Persekutuan Bareng Produsernya Chris Brown, Afgan Rilis “Say I’m Sorry”

0
532

Setelah besar tahun vakum, Afgan membuat kejutan dengan merilis single terbarunya yang berbahasa Inggris, berjudul, “Say I’m Sorry. ” Ini adalah single internasional perdana Afgan dalam sepanjang 13 tahun kariernya di negeri musik, yang berada di bawah label musik Empire, yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat.

Empire adalah satu diantara label musik ternama di Amerika Serikat, yang menaungi artis-artis papan atas seperti Adam Lambert, Busta Rhymes, Iggy Azalea, Snoop Dogg, Tyga, dan Robin Thicke

“Aku tuh memang udah pengen betul bikin album bahasa Inggris. Bikin album dalam luar negeri, ” cerita Afgan kepada VOA melalui wawancara Skype belum lama ini.

Kegigihan dan usaha Afgan buat bisa mencapai cita-citanya menembus medan internasional ternyata tidak sia-sia. Ia berusaha mencari tahu sendiri, had akhirnya ia bertemu langsung dengan pendiri perusahaan label musik Empire, Ghazi Shami, di Singapura. Afgan mengaku langsung cocok saat bersemuka Ghazi.

“Dia very open minded . Vibe -nya enak banget. Aku ngerasa, kayaknya aku kalau kerja sama, sepadan orang seperti ini bisa betul, ” kata penyanyi yang mempunyai nama lengkap Afgansyah Reza ini.

Dikontrak Kongsi Label Musik AS

Pertemuan tersebut membuahkan hasil yang memuaskan berupa kontrak rekaman album. Jalan menuju impiannya buat bisa bermusik di luar negeri mulai terbuka.

“Aku dikontrak sama (Empire), which mereka predominantly tuh kayak hip hop music gitu, ” ujar penyanyi kelahiran 1989 ini.

Afgan bersama produser & musisi di AS saat merodok album di studio EMPIRE (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Empire & label musik Afgan di Indonesia, yaitu Trinity Optima Production membatalkan untuk berkolaborasi, dan memberangkatkan Afgan ke Amerika Serikat, September 2019 lalu.

Melalui tulisan rilis yang diterima oleh VOA Indonesia, Managing Director dari Trinity Optima Production, Yonathan Nugrhono mengucapkan sangat mendukung dan bangga secara perjalanan karier Afgan.

“Mimpinya untuk berkarya ke tingkat yang lebih tinggi menjadi fakta, dan kami harap Afgan mampu membawa nama baik Indonesia ke panggung internasional. Fans pasti menyukai musik Afgan yang baru, begitu juga sosoknya, ” katanya dalam tulisan rilis tersebut.

Syak wasangka untuk melangkah sempat melandanya. Namun, dengan tekad bulat, Afgan biar keluar dari zona kenyamanannya buat mengejar kesempatan yang sudah menjadi impiannya sejak dulu.

“Aku memang tujuannya untuk memproduksi album ini ingin keluar dibanding comfort zone aku. Aku ingin kayak new challenge (red. tantangan baru). Hamba pengin belajar banyak hal gres dan mencoba berkreasi di environment yang baru, ” ucapnya.

Dijambret di Keadaan Pertama

Setibanya di San Francisco, Amerika Serikat, Afgan sempat mengalami kejadian yang menyedihkan. Saat mampir untuk prasmanan malam di sebuah restoran dalam daerah pecinan, mobil Afgan dibobol dan seluruh koper, paspor, beserta uang yang sudah ia siapkan untuk hidupnya selama satu kamar di Amerika raup. “Gone in the first night, ” kata Afgan. Padahal keesokan harinya ia harus langsung ke studio dan mulai bekerja.

“Aku letak semua koper sama barang-barang seluruh di mobil. Padahal sebelum berangkat udah dibilangin sama ibuku, ‘jangan tinggalin apa-apa di mobil sungguh, ’ cuman aku enggak dengerin . Terus balik-balik udah di smashed down, semuanya ilang , ” tambahnya.

Afgan saat di San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Afgan pun sempat pergi ke kantor polisi untuk melaporkan peristiwa tersebut, walau dikatakan memang tidak ada jaminan bahwa semuanya mampu ditemukan, mengingat kejadian seperti ini sering terjadi di kota itu.

“Akhirnya dibantuin sebanding KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di San Francisco. Terus dikasih paspor sementara. Sangat ngebantu banget . Dan waktu tersebut kan aku harus ke Atlanta. Siap kalau pakai paspor temporary gini bisa atau enggak? Ternyata memang bisa dan Alhamdulillah, sebenarnya lancar, ” introduksi pelantun lagu “Terima Kasih Cinta” ini.

Meskipun sempat ditimpa masalah, Afgan tetap vitalitas dalam menggapai mimpinya di Amerika.

