Amerika Upayakan Peran Keamanan Anyar di Asia Tengah

0
198

Masa Amerika menarik pasukan terakhirnya di Afghanistan, pemerintahan Biden mengamati Asia Tengah bertambah seksama dibanding kapan pula sejak awal tahun 2000-an, sebagai potensi lokasi peluncuran sisa operasi kontra-terorisme dalam wilayah itu.

Namun perencanaan operasi itu dipersulit oleh skeptimisme negeri2 ini terhadap Washington DC, yang oleh sebagian karakter di kawasan itu dipandang sebagai mitra yang tidak dapat diandalkan. Sementara Rusia dan China – dengan keduanya dinilai memainkan peran signifikan di Asia Pusat – hampir tidak jadi menyambut peningkatan kehadian tentara Amerika di wilayah yang mereka anggap sebagai “halaman belakang” mereka sendiri.

David Helvey, Penjabat Asisten Menteri Pertahanan Amerika Untuk Indo-Pasifik, berbicara kepada hadirin di simposium tahunan Global Taiwan Institute di Washington, DC, 11 September 2019. (Foto: VOA)

Penjabat Asisten Menteri Pertahanan Amerika Untuk Indo-Pasifik David Helvey pada 12 Mei lalu mengatakan pada Komite Angkatan Bersenjata DPR bahwa belum ada pengaturan secara negara-negara tetangga Afghanistan untuk mengijinkan keberadaan pasukan atau pengawasan oleh Amerika.

“Kami masih mempunyai kemampuan untuk melakukan penuntutan teroris dari berbagai situasi di sekitar kawasan tersebut. Memperkirakan apa yang hendak terjadi… merupakan bagian istimewa dari persamaan itu, ” ujar Helvey.

Helvey juga mengatakan pada Kongres bahwa Pentagon pantas melihat wilayah yang “lebih dekat ke Afghanistan” minus menyebut negara tertentu.

Sementara Panglima Instruksi Pusat Amerika, Jendral Marinir Kenneth McKenzie, mengkonfirmasi bahwa Washington sedang menjajaki opsi untuk menyimpan aset pada Asia Tengah guna menyikapi ancaman apapun.

“Kami belum memiliki perjanjian apapun, ” ujarnya di Kongres 20 April cerai-berai.

McKenzie menjelaskan bahwa Amerika membutuhkan platform intelijen, penjagaan dan pengintaian di daerah itu, yang dapat mencakup pesawat-pesawat besar berawak dan pesawat nirawak.

Departemen Luar Negeri Amerika, yang memimpin pembicaraan itu, mengatakan pada VOA bahwa Amerika sedang mereorganisir potongan kontra-terorismenya untuk mencegah munculnya kembali ancaman teroris.

Sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri Amerika menegaskan bahwa “negara-negara tetangga Afghanistan memahami kepentingan saya dalam hal mengatasi terorisme internasional, khususya ancaman dari ISIS dan Al Qaeda. ”

Amerika memiliki kerjasama militer dan perjanjian penggunaan wilayah udara untuk terbang dengan seluruh negara di Asia Tengah, kecuali Kyrgyzstan, yang berakhir tahun 2014 ketika Amerika menutup pangkalan udara pada Bishkek. [em/jm]