah kasus yang menyebabkan maut warga Indonesia, termasuk soal pelarungan jenazah warga Indonesia, dan suasana kerja yang tidak layak. Serupa segera menyeret pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kasus ini, semacam yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap agen-agen penyalur di dalam negeri.

DFW Indonesia: 13 ABK Indonesia Jadi Objek

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Mohammad Abdi Suhufan menyatakan semasa 22 November 2019 hingga 19 Juli 2020 ada 13 objek anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China, di mana 11 orang meninggal dan 2 yang lain hilang.

Menurutnya pemerintah harus melakukan moratorium pengiriman ABK untuk bekerja di kapal-kapal ikan China sampai proses investigasi beres dan proses perekrutan di negeri dibenahi.

Mengingat kondisi kerja yang tidak manusiawi, Abdi mengutarakan kuat dugaan sebagian besar ABK warga Indonesia yang bekerja di kapal ikan China meninggal karena disiksa. Mereka yang bertahan selalu kerap menerima kekerasan fisik dibanding mandor dan nahkoda. Ironisnya bagian nahkoda selalu melaporkan kematian ABK warga Indonesia karena kecelakaan kerja. [fw/em]