Lakon Pemerkosaan, Pelecehan di Kebun Sawit Pemasok Merek Produk Kecantikan Terkemuka

0
33

Seorang gadis berusia 16 tahun, mengenang perihal beberapa tahun silam. Saat itu tangan seorang laki-laki membungkam mulutnya sehingga dia tidak bisa berteriak. Dan kalaupun berteriak, tidak ada orang di sekitar untuk mendengarnya. Gadis itu mendeskripsikan bagaimana bosnya memperkosanya di tengah pepohonan agung di perkebunan kelapa sawit di Indonesia. yang menjadi sumber kurang merek kosmetik paling terkenal di dunia. Sang bos kemudian meletakkan kapak di tenggorokannya dan mengancamnya: ‘jangan katakan kepada orang lain. ”

Di perkebunan lain, seorang perempuan bernama Ola mengeluh demam, batuk dan mimisan setelah bertahun-tahun menyemprot pestisida kritis tanpa alat pelindung. Ia hanya digaji Rp 28 ribu sehari, tanpa mendapatkan fasilitas kesehatan, jadi dia tidak mampu berobat ke dokter.

Ratusan mil jauhnya, Ita, seorang ibu muda, berduka atas dua bayi yang keguguran pada trimester ketiga. Tersebut lantaran dia secara teratur memanggul kelapa sawit yang berat semasa kedua kehamilan tersebut, takut tempat akan dipecat jika tidak melakukannya.

Inilah potret hawa yang tak terlihat di industri minyak sawit, di antara jutaan putri, ibu, dan nenek dengan bekerja keras di perkebunan besar di seluruh Indonesia dan negara tetangga Malaysia. Kedua negara ini ialah produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan menghasilkan 85 upah minyak nabati paling serbaguna.

Seorang pekerja menurunkan buah kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit dalam Gambut Jaya, Provinsi Jambi. (Foto: Antara/Wahyu Putro A via REUTERS)

Minyak kelapa sawit merupakan lengah satu komoditas penting yang ditemukan dalam segala hal, mulai dari keripik kentang dan pil hingga sasaran hewan, dan juga dalam ikatan pasokan beberapa merek besar di bisnis kecantikan senilai $ 530 miliar.

Associated Press melakukan investigasi komprehensif pertama yang berfokus pada perlakuan brutal terhadap perempuan dalam industri minyak sawit, termasuk momok tersembunyi pelecehan erotis, mulai dari pelecehan verbal dan ancaman hingga pemerkosaan. Ini merupakan bagian dari pandangan yang bertambah mendalam tentang industri yang mengungkap pelanggaran yang meluas di kedua negara, termasuk perdagangan manusia, pelaku anak dan perbudakan langsung.

Perempuan dibebani dengan kira-kira pekerjaan yang paling sulit serta berbahaya di industri tersebut. Meraka menghabiskan berjam-jam di air yang tercemar oleh bahan kimia dan membawa beban yang sangat mengandung sehingga seiringkali berimplikasi pada kandungan mereka.

Banyak hawa yang dipekerjakan oleh subkontraktor setiap hari tanpa tunjangan, melakukan order yang sama untuk perusahaan yang sama selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Mereka sering bekerja tanpa bayaran untuk membantu suami menutup kuota harian yang tidak jadi dilakukan.

Seorang pekerja membawa buah sawit di pundaknya saat panen di sebuah perkebunan di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, 11 Agustus 2009. (Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad)

“Hampir setiap perkebunan memiliki masalah terkait perburuhan, ” kata Hotler Parsaoran dari kelompok nirlaba Nusantara Sawit Watch. Kelompok ini telah melakukan investigasi ekstensif atas pengingkaran di sektor minyak sawit. “Tapi kondisi pekerja perempuan jauh bertambah buruk daripada laki-laki. ”

Parsaoran mengatakan bahwa tanggung jawab pemerintah, petani, pembeli multinasional tinggi, dan bank-lah -yang membantu mendanai ekspansi perkebunan- untuk mengatasi perkara yang terkait dengan minyak sawit. Minyak sawit berada di kolong lebih dari 200 nama sasaran dan terdapat di hampir 3 dari empat produk perawatan pribadi, mulai dari maskara dan bubuk hingga krim anti penuaan pra.

AP mewawancarai bertambah dari tiga lusin perempuan & anak perempuan dari setidaknya 12 perusahaan di seluruh Indonesia serta Malaysia.

Pemerintah Malaysia mengatakan belum menerima laporan tentang pemerkosaan di perkebunan, tetapi Indonesia mengakui pelecehan fisik dan seksual tampaknya menjadi masalah yang tumbuh. Apalagi sebagian besar korban gamang untuk angkat bicara.

Indonesia adalah pembuat minyak sawit terbesar di dunia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelestarian Anak mencatat ada sekitar tujuh, 6 juta perempuan yang bekerja di kebun kelapa sawit ataupun sekitar setengah dari total semesta tenaga kerja. Sementara di Malaysia yang jauh lebih kecil, angkanya lebih sulit untuk dipastikan karena banyaknya imigran asing yang hidup.

Di kedua negeri tersebut, AP menemukan beberapa generasi perempuan dari keluarga yang setara yang telah menjadi bagian daripada tulang punggung industri sawit. Kurang mulai bekerja sebagai anak-anak berhubungan orang tua mereka, mengumpulkan biji-bijian yang lepas dan membersihkan semak dari pohon dengan parang. Ironisnya, mereka tidak pernah belajar membaca atau menulis.

