Masyarakat Uzbekistan Masih Tunggu Reformasi HAM

0
69

Dalam pidato utama pertamanya di sidang Molek Umum PBB tahun 2017, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev menjanjikan reformasi sistemik pada semua sektor. “Kami saya yakin bahwa bukan warga yang harus melayani negeri, tetapi pemerintah yang kudu melayani warga, ” ujar Mirziyoyev ketika itu.

Tetapi empat tarikh kemudian dan saat semakin dekatnya pemilihan presiden, para-para pembela hak asasi pribadi menyebut janji Mirziyoyev itu sebagai imajinasi. “Kabar baiknya adalah masalah dasarnya sudah diketahui, ” ujar Abdurakhmon Tashanov, Kepala Ezgulik Human Rights Society di Tashkent. “Mirziyoyev dan pemerintahannya menyungguhkan dan mengklaim akan mengatasi hal itu. Tapi inilah saatnya untuk langkah serta solusi nyata. ”

Ezgulik, sebuah sistem akar rumput yang independen, memiliki lebih dari dua. 000 pendukung di seluruh Uzbekistan. Sebagian besar berdiam Ezgulik didanai oleh Swedia dan donatur Barat yang lain. Selama tiga puluh tahun Ezgulik telah memantau penjara-penjara dan mempelopori perjuangan untuk membebaskan tahanan politik.

Pemerintah Uzbekistan, dengan mencurigai dukungan pihak aneh pada Ezgulik, telah memeriksa dengan cermat aktivitasnya. Namun Tashanov kini duduk pada beberapa dewan yang membawabawa aktor pemerintah dan non-pemerintah. Aktivitas Ezgulik juga diliput luas media Uzbekistan.

Sekelompok aktivis sah asasi manusia Uzbek berdemonstrasi di ibu kota Uzbekistan, Tashkent, 20 Desember 2007. (Foto: REUTERS/Maria Golovnina)

HAM Kini Dibahas Terbuka

Terlepas dari beberapa transisi yang terjadi pasca maut Islam Karimov tahun 2016, Tashanov melihat adanya sisa sistem pemerintahan otoriter, termasuk paranoia. Kemajuan utama yang ada, ujar Tashanov, adalah publik kini membahas dengan terbuka isu-isu hak pokok manusia.

“Anda ingin solusi? ” tanya Tashanov. “Jaga hak-hak rakyat dan ikuti rekomendasi universal dan lokal. Liberalisasi bermanfaat mempercayai masyarakat sipil. Kita perlu menciptakan sistem hak asasi manusia yang tak hanya bersifat pemerintahan. Saya akan membantu, ” ujarnya.

Ditambahkannya, para-para aktivis tidak pernah menghadapkan perkembangan linier. “Pemerintah pasti takut kehilangan kendali serta berusaha mencari keseimbangan. Namun sejauh ini belum, pertama dalam hal kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan kebebasan politik. ”

Tashanov mengamati bahwa negeri sedang mencermati dengan seksama pergolakan di Kyrgyzstan, Belarusia dan Ukraina; dan “khawatir hal serupa dapat berlaku di Uzbekistan. ” [em/pp]