Pangeran Harry: Pola Pengasuhan Butakan Masalah Bias Rasial

0
83

Tengku Harry dari Inggris mengatakan butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk menyadari bahwa ada bias rasial yang tidak disadari selama ini. Tetapi kini matanya telah terbuka sesudah banyak menghabiskan waktu di situasi istrinya, Meghan Markle.

Pangeran berbicara dalam perbincangan mengenai rasisme dengan Patrick Hutchinson, pelopor kulit hitam yang difoto sebab Reuters sedang membawa seorang adam kulit putih ke tempat damai selama perkelahian antara pengunjuk menikmati anti-rasisme dan lawan sayap kanan di London pada bulan Juni.

Reuters melaporkan, Harry memberi tahu Hutchinson bahwa dia melihatnya sebagai “malaikat pelindung” dengan melindungi semua orang saat pertunjukan. Kedua pria tersebut mengatakan sedang ada pekerjaan yang harus dikerjakan untuk mengalahkan segala jenis diskriminasi.

“Bias bawah ingat, dari pemahaman saya, asuhan serta pendidikan yang saya miliki, kami tidak tahu apa itu. Saya tidak tahu itu ada, ” kata Harry selama percakapan online, yang direkam minggu lalu untuk sebuah fitur oleh majalah GQ.

“Dan kemudian, meskipun menyedihkan, butuh periode bertahun-tahun untuk menyadarinya, terutama lalu hidup sehari ataupun seminggu di kehidupan istri aku ” tambah Pangeran Harry. Ayah Meghan berkulit putih serta ibunya orang Afrika-Amerika.

Harry dan Meghan, Duke serta Duchess of Sussex, telah kaum kali berbicara tentang masalah suku bangsa sejak mengundurkan diri dari posisi mereka sebagai anggota keluarga negeri pada akhir Maret dan alih ke California.

Hutchinson yang berusia 50 tahun memberi tahu Harry bahwa seorang jodoh yang pernah mengikuti protes sebelumnya -di mana seorang polisi perempuan terluka- telah mengumpulkan sebuah kawanan untuk melihat apakah mereka dapat membantu menjaga ketertiban.

“Kami yang melindungi semua orang dan, ternyata, seseorang di bagian lain… Saya akan melakukannya buat siapa saja dan saya hendak melakukannya berkali-kali, ” katanya.

Pangeran bertanya bagaimana perasaannya melihat protes anti-rasisme yang terus-menerus ditentang.

“Itu membina frustrasi, ” kata ayah 4 anak itu. “Itu hanya mewujudkan Anda bertanya-tanya mengapa orang merasa begitu sulit untuk memahami apa yang kita semua perjuangkan: bagian kesetaraan. ” [ah/au/ft]