Seorang perempuan lain -sebut saja namanya Indra- putus sekolah saat remaja. Dia bekerja di Perkebunan Sime Darby Malaysia, satu diantara perusahaan patra sawit terbesar di dunia. Bertahun-tahun kemudian, dia mengatakan bosnya mulai melakukan pelecehan dengan mengatakan hal-hal seperti “Ayo tidur denganku. Ego akan memberimu seorang bayi. ” Dia akan mengintai di belakangn Indra di kebun, bahkan kala dia pergi ke kamar makbul.

Sekarang di piawai 27 tahun, Indra bercita-cita untuk pergi, tetapi ia mengaku suram untuk membangun kehidupan lain minus pendidikan dan keterampilan lain. Ahli perempuan dalam keluarganya telah main di perkebunan Malaysia yang sebanding sejak nenek buyutnya meninggalkan India saat masih bayi di mula tahun 1900-an. Seperti banyak pekerja di kedua negara tersebut, itu tidak mampu melepaskan perumahan bersubsidi dari perusahaan, yang seringkali cuma terdiri dari deretan gubuk bobrok tanpa air mengalir.

Seorang pelaku membawa buah sawit bilamana pengetaman di desa Teluk Payu pada Banyuasin. (Foto: Antara/Nova Wahyudi via REUTERS)

Hal ini menjadikannya siklus generasi bertahan, mempertahankan tenaga kegiatan bawaan yang harganya murah.

“Saya rasa ini wajar, ” kata Indra. “Dari muncul sampai sekarang, saya masih dalam perkebunan. ”

Tak terlihat, tersembunyi oleh lautan palem, perempuan telah bekerja di perkebunan sejak penjajah Eropa membawa pokok kayu pertama dari Afrika Barat lebih dari seabad yang lalu. Sebagai hukuman di Indonesia saat tersebut, beberapa yang disebut “kuli” perempuan diikat di luar rumah tuan dengan tindakan pelecehan yang tidak terbayangkan.

Beberapa dekade berlalu, minyak sawit menjadi tujuan penting untuk industri makanan, yang melihatnya sebagai pengganti lemak dengan tidak sehat. Dan perusahaan kosmetik, yang beralih dari bahan-bahan hewani atau minyak bumi, terpikat sebab sifat ajaibnya: menyebabkan gel cukur dan pasta gigi berbusa, melembabkan sabun dan berbusa dalam langir.

Pekerja baru selalu dibutuhkan untuk memenuhi permintaan tanpa henti, yang meningkat empat kala lipat dalam 20 tahun final. Perempuan di Indonesia seringkali merupakan pekerja “lepas”, dipekerjakan dari keadaan ke hari, dengan pekerjaan dan gaji yang tidak pernah dijamin. Laki-laki menerima hampir seluruh gaya yang sifatnya permanen, memanen tandan buah yang berat dan berduri dan bekerja di pabrik pengolahan.

Di hampir pada setiap perkebunan, laki-laki juga menjadi penilik. Hal tersebut membuka pintu untuk pelecehan dan pelecehan seksual.

Gadis berusia 16 tahun yang menggambarkan pemerkosaan oleh bosnya – seorang pria yang cukup umur untuk menjadi kakeknya – mulai bekerja dalam perkebunan pada usia 6 tarikh untuk membantu keluarganya memenuhi kebutuhan.

Pada hari dia diserang pada 2017, dia mengucapkan bos membawanya ke bagian terpencil perkebunan, di mana pekerjaannya merupakan mengangkut gerobak yang sarat dengan buah kelapa sawit oranye terang yang dia potong dari pohon. Tiba-tiba, katanya, majikan tersebut meraih lengannya dan melemparkannya ke tanah di tengah hutan. Setelah tersebut, katanya, dia menempelkan kapak ke tenggorokannya.

“Dia mengancam akan membunuhku, ” katanya lembut. “Dia mengancam akan membunuh segenap keluargaku. ”

Lalu, katanya, dia berdiri dan meludahinya.

Sembilan bulan kemudian, setelah dia mengatakan sang majikan telah memperkosanya empat kali teristimewa, dia duduk di samping budak laki-laki berusia 2 minggu yang keriput. Dia tidak berusaha menghiburnya ketika sang bayi menangis serta bahkan untuk melihat wajahnya.

Keluarga mengajukan laporan ke polisi, tetapi pengaduan itu dibatalkan, dengan alasan kurangnya bukti.

“Aku ingin dia dihukum, ” kata gadis itu sesudah diam lama. “Saya ingin dia ditangkap dan dihukum karena dia tidak peduli dengan bayinya… tempat tidak bertanggung jawab. ”

Perkebunan kelapa sawit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (foto: ilustrasi/Reuters).

AP mengindahkan tentang insiden serupa di perkebunan besar dan kecil di kedua negara. Perwakilan serikat pekerja, praktisi kesehatan, pejabat pemerintah dan advokat mengatakan beberapa contoh terburuk yang mereka temui melibatkan pemerkosaan berkelompok dan anak-anak berusia 12 tarikh dibawa ke ladang dan diserang secara seksual oleh mandor perkebunan.

Salah satu misalnya adalah seorang remaja Indonesia yang diperdagangkan ke Malaysia sebagai pembantu seks, di mana dia meninggalkan antara pekerja minyak sawit yang mabuk yang tinggal di lembah terpal plastik di hutan. Serta akhirnya ia melarikan diri.

Sementara Indonesia memiliki undang-undang untuk melindungi perempuan dari pelecehan dan diskriminasi, Rafail Walangitan dibanding Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelestarian Anak mengatakan dia menyadari penuh masalah yang diidentifikasi oleh AP di perkebunan kelapa sawit, termasuk pekerja anak dan pelecehan seksi.

“Kami harus main keras untuk ini, ” katanya, sambil menambahkan bahwa jalan pemerintah masih panjang. [ah/au]