Kehormatan Merapi Siaga, Kemungkinan Erupsi Mendekat

0
63

Bangsal Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status Merapi, dari waspada menjadi siaga dalam Kamis (5/11) pukul 12. 00 WIB. Keputusan itu didasarkan dalam aktivitas vulkanik saat ini dengan dapat berlanjut ke erupsi serta membahayakan penduduk. Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menjelaskan peningkatan status tersebut di Yogyakarta, Kamis (5/11) burit.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida di dalam tangkapan layar.

“Untuk masyarakat diimbau ikuti terus apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dan ikuti informasi dari kami, BPPTKG. Informasi resmi melalui berbagai media yang kami miliki. Terus waspada menghadapi erupsi Gunung Merapi zaman ini, ” terang Hanik.

Meski mengalama kenaikan kegiatan cukup signifikan, Hanik mengaku belum bisa memastikan kapan erupsi hendak terjadi. Secara teori, belum tersedia dasar yang bisa dipakai buat menentukannya. Namun, dia memastikan seluruh data dan perubahannya akan terus dipantau.

Gunung Merapi sendiri telah berstatus waspada sejak 21 Mei 2018. Sejak era itu, Merapi berkali-kali mengalami letusan meski dalam skala jauh bertambah kecil dan tingkat bahaya yang rendah. Dalam periode pemantauan sesudah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kata Hanik, Merapi mengalami penambahan dalam tiga hal yang diukur, yaitu kegempaan internal (VA), gempa vulkanik dangkal (VB) dan gempa fase banyak (MP).

Status Siaga hanya satu level di lembah Awas, yang menandakan potensi erupsi makin besar. (Foto: Courtesy/BPPTKG)

Memisalkan data, tercatat pada Mei 2020 gempa VA dan VB tidak terjadi, sedangkan gempa MP terjadi 174 kali. Pada Juli 2020, tercatat gempa VA 6 kala, VB 33 kali, dan MP 339 kali. Sedang pada 4 November 2020, rata-rata gempa VB 29 kali perhari, MP 272 kali perhari, guguran (RF) 57 kali perhari, dan hembusan (DG) 64 kali perhari.

BPPTKG juga mencatat terjadi pemendekan jarak baseline Electronic Distance Measurement (EDM) sektor Barat Laut Babadan sejumlah 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif pada 21 Juni 2020. Sedangkan pada November ini, laju pemendekan EDM Babadan menyentuh 11 cm perhari. EDM adalah pengukuran untuk mengetahui besarnya tekanan magma dari dalam yang menuju ke permukaan gunung api.

Aparat BPPTKG memantau Merapi yang statusnya dinaikkan menjadi siaga Kamis, 5 November 2020. (Foto: Courtesy/BPPTKG)

Kondisi data pemantauan ini, menurut pesan BPPTKH, sudah melampaui kondisi menjumpai munculnya kubah lava erupsi 2006. Namun, angkanya masih lebih aib jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010.

Hanik menyebut 12 desa di 4 kabupaten, yaitu Sleman di DALAM Yogyakarta, Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah memiliki daerah dalam daerah bahaya. Pemerintah kawasan di empat kabupaten itu diminta menyiapkan segala sesuatunya terkait upaya mitigasi bencana Merapi.

“Penambangan di alur sungai yang berhulu di Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana III direkomendasikan dihentikan. Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan di KRB III, termasuk pendakian ke teratas Merapi, ” tambah Hanik.

Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Kamis (5/11) sore, meminta masyarakat untuk memajukan kewaspadaan. Permintaan itu khususnya bagi mereka yang tinggal dekat dengan Merapi. Sultan percaya terhadap keputusan BPPTKG untuk meningkatkan status tersebut.

“Saya yakin bahwa mereka sudah punya pengalaman banyak masalah Merapi, jadi harapan saya Pemerintah Daerah Sleman mempersiapkan diri untuk jalur evakuasi, untuk persiapan siaga, ” sebutan Sultan.

Karena tidak pengalaman pertama, Sultan yakin bahwa pejabat telah memahami apa dengan harus dilakukan terkait Merapi. Tuan juga menghimbau masyarakat untuk tidak terlalu panik, terutama mereka yang tinggal cukup jauh dari gunung. [ns/ab]