Menunggui Perlawanan Terhadap Korupsi dari Akan Mimbar

0
36

Dua dosen Universitas Sains dan Teknologi, Jayapura, melakukan penelitian selama dua bulan di Papua. Temanya adalah tentang khotbah di 10 gereja terbatas yang berkaitan dengan upaya pemberantasan korupsi. Mereka meneliti isi khotbah, sekaligus mewawancari para pendeta dengan mendalam, mengenai pandangan dan kewajiban terhadap isu ini.

Paulus RT Paramma, salah kepala peneliti memaparkan, Papua menarik menjelma lokasi penelitian karena gereja ialah institusi sosial keagamaan penting. Kebanyakan penduduk Papua menempatkan gereja jadi institusi utama yang masih mustakim dan dipercaya.

Paulus RT Paramma dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Mayoritas orang asli Papua mengikatkan dirinya atau submitting pada insitusi gereja. Persoalannya religiusitas ini tidak selalu berkorelasi positif dengan perilaku antikorupsi. Hal ini dapat dibuktikan dengan saat ini masuknya Papua ke dalam rangking 10 provinsi terkorup di tanah air, ” perkataan Paulus.

Penelitian tersebut dibiayai oleh Komisi Pemberantasan Manipulasi (KPK), dan dipresentasikan dalam Anticorruption Summit 4 , Rabu (18/11) sore. Diskusi pararel dalam pertemuan besar ini sedang akan terus berlangsung hingga Kamis (19/11).

Ditambahkan Paulus, melalui penelitian ini, mereka ingin mengukur kadar keprihatinan pemimpin pengikut Kristen, melalui isi khotbah terkait praktik korupsi di Papua. Sepuluh gereja dengan populasi umat dipilih, dan khotbah-khotbah selama dua bulan penelitian dianalisa. Selain itu, sejumlah pendeta juga diwawancarai secara mendalam untuk mengukur pemahaman mereka kepada isu korupsi, dan komitmen buat turut memberantasnya dari mimbar gereja.

Kosakata Antikorupsi Minim

Hendrik Vallen Ayomi, konco peneliti Paulus dari kampus yang sama, menambahkan selama penelitian terkumpul 80 transkrip khotbah para pendeta. Dari seluruh transkrip, ditemukan 41 kata yang berkaitan langsung secara persoalan ini, seperti korupsi, bobrok, koruptor, suap, cinta uang serta tamak. Ada pula kata-kata dengan tidak terkait langsung yang digunakan, seperti bayar, amplop, beli, kebijakan, laporan palsu, oknum dan nepotisme. Jumlah 41 kata dari 80 transkrip khotbah itu, kata Vallen, sangat minim.

Hendrik Vallen Ayomi dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Kalau kemudian dibandingkan kata-kata yang bersifat rohani itu lebih penuh, sedangkan kata-kata duniawi, termasuk manipulasi itu menempati posisi nonprioritas. Artinya gereja terlalu menekankan pada aspek iman, tetapi lupa memberikan penegasan penting pada kehidupan sosial, ”ujar Vallen.

Vallen menambakan, melalui wawancara mendalam, semua pendeta menyuarakan sikap tegas mengenai pentingnya pemberantasan korupsi. Namun, di bagian lain mereka tidak menyertakan tersebut dalam naskah khotbah mereka. Pengkaji berkesimpulan, pemimpin gereja mengalami syak wasangka untuk menyampaikan korupsi beserta pencegahannya secara luas atau gamblang kepada jemaat melalui mimbar gereja.

Para aktivis melakukan unjuk rasa di depan kantor KPK menuntut investasi sepenuhnya atas kasus korupsi e-KTP dalam aksi di Jakarta Maret 2017 (Foto: Antara).

Kedua pengkaji merekomendasikan koordinasi lebih di privat gereja tentang bahaya korupsi. Suplemen pesan pencegahan korupsi penting diberikan dalam khotbah di mimbar gereja. Selain itu, pemerintah juga mampu menggandeng gereja untuk mengembangkan pelajaran antikorupsi di Indonesia.

Khotbah Harus Lebih Keras

Pimpinan KPK periode 2015-2019, Saut Situmorang membicarakan ada banyak cara yang mampu dilakukan dalam konteks keagamaan di dalam pemberantasan korupsi. Langkah penting, dicontohkan Saut, adalah dengan menciptakan tim sebagai semacam gereja mini. Pada mana di dalamnya ada semacam khotbah dan upaya pemahaman wacana suci mengenai korupsi, sesuai kepelikan masing-masing.

Sedangkan dalam tempat ibadah, Saut meminta tersedia narasi lebih kuat terkait pemberantasan korupsi.

Saut Situmorang dalam tahanan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Saya sependapat dengan teman-teman tadi, bahwa sesungguhnya khotbah itu harus keras. Khotbah jangan lagi in between , selesai itu sudah, kemudian jemaah dikembalikan. Jangan lagi yang lembut-lembut, ” ujar Saut.

Pada periode Saut bertugas, beberapa kali pengurus Persatuan Gereja Indonesia (PGI) datang ke KPK. Kedua pihak membahas bagaiama bentuk-bentuk khotbah yang lebih berperan dalam upaya ini. Saut berniat upaya tersebut dilanjutkan hingga pembentukan isinya.

Petunjuk Tak Mampu Berperan Sendiri

Cendekiawan muslim, Prof Komaruddin Hidayat memulai perbincangan di diskusi ini dengan pertanyaan penting, tentang seberapa efektif agama membinasakan korupsi. Dalam ranah yang berbeda, kata dia, agama bisa memerosokkan orang melakukan kejahatan, seperti kekerasan. Khusus mengenai khotbah, ada beberapa umat beragama yang mendengarkan itu hanya sebagai ritual saja. Misalnya, kata Komaruddin, pada sebagian muslim dan khotbah Jumat yang diikutinya.

Prof Komaruddin Hidayat dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

Karena itulah, menurutnya, dibutuhkan kombinasi upaya di dalam pemberantasan korupsi. Komaruddin menilai, kiprah penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari isu peran agama pada upaya ini. Sejumlah negara apalagi mampu memberantas korupsi dengan mengedepankan langkah penindakan hukum.

Dari sisi moral, agama menjelma terlihat perannya. Upaya ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran melalui pelatihan, khotbah dan sejenisnya. Dalam cara inilah, lanjut Komaruddin, seseorang mampu menemukan kesadaran bahwa korupsi menghina diri sendiri, merendahkan martabat dan merugikan orang lain.

“Kesadaran seperti ini penting sekali, dan kalau itu bisa kuat maka orang tak korupsi karena pilihan moral terhindar, sebuah pribadi yang otonom. Ini penting sekali, ” ujar Komaruddin.

Dalam konteks Nusantara, lanjut Komaruddin, model atau model menjadi sangat penting. Karena itulah, lembaga-lembaga pemerintah harus mampu menyelenggarakan peran ini. Jika ingin efektif memberantas korupsi, Komaruddin mensyaratkan lembaga seperti KPK mampu membangun wibawa institusi dan betul-betul konsisten dan transparan dalam menegakkan hukum. [ns/ab]