“Mungkin ini ialah momen dimana aku harus start over . Ujung-ujungnya sih, it becomes a blessing in disguise (red. berkah dibalik kejadian) kayaknya. Jadi perjalanan aku semasa di US itu mulus betul. Semenjak dari hari pertama itu enggak ada kendala sama seluruhnya, ” papar Afgan.

Kolaborasi Dengan “Tha Aristocrats”

Selama kepala bulan di Amerika Serikat, Afgan digodok secara intens di sanggar Empire untuk menggarap album. Afgan bekerja sama dengan duo pengusaha ternama, Tha Aristocrats, yang sudah pernah berkolaborasi dengan sederetan penyanyi dan musisi papan atas, kaya Kanye West, Chris Brown, Ashlee Simpson, juga kelompok K-Pop, EXO, P1Harmony, BoX, bahkan Agnez Mo.

Afgan berkolaborasi dengan produser dan musisi AS di studio EMPIRE di San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Walau sempat ragu, Afgan pun disambut mesra, dan merasa nyaman berinteraksi dengan para personil Empire dan musisi di Amerika. Tidak ada yang memandangnya berbeda, meskipun berasal daripada belahan dunia lain. Ia merasa sangat diapresiasi.

“Maksudnya sama aja kayak ngobrol sama orang (Indonesia) gitu, ” ujar penyanyi yang sepanjang kariernya telah mengambil sekitar 60 penghargaan ini.

Melalui surat rilis yang diterima oleh VOA Indonesia, pemangku presiden A& R Empire, Tina Davis mengatakan bahwa Afgan adalah penyanyi yang berbakat, mencintai irama, sopan dan sangat terbuka secara ide apa pun.

“Aku mendengar suaranya untuk pertama kali saat kami bertemu dengan virtual. Tapi, ketika kami bertatap muka di studio dan aku mendengarnya bernyanyi di depan mataku, aku bisa melihat kemampuannya dengan sebenarnya, terutama jangkauan vokalnya, & etos kerjanya yang bagus, ” kata Tina Davis dalam surat rilis tersebut.

Afgan di studio EMPIRE, San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Afgan yang baru pertama kali menggarap album di Amerika merasa takjub secara perbedaan cara kerja para musisinya, yang menurutnya sangat cepat. Jika biasanya di Indonesia Afgan mendalam ke studio sekitar dua tahun sekali untuk menggarap album, dia melihat para produser dan musisi ini kerap berada di studio untuk terus mengasah kemampuan mereka dalam membuat lagu.

“Aku inspire banget gerangan , mereka kayak terus keep going , walau kendati lagunya mau jadi enggak dipakailah. Mereka berada di sana untuk mendapatkan pengalaman dan belajar, ” ujar pengagum Brian McKnight, Stevie Wonder, dan Whitney Houston itu.

Dalam satu keadaan ia bisa menghasilkan 3-4 langgam bersama para produser dan penulis lagu yang berbeda-beda, yang khusus didatangkan dari kota lain, kaya Los Angeles.

“Mereka punya stok (beat) banyak banget, kayak ratusan gitu. Aku tinggal seleksi nih , dengan aku paling suka yang mana beat -nya, ” jelasnya.

Afgan saat berkecukupan di studio EMPIRE, San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Sebagai persiapan dalam menulis langgam, Afgan pun pergi ke kota Atlanta di Amerika Serikat.

“Atlanta itu predominantly kan black community ya, Jadi aku disitu kayak, ‘Hi, I’m Asian , mau bikin lagu R& B, ’ kata Afgan serupa tertawa.

Ia pula berusaha meleburkan dirinya ke di dalam budaya warga kulit hitam buat lebih mendalami musik R& B, yang pertama kali dipopulerkan sebab warga keturunan Afrika Amerika di tahun 1940an.

“Diajak ke underground hip hop club gitu, ‘ lu harus kenal dulu nih culture -nya, baru lu bisa mungkin lebih inspire untuk nulis lagunya, ’” ceritanya.

Selama satu bulan di Amerika Serikat, Afgan mengaku sangat menikmati hari-harinya, bahkan tidak merasa cita kampung alias homesick . Ia pun merasa bisa hidup lebih santai.

“Mungkin di (Indonesia) kan banyak yang kenal, ” katanya sambil bercanda.

“Jadi kalau di (Amerika), aku bisa bertambah santai aja, ” tambahnya,

Sempat ‘Jiper’ Disuruh ‘Freestyle ‘

Saat berada di studio, Afgan mengaku sempat ‘jiper’ dan kaget ketika ia diminta untuk masuk ke dalam studio dan diminta menyanyikan lagu secara bebas atau freestyle . Ditambah lagi Afgan tidak terbiasa menggarap pembawaan yang berbahasa Inggris, “yang maka limitasi juga awalnya. ”

Zaman menggarap album di AS, Afgan bekerja sama dengan duo produser Tha Aristocrats (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

“’ Freestyle aja mau ngomong barang apa. Just be you . ’ Tapi di dalam studio itu yang dengerin ada kayak 10 orang gitu. Ada songwriters dengan lain, yang jago-jago banget, ” kenangnya.

