Corona di Yogya: Rekor Baru & Opsi PSBB Jelang Pergantian Tahun

0
60

Yogyakarta kembali mencatat rekor baru jumlah urusan Covid-19 harian pada Selasa (29/12), sebanyak 282 kasus. Angka moralitas juga meningkat, sementara ketersediaan peraduan di rumah sakit makin menipis.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menyerahkan keputusan penutupan kawasan perlu di kotanya pada malam tarikh baru kepada pejabat berwenang. DPRD Kota Yogyakarta memang telah mendesak wali kota untuk menutup total kawasan Tugu Yogya, Jalan Malioboro dan Titik Nol Kilometer sejak tiupan terompet dan pesta kembang api.

Desakan itu tentu bukan tanpa sebab. Urusan positif Covid-19 di Yogyakarta tetap melambung. Dalam dua hari final, opsi Pembatasan Sosial Berskala Tumbuh (PSBB) bahkan bergulir.

Gubernur PADA Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono menanggapi opsi PSBB di Yogyakarta, Selasa (29-12). (Foto: Courtesy/Humas DIY)

“Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa. Apakah mendisiplinkan masyarakat itu masih punya ruang. Karena dengan PSBB, harus kita pertimbangkan konsekuensinya. Mau punya resiko apa, ” sirih Sultan di Yogyakarta, Selasa (29/12).

Sebagai persiapan ledakan kasus, Sultan juga sudah menodong Rumah Sakit Angkatan Udara Hardjolukito mempersiapkan 100 bed tambahan. Perintah seragam juga diberikan ke setiap kabupaten dan kota, mengingat makin tipisnya angka ketersediaan bed .

Rekor Kasus Baru Yogya

Pada Selasa (29/12), pakar bicara Tim Satgas Covid-19 Yogyakarta, Berty Murtiningsih, mengumumkan adanya penggandaan 282 kasus. Angka itu ialah yang tertinggi selama pandemi berlaku. Dengan demikian, total kasus Covid-19 DIY secara kumulatif adalah 11. 602. Saat ini, kasus aktif mencapai 3. 884, baik pasien dirawat di rumah sakit, di sarana isolasi terpadu maupun isolasi mandiri.

“Laporan total kasus meninggal sebanyak 10, jadi total kasus meninggal sebanyak 249 kasus, ” kata Berty.

Angka kematian pasien Covid 19 Yogyakarta dalam 10 hari terakhir. (Data Satgas DIY)

Dalam 10 hari terakhir, Yogyakarta mencatatkan 67 karakter meninggal karena Covid-19. Sementara daripada 64 critical bed di rumah rendah rujukan, 50 diantaranya telah terpakai. Sedangkan non-critical bed terisi 500 penderita, dari jumlah 577 yang disediakan.

Delapan Kawasan Kritis

Yogyakarta termasuk dalam delapan provinsi dengan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit berada dalam batas merusuhkan. Kondisi itu dipaparkan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Prof. dr. Abdul Kadir kepada media secara daring pada Senin (28/12).

Abdul Kadir mengatakan, secara nasional angka keterisian tempat tidur buat pasien Covid-19 telah terisi 64 persen dari jumlah yang disediakan. Namun, ada delapan daerah yang berada di atas angka itu, yaitu Banten (85 persen) DKI Jakarta (84 persen), Jawa Barat (83 persen), Yogyakarta (82 persen), Kalimantan Tengah (79 persen), Jawa Timur (77 persen), Jawa Pusat (76 persen) dan Sulawesi Daksina (69 persen).

“Beberapa daerah ini telah berada pada zona merah, kapasitas tepat tidurnya yang tergunakan saat ini sudah pada zona merah, sehingga ada peningkatan sedikit saja, mampu menyebabkan rumah sakit akan kewalahan, ” kata Abdul Kadir.

