GANDAR Kurangi Tentara jadi 2. 500 di Afghanistan, Sesuai Perintah Trump

0
316

Militer AS telah memenuhi sasaran mengurangi jumlah tentaranya di Afghanistan menjadi sekitar 2. 500 pada hari Jumat (15/1). Ini merupakan pengurangan yang boleh melanggar larangan Kongres pada saat-saat terakhir.

Presiden Donald Trump, yang memerintahkan pengurangan tersebut pada bulan November, Kamis mengatakan bahwa jumlah tentara di Afghanistan telah mencapai titik terendah dalam 19 tahun ini, meskipun dia tidak menyebutkan jumlahnya. Februari berserakan, pemerintahan Trump mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk mengurangi jumlah tentara Amerika secara bertahap hingga tidak ada lagi yang tersisa sebelum Mei 2021, meskipun tidak sahih bagaimana pemerintahan mendatang Biden hendak melaksanakannya.

Presiden terbatas Joe Biden, yang menganjurkan buat mempertahankan satu kekuatan kontraterorisme kecil di Afghanistan sebagai cara buat memastikan kelompok-kelompok ekstremis seperti al-Qaida tidak lagi dapat melancarkan serangan terhadap AS, menghadapi sejumlah perkara mengenai Afghanistan. Salah satunya adalah bagaimana dan apakah akan meneruskan pengurangan tentara tersebut lebih jauh.

Trump dalam pemberitahuan singkatnya menyinggung keinginan lamanya buat menarik pasukan Amerika sepenuhnya muncul dari Afghanistan. “Saya akan selalu berkomitmen untuk menghentikan perang tak akhir, ” katanya, mengacu di perang-perang berlarut-larut yang menyeret GANDAR di Afghanistan sejak 2001 serta di Irak hampir sepanjang masa sejak 2003.

Meskipun para pejabat militer senior telah memperingatkan untuk tidak terlalu lekas mengurangi pasukan di Afghanistan, Pemegang Menteri Pertahanan Christopher Miller mengumumkan pada 17 November bahwa ia menerapkan perintah Trump. Akibatnya, para komandan militer bergegas menarik lebih dari 1. 500 tentara muncul negara itu dalam beberapa minggu terakhir. Atas perintah Trump, para komandan juga mengurangi jumlah tentara AS di Irak menjadi dua. 500 dari sekitar 3. 000 pada periode yang sama.

Keputusan mengenai Afghanistan itu dianggap sebagian kalangan sebagai hal tidak perlu yang bakal mengacaukan pengambilan keputusan pemerintahan mendatang. Trump pada waktu itu menolak menyungguhkan bahwa ia telah kalah pemilu dan akan menyerahkan kekuasaan kepada Biden pada 20 Januari. Beberapa kalangan di Kongres, termasuk rekan-rekannya dari partai Republik, menentang kesimpulan Trump itu. [uh/ab]