Masjid yang Disponsori Pemerintah Yunani Tiba Gelar Salat Jumat

0
27

Suara azan terdengar dari sebuah bangunan yang di bagian depannya terdapat tulisan kata-kata dalam dua bahasa, Yunani dan Inggris yang maknanya “Republik Yunani, Departemen Pendidikan, Riset dan Urusan Keyakinan, Masjid Athena. ”

Sebelum memasuki masjid, jemaah dipersilakan membersihkan tangan dengan penyanitasi dengan tersedia. Jemaah lelaki kemudian menyembunyikan sepatu-sepatu mereka dalam kantong plastik dan menyimpannya di rak dengan tersedia di luar area salat. Mengikuti protokol kesehatan semasa pandemi, jemaah yang mengenakan masker saling memberi salam dengan saling menyentuhkan kepalan tangan. Mereka siap mengikuti salat Jumat.

Doa Jumat diselenggarakan pertama kalinya di 6 November lalu di langgar yang disponsori pemerintah Yunani tersebut. Berlokasi di ibu kota, Athena, masjid tersebut memang baru dibuka awal bulan ini setelah tertunda bertahun-tahun.

Seorang Muslim yang susunan di Yunani mengenakan kaos menduduki sebagai tindakan pencegahan terhadap penyaluran Covid-19 sebelum salat Jumat di masjid resmi pertama ibu tanah air, di Athena, Yunani, 6 November 2020. (Foto: REUTERS/Alkis Konstantini)

Rencana membangun masjid di Athena menetapkan waktu sekitar 14 tahun buat menuntaskannya. Proses pembangunannya diwarnai sebab berbagai protes, kontroversi politik dan penundaan di negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut Kristen Konvensional.

Parlemen Yunani keputusannya menyetujui pembangunannya pada Agustus 2016.

Masjid yang dibangun di kawasan industri di pokok kota Yunani itu akhirnya bisa menyediakan tempat resmi untuk beribadah bagi komunitas Muslim Athena, yang sebagian besar adalah para migran dan pengunjung.

Mematok sekarang, komunitas Muslim masih menggunakan ruang-ruang salat yang disediakan pada tempat-tempat seperti gudang yang tak digunakan lagi atau di dasar bawah tanah, yang kadang-kadang membuat ketegangan dan protes dari awak setempat lainnya.

Para anggota komunitas Muslim menyatakan bahwa masjid baru itu, meskipun jauh dari sempurna, setidaknya merupakan suatu awal.

“Ini hari yang sangat asing biasa bagi kami. Masih lama jalan yang harus dilalui, sedang panjang jalan yang membentang di depan sekarang ini karena, serupa yang Anda lihat, banyak aib dan banyak masalah yang sedang harus diselesaikan. Namun ini pokok yang sangat solid di mana kita dapat berpijak dan mengarungi maju, ” kata Anna Stamou, perwakilan dari Asosiasi Muslim Yunani.

Salah satu urusan yang harus diselesaikan adalah kapasitasnya yang kecil, kata Stamou.

“Masjid ini memiliki daya yang kecil mengingat populasi Muslim di Athena yang berjumlah invalid lebih setengah juta orang. Daya jemaah masjid ini adalah 300 orang lelaki dan 50 karakter perempuan. Tetapi sekarang, karena langkah-langkah terkait pandemi Covid-19, ini hanya menampung sembilan orang lelaki serta empat orang perempuan, ” katanya.

“Ini logis & memang masuk akal. Tetapi tentu saja, kapasitasnya tidak cukup sebab kami memiliki banyak masjid sementara, yang jauh lebih besar daripada masjid ini, ” lanjutnya.

Seorang jurnalis mengenakan masker pelindung paras sebagai tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 selama sholat Jumat di asing masjid resmi pertama ibu praja di Athena, Yunani, 6 November 2020. (Foto: REUTERS/Alkis Konstantini)

Bukan hanya bagi masjid Athena itu. Berbagai restriksi lebih lanjut menimpa jumlah orang itu berlaku dalam semua tempat ibadah di Yunani sekarang ini karena pandemi virus corona yang masih terus berlangsung.

“Ini seperti fondasi simbolis, suatu bangunan yang resmi. Ini tidak akan memberi layanan bagi semua orang. Kami sungguh tahu itu. Tetapi ini adalah awal yang baik, ” introduksi Stamou.

Persis sehari setelah salat Jumat pertama dalam Masjid Athena, tepatnya pada Sabtu 7 November, pemerintah Yunani melegalkan lockdown atau tindakan PSBB nasional. Ini berarti semua tempat ibadah, termasuk gereja dan masjid, hanya bisa menyelenggarakan ibadah tanpa kehadiran umatnya. [uh/ab]