20 Pemilik Kekayaan Intelektual Indonesia di dalam Pameran Lisensi di Hong Kong

0
258

Para pengikut tahun ini utamanya adalah pemilik lisensi karya kreatif atau leter animasi yang menonjol di bermacam-macam platform media sosial. Siapa itu dan apa yang diharapkan sejak pameran ini serta manfaatnya untuk ekonomi kreatif?

Negeri Indonesia pada tahun 2021 menyilakan 20 pemilik hak kekayaan intelektual (Intelectual Property/ IP) mengikuti Hong Kong Licensing Show yang berlangsung 11 Januari hingga 15 Januari 2021.

Pameran tersebut memusatkan perhatian pada produk-produk yang sudah memiliki lisensi di daerah Asia di mana para pemilik lisensi produk dan agen lisensi mencari mitra dan memperluas jaringan lisensi regional serta menjual keluaran mereka di Asia, khususnya dalam daratan China.

Peserta yang dipilih negeri Indonesia tahun ini adalah pemilik IP kreatif pada bidang animasi, film, komik dan games. Itu adalah pengusaha muda kreatif dengan ingin bersaing dengan industri kreatif dunia.

Is Yunarto adalah pemilik IP dan kreator komik dan animasi Garudayana yang diilhami tokoh legenda wayang nusantara. “Ya BEKRAF dan program Katapel Badan Ekonomi Kreatif memfasilitasi, menyelenggarakan sebuah acara untuk mengajak rekan-rekan pelaku IP di Indonesia agar bisa lebih terekspos dengan kegiatan yang skalanya lebih luas. ”

Tokoh komik “Garudayana” (Foto: Courtesy).

Tokoh-tokoh komik Garudayana sudah dibuat dalam bentuk mainan, kartu permainan, kemasan makanan ringan, games Mobile Agents yang populer di Nusantara dan Asia Tenggara. Buku komik Garudayana yang diilhami tokoh legenda Indonesia juga sudah diterbitkan di dalam Bahasa Indonesia dan Jepang mengikuti diterbitkan secara digital di Jepang.

Rakhman Azhari, ialah Head of Commerce Mindblowon secara komiknya tahilalats. Produk-produk Tahilalats telah digunakan untuk play station, propaganda usaha berbayar dan mainan. Ia memandang pameran ini sebagai jalan baik untuk belajar dari pemilik IP internasional.

“Bagaimana mereka memonitize IP-nya yang sudah hebat, sedangkan kita baru peduli sekarang-sekarang ini. Korea sudah tiba bangkit, sekarang kita mulai terpacu dan membuat kita terus mencari kesempatan untuk bekerjasama dengan tanda bahkan konten-konten yang lintas budaya, ” ujarnya.

Sementara, Erza Garnida merupakan salah seorang dari dua kreator karakter dan pendiri studio kreatif Authentic Remixes pemilik IP Maple Haven . Pria bergelar MBA lulusan News Castle University di Inggris ini segar mengembangkan bisnis IP efektif setahun yang lalu. Setelah menjual mainan dengan merek Kidbash ia ingin memperluas produk animasi games lewat Hong Kong Licensing Show.

Salah satu karakter “Maple Haven” (Foto: Courtesy).

“Yang pertama memperoleh ekspos, kemudian meningkatkan portfolio kita. Dengan adanya games portfolio di mana kita mengikuti acara internasional dan jika lulus kurasi dari Indonesia, tersebut sudah menjadi pencapaian besar pada tahun pertama kita. Kalau bisa mendapat kerjasama internasional, ” tukasnya.

Para pemilik kapital intelektual ini rata-rata memiliki follower yang cukup besar dan juga menyebarluaskan produk mereka kepada umum lewat berbagai platform media baik.

Pengusaha muda & pemilik IP Komikgajelas, Jasmine Hanny Surkatty yang membuat komik semenjak masih remaja mengatakan, ada disiplin penting yang diperolehnya dari pemilik IP internasional di pameran sebelumnya.

Satu diantara seri “Komikgajelas” (Foto: Courtesy).

“Ini adalah perusahaan IP gede, seperti warner Bross dan yang lainnya mereka sangat bersahaja, itu tidak terlampau memedulikan follower. Jumlah atau angka follower adalah factor yang baik. Ya bisa berarti penjualan yang lebih baik tapi di sisi lain mereka serupa menjunjung ide-ide dan konsep di atas segalanya, ” katanya.

Peserta pameran lainnya membenarkan. Meskipun pada akhirnya berharap IP mereka akan berdampak luas di dalam ekonomi dan usaha mereka, tetapi para pengusaha kreatif muda tersebut ingin karakter atau tokoh-tokoh komik dan animasi Indonesia berdampak lebih luas lagi bagi Indonesia.

Rakhman Azhari mengatakan, “Pengen orang benar-benar menghormati, tahu Indonesia selain dari budaya dan pariwisatanya, IP menjadi salah satu bukti bagi mereka untuk menuju Nusantara. ”

Pameran akbar Hong Kong Licensing Show ini setiap tarikh biasanya menarik puluhan ribu tamu dan ribuan merek namun pandemi telah memaksa ajang tahun tersebut beralih ke virtual. Para pengikut mengadakan pertemuan-pertemuan bisnis dan membicarakan kerja sama internasional lewat bilik-bilik virtual khusus. [my/em]