TNI-Polri Terus Kejar Kelompok Teroris MIT ke Hutan Pegunungan Poso

0
64

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Komisaris Tinggi Didik Supranoto mengatakan Dasar Tugas (Satgas) Madago Awam terus melakukan pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga ke hutan-hutan di pegunungan Poso. Gabungan yang berjumlah sembilan karakter itu saat ini sudah berpencar menjadi dua gabungan.

Menurut Didik, kelompok pertama berjumlah empat orang dan dipimpin Ali Kalora, sementara kelompok ke-2 berjumlah lima dan karakter dipimpin Qatar. Kelompok kedua inilah yang melakukan pembunuhan terhadap empat petani kopi, warga desa Kalemago Lore Timur pada 11 Mei 2021.

Kesibukan Personel TNI POLRI pada Pos Komando Taktis Satgas Operasi Madago Raya dalam desa Tokorondo, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Sedang. Selasa (12/1/2021) Foto: Yoanes Litha

“Kemudian ke mana mereka, ini tentu tim operasi yang lebih tahu. Tapi yang jelas, sekarang ini tim mengoptimalkan kegiatannya untuk melakukan pengejaran di dua kelompok tersebut. Jadi personel yang tergabung dalam Madago Raya tersebut kita optimalkan untuk menyelenggarakan tugasnya” jelas Didik Supranoto di Mapolda Sulteng, Kamis (20/5).

Ditambahkan Didik, selain melakukan pengejaran ke dalam hutan, Satgas Madago Raya juga melaksanakan penyekatan di lokasi-lokasi dengan diduga menjadi jalur pergerakan kelompok itu. MIT diduga mencari logistik bahan makanan di perkebunan milik warga di sekitar kaki gunung di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

“Kemudian daripada Polres-Polres ini juga melangsungkan monitor di wilayah lembah, di perkampungannya. Jadi saya harapkan masyarakat tidak terlalu takut. Silakan untuk melayani kegiatannya di perkebunan, persawahan atau ladang mereka, ” kata Didik seraya memasukkan belum ada rencana penggandaan perkuatan personel Madago Umum yang dikerahkan untuk berkempul-kempul kelompok MIT.

Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rabu (12/5/2021) Foto: Yoanes Litha

Masyarakat Masih Trauma

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Objek (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengatakan dari pemantauan pihaknya, warga di desa Kalemago masih merasakan trauma sesudah empat warga di daerah itu menjadi korban golongan MIT. Menurutnya, warga dalam desa itu berharap pemerintah dapat memperbaiki saluran tali air agar warga juga dapat mengolah sawah sehingga mereka memiliki alternatif sumber pekerjaan selain kegiatan berladang berkebun di sekitar lereng gunung.

“Salah satu yang kami sampaikan pada Bupati Poso agar menolong adanya irigasi di daerah perkampungan Kalemago, agar mereka bisa melakukan kegiatan perekonomian selain berladang juga merodok sawah, ” kata Edwin Partogi Pasaribu dihubungi sebab Palu, Jumat (21/5).

LPSK bersama perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, Selasa (18/5), berziarah ke makam empat warga desa Kalemago yang menjadi korban kelompok MIT. Kehadiran LPSK dimaksudkan buat memberikan dukungan moril maupun materiil. LPSK juga memberikan santunan kepada perwakilan anak korban yang penyerahannya dilakukan di Polda Sulteng.

Edwin berharap kaum MIT dapat menyerahkan muncul kepada aparat keamanan sehingga dapat mengakhiri kekerasan di Sulawesi Tengah.

“Mereka (MIT) bisa tepat ke aparat penegak patokan atau juga menghubungi LPSK untuk kami fasilitasi penyerahan dirinya agar kekhawatiran mereka diperlakukan secara kasar tidak terjadi, ” ungkap Edwin.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi & Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu dan perwakilan Institusi Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, berkunjung ke makam empat objek serangan terorisme di Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso. Se

Penyelesaian Secepatnya

Sahir Sampeali, Tokoh Bangsa Tampo (Tanah) Lore dalam Kabupaten Poso, menegaskan keinginan masyarakat agar masalah provokasi keamanan yang disebabkan sebab kelompok MIT dapat lekas tuntas untuk memulihkan mengalami aman masyarakat setempat.

“Yang paling saya rasakan adalah rasa tak aman, tidak pernah merasakan keamanan. Satu contoh, kami pribadi seorang muslim yang hidup di wilayah Lore, yang hidup di daerah jalan antara Poso serta Lore, Saya seorang muslim, saya juga merasakan ketidakamanan, apalagi dengan saudara-saudara hamba yang kristiani, coba mampu dibayangkan itu, ” membuka Sahir Sampeali, Senin (17/5).

Ditambahkannya, kesibukan teror oleh MIT turut berdampak pada perekonomian masyarakat yang takut mengolah lahan kebun di lereng bukit biru karena khawatir dengan keselamatan mereka bila sewaktu-waktu bertemu dengan kelompok itu. [yl/ah]