FDA: Perempuan Bisa Minta Pil Aborsi dari Dokter Menggunakan Telemedisin

0
132

Pejabat Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika (Food and Drug Administration/FDA), Selasa (13/4), mengatakan pada zaman perebakan pandemi virus corona ini, perempuan yang memerlukan pil aborsi tidak sedang diharuskan untuk bertemu langsung dengan dokter di klinik atau kantornya.

Langkah ini merupakan mutasi signifikan dalam pertarungan dasar yang masih berlangsung terkait obat aborsi.

FDA mengumumkan perubahan kebijaksanaan itu dalam surat yang ditujukan kepada American College of Obstetricians and Gynecologists , satu dari sejumlah kelompok medis yang mengajukan gugatan lembaga terhadap pembatasan yang diberlakukan pada era pemerintahan Trump itu.

Penjabat FDA Dr. Janet Woodcock mengatakan FDA telah meneliti beberapa penelitian baru-baru itu, “yang tampaknya tidak menunjukkan peningkatan kekhawatiran atas ketenteraman yang serius” ketika hawa minum pil aborsi tanpa terlebih dahulu mendatangi wahana kesehatan dan mebahas risiko obat itu, termasuk daya pendarahan dalam.

Perubahan itu memuluskan tiang bagi perempuan yang mau mendapatkan resep pil aborsi – yang dikenal sebagai mifepristone – lewat telemedisin atau layanan konsultasi kesehatan jarak jauh dan kemudian menerima obat itu lewat pos.

Tetapi, mereka yang menentang aborsi telah mendorong aturan norma di sejumlah negara bagian yang dipimpin oleh gubernur dari Partai Republik, biar tidak mempermudah akses buat mendapatkan pil aborsi.

Obat aborsi telah tersedia di Amerika semenjak 2000 ketika FDA membenarkan penggunaan mifepristone. Sekitar 40 persen dari seluruh peristiwa aborsi di Amerika kini dilakukan lewat obat-obatan, dibanding lewat operasi. Opsi itu menjadi semakin penting ketika pandemi virus corona merebak

FDA tarikh lalu mencabut aturan yang mengharuskan mereka yang membutuhkan semua jenis obat buat menemui langsung dokter, termasuk untuk obat-obatan yang dikontrol ketat seperti methadone. Namun, FDA dan badan kesehatan yang memayunginya menilai kaidah itu tetap diperlukan untuk memastikan agar obat-obatan tersebut digunakan dengan aman. Petunjuk itu mewajibkan pasien buat mengambil pil mifepristone dalam rumah sakit, klinik atau kantor medis, dan mengesahkan formulir yang berisi bahan tentang potensi risiko obat-obatan itu.

Kelompok dokter kandungan dan ginekolog menuntut agar aturan tersebut diubah. Hal ini mendatangkan sejumlah putusan pengadilan dengan saling bertolak belakang. Yang terbaru, Mahkamah Agung dalam Januari lalu berpihak dalam pemerintah Trump dengan menetapkan kembali aturan sejak periode tentang cara mendapatkan obat-obatan itu secara langsung.

Dalam pernyataan dalam Selasa (13/4), kelompok dokter kandungan itu mengatakan persyaratan yang ditetapkan FDA supaya pasien bertemu langsung secara dokter menunjukkan “kesewenang-wenangan awak itu dan tidak bakal menambah keamanan atas obat-obatan yang sudah aman. ”

Namun, mereka yang menentang aborsi mengatakan langkah itu akan membahayakan kesehatan perempuan.

“Dengan langkah ini, negeri Biden telah menunjukkan kalau mereka lebih memprioritaskan pengguguran dibanding keselamatan perempuan, ” ujar Jeanne Mancini, pemimpin kelompok anti-aborsi March for Life. “Aborsi yang dilakukan secara kimiawi tetap membutuhkan lebih banyak pengawasan medis, bukannya berkurang. ”

Kebijakan FDA cuma berlaku saat kondisi genting kesehatan akibat pandemi virus corona. Kelompok dokter kandungan, ginekolog dan beberapa sistem medis lainnya mendorong biar aborsi lewat obat-obatan pasti dapat dilakukan secara permanen lewat resep yang diperoleh lewat pertemuan virtual atau online, sementara obat-obatannya dikirim melalui pos. [em/lt]