“Kalau misalnya di (Amerika) ya masuk vocal booth udah, direkam, and then that’s it . Jika di (Indonesia) kan, aku ngerasa kayak mesti dibikin demo- nya dulu, baru dibikin versi official -nya. Kalau di sana udah langsung jadi, ” tambahnya.

Pengalaman Pribadi di “Say I’m Sorry”

Lagu “Say I’m Sorry” dengan berdurasi hampir 3 menit itu menggemakan sensasi “slow-burning R& B” dengan menggugah hati, dengan sentuhan synthesizer dengan mendominasi di dalamnya. Tentunya langgeng menampilkan suara Afgan yang sudah khas terdengar di telinga para-para penggemarya.

“Awalnya kayak hesitant gitu mau nyanyi lagu itu. Kok kayaknya enggak gue banget ya? Ini kayaknya beda banget. Orang-orang mampu nerima enggak ya? Cuman pas aku udah coba nyanyiin ya, ternyata it feels right , ” kata penyanyi yang mempunyai total 17 juta pengikut pada media sosial ini.

Afgansyah Reza (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Lagak ini bercerita mengenai putus nafsu dan penyesalan, dimana kita tak bisa memberikan penghargaan yang seharusnya kepada orang yang kita cintai, karena sudah terbiasa dengan keberadaannya.

“Iya, pengalaman pribadi dong , ” kata Afgan.

Regret (red. penyesalan) itu ada untuk mengajarkan kita satu hal. (Jadi kita bisa menjadi manusia yang bertambah baik lagi di kemudian hari), ” pesan Afgan.

Saat menulis lagu “Say I’m Sorry, ” di studio Empire, Afgan ditantang untuk membuka muncul di lingkungan yang memang benar terbuka.

“Sama produser-produsernya dan juga songwriters yang lain tuh kayak bisa ngobrol aja, ‘yang lagi pengin lu omongin barang apa sih ? “‘ Terus, aku kayak langsung aja rencana dan jadilah lagu ini, ” tambahnya.

Sempat Terdampak Pandemi

Proses penggarapan albumnya ini sempat tertunda karena pandemi. Seharusnya Afgan harus kembali lagi ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan proses pasca produksi albumnya ini. Namun, belakangan semuanya diselesaikan secara jarak jauh, yang menurutnya cukup menantang.

“Karena respon orang jarak jauh kan enggak bisa ‘tek-tok-an’ secara lekas. Jadi ya, project ini ke hold selama satu tahun kemarin. Makanya aku ngerasa tahun 2021 ini, I cannot hold it any longer. I just have to put it out, ” tegasnya.

Afgan berkolaborasi dengan pengusaha dan musisi AS di studio EMPIRE di San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Tak hanya albumnya yang tertunda, agenda manggungnya pun juga berkurang semenjak tahun lalu. Seluruh kegiatan serupa syuting, membuat lagu atau acara virtual juga dilakukan dari rumah. Afgan memilih untuk lebih banyak di rumah dan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pandemi belum berakhir.

“Aku juga enggak mau yang kayak pergi-pergi, terus kayak posting di social jalan. Jadi aku mau mendorong yang lain. Ya udah, stay in walaupun bosan ya, langgeng harus dijalani” ujarnya.

Rencananya, Afgan akan segera merilis single baru lagi bulan Maret, sebelum album terbarunya ini dirilis bulan April mendatang di Nusantara dan Amerika Serikat. Album itu akan berisi 13 lagu. Ia pun bersemangat untuk terus berkarya.

“Jadi ya jadi abis album, aku tetap rilis lagi, rilis lagi. Pokoknya beta pengin non-stop rilis musik aja. Benar-benar non-stop, karena kemarin udah besar tahun break , kelamaan. Jadi aku pengin udah productive aja rilis terus, ” sirih Afgan.

Afgan di studio EMPIRE, San Francisco, California (dok: EMPIRE/Trinity Optima Production)

Afgan menyadari bervariasi tantangan yang dihadapi oleh seluruh orang di tengah pandemi tersebut. Tetapi, Afgan berpesan agar tidak lupa untuk tetap mengejar petunjuk yang bisa datang dari berbagai sumber.

“Kamu bisa baca buku, nonton film atau semuanya itu bisa dijadiin petunjuk jadi jangan sampai let your spirit being broken aja, dengan awak being alone , ” pungkasnya. [di/aa]