Belum Ada Keputusan Turki untuk Bandara Kabul

0
54

Gajah pertahanan Turki mengatakan, Jumat (2/7), negosiasi mengenai proposal negaranya untuk mengoperasikan serta mengamankan bandara internasional pokok di Afghanistan sedang berlangsung. Menteri Pertahanan Hulusi Pokok mengatakan Turki sedang mendiskusikan rencana tersebut dengan kurang negara. “Harus ada kira-kira keputusan politik di PBB dan NATO, dan suara harus dicapai dengan pemerintah Afghanistan, ” katanya, menambahkan bahwa Turki sedang membongkar-bongkar dukungan politik, keuangan dan logistik dari berbagai negeri. Ia menekankan bahwa keputusan akhir belum tercapai, tetapi negosiasi dengan Amerika Serikat terus berlanjut dan agenda itu akan dieksekusi setelah mendapat persetujuan presiden Turki. Awal musim panas tersebut, Turki mengusulkan untuk mengoperasikan dan memberikan keamanan buat Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul setelah AS menjadikan pasukannya dari Afghanistan. Presiden Recep Tayyip Erdogan membahasnya dengan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan tatap muka pertama mereka pada KTT NATO pertengahan Juni lalu. Kesepakatan tentang perlindungan bandara itu menjadi semakin mendesak seiring hampir usainya penarikan terakhir dari 2. 500-3. 500 tentara AS dan 76. 000 tentara yang lain yang tergabung dengan NATO. Jumat ini (2/7), semua pasukan AS meninggalkan Pelabuhan udara Bagram setelah 20 tarikh berada di Afghanistan. Pelabuhan udara tersebut telah menjadi sentral operasi militer di segenap Afghanistan untuk mengalahkan Taliban dan memburu para pelaku serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat oleh al-Qaida. Turki, dengan juga anggota NATO, mempunyai lebih dari 500 prajurit di Afghanistan dan telah memainkan peran penting pada Bandara Hamid Karzai. Kausa sebelumnya mengatakan Turki tidak memiliki rencana untuk mengerahkan lebih banyak pasukan di Afghanistan. “Bandara harus dibuka dan beroperasi. Jika bandara tidak berfungsi, kedutaan-kedutaan hendak ditutup, dan dalam status seperti itu, Afghanistan hendak menjadi negara yang terasing, ” kata menteri pertahanan itu. Tanpa kesepakatan terbelah mengenai bandara itu, pelaksanaan Bandara Hamid Karzai saat ini harus dipertahankan di bawah Misi Dukungan Kasar (RSM), yang merupakan urusan militer pimpinan AS era ini. Sebelum ada kesepakatan itu, tidak jelas apakah AS dan NATO dapat menyatakan misi militer itu di Afghanistan berakhir. “Kami telah menyatakan niat ana. Kami katakan bahwa ana bisa tetap berada pada Afghanistan jika persyaratan terpenuhi, ” kata Akar. Maklumat menteri itu dilaporkan jawatan berita pemerintah Turki, Anadolu. [ab/uh] Â