Pemerintah memberikan perhatian khusus bagi daerah-daerah ini, karena panti sakit dengan pengunaan tempat rebah di atas 70 persen bakal membawa dampak buruk. Jika rumah sakit penuh, terbuka kemungkinan anak obat tidak akan bisa dirawat. Lebih jauh lagi, tenaga kesehatan hendak mengalami kelelahan dan berdampak di pelayanan tidak optimal. Terburuk daripada efek domino ini adalah munculnya angka kematian yang tinggi.

Kementerian Kesehatan sendiri telah meminta peningkatan kapasitas tempat terbaring di delapan daerah itu. Segenap kepala dinas kesehatan dan penasihat rumah sakit telah diminta melaksanakan penambahan tempat tidur 30-40 obat jerih, dari jumlah ketersediaan ruang isolasi saat ini. Menurut Abdul Kadir, di delapan provinsi itu setidaknya telah dilakukan penambahan 1. 297 critical bed .

Petugas memakai baju hazmat di dalam pemakaman Guru Besar UGM Prof Iwan Dwiprahasto di Makam Sawitsari Yogyakarta, Selasa, 24 Maret 2020. (Foto: Courtesy/Humas UGM)

Untuk menekan jumlah pasien di rumah rendah, Kemenkes telah menerbitkan panduan pengerjaan pasien Covid-19 edisi revisi kelima. Mereka yang bergejala ringan ataupun tanpa gejala cukup diisolasi di tempat khusus. Pasien yang pasti tetapi dengan gejala sedang, bisa ditampung di rumah sakit ataupun ruang isolasi, semacam Wisma Olahragawan di Jakarta.

Di sektor tenaga media, Kemenkes bakal melakukan penambahan melalui skema Penugasan Dokter Spesialis. Pada Januari 2021 rekrutmen akan dilakukan dan langsung disebar untuk daerah yang membutuhan. Ada juga skema penugasan tenaga intership , karena ada 4. 000 mahasiswa kedokteran yang baru lulus dan sekitar 60 persen diharapkan mengikuti agenda ini. Seluruh rumah sakit pula dipersilakan melakukan perekrutan langsung secepatnya.

Jumlah kasus positif Covid 19 di Yogyakarta dalam 10 keadaan terakhir berdasarkan data Satgas DIY.

Kebijakan di Atas Kertas

Epidemiolog dibanding Universitas Gadjah Mada, dr Riris Andono Ahmad, menilai saat itu kampanye protokol kesehatan tidak mau mampu lagi menjamin pengendalian transmisi.

“Intinya, protokol 3M itu saat ini tidak cukup mampu untuk mengendalikan transmisinya. Oleh karena itu kita seharusnya saat ini pokok pengendaliannya bukan pada 3M-nya, namun menghentikan transmisi dengan menghentikan mobilitas penduduknya, sama seperti pada mula pandemi, ” kata Riris.

Yang dibutuhkan adalah iktikad politis dari pemerintah. Namun, tambahan Riris, sikap ini tidak boleh hanya ada di atas kertas. Dalam kasus penerapan PSBB misalnya, menurutnya pilihan ini tidak ditegakkan dengan kuat dan konsisten pada lapangan, seperti yang terlihat pada Jakarta.

“Selalu ada kompromi-kompromi, bahkan pada PSBB transisipun, pemerintah mengizinkan tersedia pesta pernikahan, misalnya. Itu kan sesuatu yang pada akhirnya, kalaupun ada upaya PSBB, itu sepertinya hanya ada di atas kertas saja, ” imbuh Riris.

Situasi normal baru, introduksi Riris, harus diterjemahkan sebagai status yag tidak stabil dan fluktuatif. Adaptasinya adalah dengan respon pemerintah yang juga fluktuatif. Ada era di mana penularan bisa dikendalikan maka dilakukan pelonggaran mobilitas serta interaksi sosial. Sebaliknya, ketika kembali meninggi, mobilitas harus dihentikan juga. [ns/ab]