Negeri Tidak Akan Tergesa Gelar Rencana Vaksinasi Covid-19

0
527

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memastikan pemerintah akan tetap memajukan kaidah ilmu pengetahuan sebelum menerapkan program vaksinasi massal Covid-19.

“Pemerintah tidak akan terburu-buru dalam menyelenggarakan program vaksinasi. Program vaksinasi akan diselenggarakan secara bertanggung jawab dan tetap mematuhi tahapan-tahapan pengembangan vaksin sehingga nantinya vaksin yang digunakan itu betul-betul damai, dan berkhasiat bagi masyarakat, ” ujar Wiku dalam telekonferensi pers, dari Istana Presiden, Jakarta, Kamis (17/12).

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 17 Desember 2020, menegaskan pemerintah tidak akan tergesa-gesa melakukan program vaksinasi massal Covid-19 (Biro Setpres).

Penting untuk diingat jika nanti program vaksinasi akan dijalankan pada tahun 2021, pemerintah memastikan vaksin yang dimanfaatkan adalah vaksin yang terbaik untuk masyarakat Indonesia, ” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wiku menjelaskan langkah pemerintah dengan menggratiskan Covid-19 ini tentu akan membawa hasil signifikan dalam menciptakan kekebalan komunitas global, karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Wiku mengharapkan kegiatan sama yang baik dengan semesta pihak untuk bisa menindaklanjuti rencana vaksinasi menjadi program prioritas.

“Hal pertama program vaksinasi mencakup komunikasi umum yang berjalan secara terstruktur dan sesuai dengan tahapannya. Hindari membina asumsi, pernyataan yang bersifat anti produktif dengan tujuan program vaksinasi, ” tuturnya.

Kasus Aktif Covid-19 Terus Naik

Wiku melaporkan kasus aktif Covid-19 per 13 Desember 2020 secara nasional beruang pada level 15, 08 komisi. Angka tersebut, kata Wiku, bertambah tinggi dari kasus aktif dengan terjadi pada November lalu dengan rata-ratanya mencapai 12, 8 upah. Tingginya angka kasus aktif ini dikarenakan meningkatnya jumlah kasus anyar harian sementara angka kesembuhan mengalami perlambatan.

Jumlah kejadian aktif di 514 kabupaten/kota bervariasi. Sebanyak 4, 67 persen atau 24 kabupaten/kota tidak memiliki kejadian aktif, sementarasebanyak 17, 1 persen atau 88 kabupaten/kota memiliki peristiwa aktif kurang atau sama secara sepuluh kasus. Sekitar 27, 8 persen atau 143 kabupaten/kota diketahui memiliki 11-50 kasus aktif, & 16, 9 persen atau 87 kabupaten kota memiliki 51-100 kejadian aktif.

Sejauh ini masih ada 29 persen atau 149 kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif 101-1000 kejadian. Bahkan ada sekitar 4, 5 persen atau 23 kabupaten/kota dengan masih memiliki kasus aktif di atas 1. 000.

“Jika dilihat lebih lanjut, maka sebenarnya sebagian besar dari wilayah Indonesia atau 66, 47 obat jerih dari 514 kabupaten/kota di Indonesia ini memiliki kasus aktif kurang dari atau sama dengan 100. Hal ini menjadi bukti kalau masyarakat Indonesia memiliki ketahanan dalam menghadapi, pandemi dan ini ialah modal kita untuk terus mengelola ketangguhan dan tetap semangat, ” ujarnya.

Satgas Imbau Masyarakat Diam di Panti Rayakan Liburan Natal dan Tarikh Baru

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus positif corona dalam liburan panjang natal & tahun baru, pemerintah mulai memperketat persyaratan pelaku perjalanan antar tanah air dan provinsi, termasuk menunjukkan hasil rapid test antigen yang negatif. Wiku menekankan, kebijakan ini semata-mata dikerjakan untuk melindungi masyarakat dan menekan laju penyebaran Covid-19.

Peraturan ini memicu protes dari masyarakat dan membiarkan banyak rencana perjalanan.

“Satgas menyadari beberapa peraturan ini terkesan sulit untuk dijalankan, biar demikian masyarakat juga harus menyadari bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah ditujukan untuk melindungi bangsa dan mencegah lonjakan penularan kejadian Covid-19. Oleh sebab itu, satgas mengimbau agar masyarakat dapat patuh sehingga memastikan kebijakan yang dikeluarkan dapat berjalan dengan efektif, ” jelasnya.

Dengan masih tingginya kasus dalam beberapa daerah di Indonesia, Resi mengimbau masyarakat untuk tetap pasif di rumah. Apalagi tingkat keterisian tempat tidur di ruang isolasi dan ICU Covid-19 di bermacam-macam daerah sudah mencapai lebih dibanding 70 persen.

“Hindari melakukan perjalanan ke tempat dengan kasus Covid-19 yang masih agung, dan fasilitas kesehatan terbatas. Seolah-olah kita ketahui bersama, kapasitas tempat tidur, isolasi dan ICU Covid-19 pada saat ini masih terpatok terutama di daerah-daerah dengan urusan yang masih tinggi. Jadikan itu juga pertimbangan agar tidak menyusahkan diri sendiri dan pemda setempat, ” tegasnya. [gi/ab]